Sabtu, 09 Maret 2013

Becoming a Work At Home Mom (WAHM)-The Journey Begins...



“Saya ingin berbagi pengalaman ini, yang mungkin bisa berguna untuk para mama lain yang punya situasi sama :) "

 Work At Home Mom -The Journey Begins...

 This is quite a difficult decision, honestly…

Setelah hampir empat tahun bekerja kantoran, full-time, akhirnya, bulan Februari lalu saya resmi mengundurkan diri dari Marketing Communication and Business Development position di sebuah firma hukum asing yang bergerak di bidang HKI – Hak Kekayaan Intelektual. Berat rasanya, bukan hanya karena saya sudah terbiasa memiliki penghasilan sendiri yang cukup besar, tapi juga meninggalkan teman-teman kerja yang sudah sangat dekat, sebagian dari mereka bahkan sudah seperti keluarga. Tapi, setiap keputusan besar kadang memerlukan pengorbanan. Saat mengingat bahwa tujuan utama saya berhenti bekerja kantoran adalah demi suami dan tiga buah hati di rumah, terutama dua anak yang mulai besar dan perlu didampingi tidak hanya secara fisik tapi juga secara  emosional, rasanya semua terbayarkan. Tidak ada lagi ketakutan berlebih saat membayangkan saya tidak akan punya penghasilan tetap lagi setelah ini, pun tunjangan kesehatan, I’ll figure it out…later..
source: pinterest
Nekat? Tidak juga. Saya sudah berdiskusi dengan suami dan memikirkan ini semua masak-masak. Saya merasa punya banyak keahlian yang secara umum bisa saya kerjakan dari rumah, menulis skenario, artikel, konsep program televisi, dll; menjadi konsultan PR; guru bahasa Indonesia untuk orang asing, dst. Lagipula, ternyata perusahaan saya masih meminta bantuan saya untuk bekerja part-time sesudah saya resign, Selasa sampai Kamis sampai tiga bulan ke depan, dengan benefit yang kurang lebih sama. Alhamdulillah…

Saya tahu semua ini tidak akan mudah, belum apa-apa saja, saya sudah dipusingkan dengan ‘bagaimana caranya bisa kerja di rumah kalau anak-anak selalu ‘mengerubungi’ saya saat saya sedang di depan komputer?’, yang batita malah menolak diurus oleh mbak-nya, maunya saya yang meladeni dia seharian, ge-er sih, tapi saya tetap butuh waktu untuk bekerja. Saat mengerjakan proyek pertama saya sebagai seorang freelancer untuk sebuah perusahaan di Singapur (sebenarnya ini klien suami saya. Saat mereka tahu saya sudah resign, mereka jg nawarin proyek dan saya harus rela tidur pagi selama hampir seminggu karena hampir tidak bisa bekerja di siang hari. Mungkin anak-anak masih norak karena bisanya saya kan seharian tidak di rumah, jadi saat weekdays dan saya di rumah, mereka berebut mencari perhatian saya..ooo… *ini artinya, proyek berikutnya adalah merenovasi home office saya agar lebih nyaman, layak buat bekerja, dan minim gangguan*

my favorite children..

Brainstorming Process...

Saat memikirkan untuk berhenti kerja kantoran, saya melakukan brainstorming dengan suami saya mengenai apa saja yang bisa saya kerjakan dari rumah. Below are some of our ideas:

  • Scriptwriter: saya sudah melakukan ini bahkan sejak saya masih di bangku kuliah 14 tahun yang lalu, jadi harusnya ini bisa saya lakukan lagi. Namun yang harus dipikirkan adalah, saya sudah lama vakum dan sudah tidak memiliki banyak koneksi lagi di bidang ini, jadi saya tidak berharap akan langsung bisa bekerja lagi di bidang penulisan skenario ini.
  • PR Consultant: i can say that I am a social media savvy, I love marketing communication and PR related things. Jadi suami saya berpikir bahwa saya jangan sampai meninggalkan hal ini. So, jadi konsultan PR adalah salah satu opsi yang bagus karena tidak semua perusahaan punya PR officer, jadi untuk kasus-kasus tertentu, mereka akan membutuhkan jasa konsultan PR. Tinggal bagaimana caranya mencari calon klien…pfiuhhh..rencana yang sempurna dengan realisasi yang cukup sulit… 
  • Novel writer: For me, this is the easiest and the hardest work at the same time. Jadi penulis novel adalah cita-cita saya sejak dulu, but honestly, I never finished one. Ada puluhan cerita setengah jadi menumpuk di hardisk saya. Tidak pernah selesai meski pun beberapa orang sudah membaca dan bilang bahwa tulisan itu sangat bagus. Dan saya tahu masalahnya. Saya hanya bisa menulis jika ada proyek dari orang lain, seperti menulis skenario misalnya, tapi saat saya menulis novel untuk hobi dan tidak ada tenggat waktu, ya itulah jadinya, tidak pernah selesai. Jadi, bagi saya ini pekerjaan yang kurang cocok untuk menghasilkan uang, kecuali saya mulai menyikapinya dengan serius, disiplin dan menganggap ini sebagai pekerjaan utama saya. Semangat! 
  • Bahasa Indonesia Tutor for Expat: Saya sudah melakukan ini lebih dari tujuh tahun. Harusnya saya bisa fokus mengajar lagi setelah tidak bekerja kantoran. Ya, saya akan menerima murid lagi, tapi mungkin tidak akan banyak, karena pada intinya, saya ingin lebih banyak di rumah. 
  • Maid Service: Karena terlalu seringnya saya mendengar keluhan orang mengenai sulitnya mencari asisten rumah tangga, dan banyak kenalan minta saran atau bantuan saya untuk mencari asisten rumah tangga sebagus yang bekerja dan pernah bekerja di rumah saya (thank you Eni and Mimi!). Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya belum berani karena modal dan tanggungjawab yang besar. Saya maunya, kalau jadi penyalur, calon ART itu saya didik dulu, kursusin ini itu yang akan bikin calon ART siap kerja dan dibayar dengan layak bahkan lebih. Mungkin rencana ini disimpan dulu deh…
  • Online Shop - Zata's girly things project: Sebenarnya ini hanya proyek hobi, jadi kemungkinan untuk menghasilkan uang yang cukup sepertinya belum bisa kalau hanya mengandalkan jualan tas dan aksesorisnya ini. Mungkin sambil jalan aja..

Ok, nanti lanjut lagi deh. In the meantime, ada yang mau share tentang pengalaman yang sama? Ide pekerjaan apa yang cocok untuk ibu yang mau bekerja dari rumah?
share

0 komentar:

Poskan Komentar