Sabtu, 01 Juni 2013

Kisah sedih 3 tahun lalu...

Tiap orang punya kisah sedihnya masing-masing. Kisah-kisah sedih gw adalah saat gw kehilangan bokap gw, saat gw kehilangan kakak laki-laki gw dengan cara yang cukup tragis dan pelayanan RS yang lambat karena kakak gw gak punya asuransi dan kurang secara ekonomi.  Menjelang liburan sekolah bulan depan, tiba2 gw teringat satu kisah sedih lainnya. Mungkin karena habis membaca salah satu artikel di theurbanmamama.com tentang kisah sedihnya Ratihjanis.

Kisah Ratih sedihhhh banget, dia harus kehilangan Arka, anaknya, tapi dia tabah dan sabar banget, salut sama dia. Kisah gw bukan tentang kehilangan, tapi tentang perasaan takut kehilangan saat anaknya mengalami kecelakaan yang gw yakin banyak dialami orangtua lainnya di luar sana.. Cerita gw hanya setitik kecil dari cerita2 sejenis lainnya...

abang Kenan sekarang, sudah pede dng scars-nya :)
Tiga tahun lalu, saat liburan sekolah, Kenan dan Caca senengggg banget karena keluarga besar kami akan menginap di Putri Duyung Cottage untuk beberapa hari. 

Ken (baju biru) dan seorang sepupunya saat liburan thn 2010
Semua berjalan dengan sempurna, hingga hari ke dua, saat karena saking semangatnya, malam hari Ken berlari ke arah kamar sebelah (kami menyewa dua kamar) dengan penuh semangat dan dia tidak memperhatikan kalau ternyata pintu masih tertutup, namun karena pintu terbuat dari kaca setebal lima mili dan suasana di dalam ruangan terang benderang, dia nggak 'ngeh' kalau pintu dalam keadaan tertutup. Alhasil, "PRANG!" terdengar suara yang sangat keras dari luar. 

Gw yang keluarga lain lagi asik ngobrol di sebelah, kami hanya pikir itu suara kucing atau apa pun. Tapi nggak tau kenapa gw berlari keluar dan gw ngeliat si abang menunduk sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Dari sela2 jarinya menetes atau lebih tepatnya mengalir darah segar dan jatuh ke lantai yang sudah digenangi darah yang buat gw banyak banget (mungkin kayak ukuran 1 botol mineral water uk 250cc tumpah). 


ceria bersama sepupunya, Ifa, bbrp jam sebelum kejadian.
Bodohnya, gw panik dan ngga berani nge-cek muka dia karena gw takut muka dia atau apa pun luka dia kalo kena tangan gw malah akan memperparah keadaannya. Gw cuma meluk dia dari belakang sambil meraung2 histeris, bukannya manggil bala bantuan tapi malah nangis2 dan ngomong "abang kenapa???, abang kenapaa???." Selang beberapa detik, keluarga gw berhamburan keluar, suami gw langsung ngambil handuk, kasih ke Ken dan minta dia nutup mukanya dengan handuk itu. Caca yang waktu itu masih umur 5 tahun hanya melongo sedih melihat sekumpulan orang bolak-balik ngurusin abangnya sementara gw, nyokap gw, serta saudara cewek lain malah sibuk nangis2 ngga jelas, horor ngeliat genangan darah dan situasi yang ngga jelas karena kami ngga tau apa yang terjadi dengan wajahnya, ngga bisa lihat lukanya, karena seluruh mukanya dipenuhi darah dan Ken harus terus menutupi wajahnya dengan handuk agar darah nggak mengalir makin deras. 

Satu ipar laki-laki langsung menghubungi sekuriti cottage dan dengan sigap mereka langsung mengambil mobil dan membawa kami ke rumah sakit terdekat. Yang menyetir dan mengantar adalah sekuriti cottage, gw dan suami bahkan udah nggak 'ngeh' sama jalanan. Abang Kenan gw pangku, sambil gw peluk, gw nanya dia, "bang, mata kamu kena ngga?" dia cuma jawab pelan "nggak, tau ma," aduh lemesss banget, gw takut dia buta, gw takut dia kenapa2. Gw tanya lagi, "tapi mata kamu sakit ngga?," dia menggeleng dan itu sangat melegakan gw. Perjalanan dari cottage ke rumah sakit terasa sangggggaaaat lama. Gw takut Ken kehabisan darah, gw takut kalau ada apa2 dengan mata atau wajahnya akan semakin sulit diobati kalau kelamaan. 

Akhirnya sampailah kami di rumah sakit terdekat. Ken di bawa ke UGD dan langsung ditangani dengan baik. Barulah ketahuan, bahwa ada luka belah memanjang di pipi kanannya yang kata suami gw bentuknya seperti sosis yang dibelah ditengah dan digoreng hingga mengembang (coak gitu) dan yang juga cukup parah, ada daging yang hilang tepat di hidungnya yang tidak bisa diapa2kan selain dioperasi pelastik. Ya Allah..gw lemes sekaligus lega. Lemes karena sedih dan kasihan sama abang dan lega karena hal itu tidak mengancam nyawanya.

keluar dari UGD dng jahitan sementara yg msh kasar
Saat ia dijahit, gw ngga berani ngeliat sama sekali. Gw cuma berdiri di dekat kakinya sambil memijat2 kakinya yang dingin. Suami gw ngedampingin dia, ngajak ngobrol da becanda. Dokternya juga asik, bikin tenang. Bahkan sempat bercanda "wah?! kamu kuat banget! nabrak kaca 5 mili malah kacanya yang pecah, belum lama ada pasien laki2 dewasa pingsan karena nabrak kaca lima mili di bank karena buru2 mau keluar ngejar taxi" Kenan sempet ketawa kecil denger ceritanya si dokter.

Sambil nemenin proses ngurusin lukanya yang lumayan lama, gw ngga berhenti berdoa memohon kemudahan. Setelah dibius dia langsung dijahit, tapi kelihatan banget bahwa dia merasakan sakit, terlihat dari ringisan di wajahnya setiap kali jarum dan benang mengenai kulitnya (kata suami gw, karena gw gak berani liat). Terasaaaa banget Kenan berusaha menenangkan hati gw dan suami dengan bilang bahwa itu ngga sakit, namun ditengah2 proses dijahit dia bilang gini ke suami gw "ayah..boleh istirahat dulu ngga sebentar?," dan suami gw minta dokter untuk menghentikan dulu proses ngejahitnya karena itu artinya Kenan udah bener2 cape nahan rasa sakit. Beberapa jam kemudian 36 jahitan di pipi dan beberapa jahitan di jidat, telingan dan tangannya selesai. Gw lega meski pun ini belum berakhir.


Habis dari UGD ternyata kami ngga direkomen untuk stay di RS itu karena mereka ngga punya layanan operasi pelastik, jadi sementara yang dihidung ditutup dulu pake jaring2 gitu (lupa namanya) dan akhirnya tengah malem itu kami muter2 cari RS lain untuk abang, yang ada dokter spesialis bedah kosmetik, agar bekas lukanya bisa diperbaiki. Kami mampir ke RS Pondok Indah, ngga dapet kamar, akhirnya ke Depok sekalian, di RS Mitra Keluarga.

Ada kejadian mengharukan saat dia hendak masuk ruang operasi.  Untuk operasi plastik di hidung serta memperbaiki jahitan sementara di pipinya, ia harus dibius total, dan pemikirannya sebagai anak tujuh tahun cukup membuat gw dan suami meneteskan airmata. Saat dijahit dan terlihat kesakitan, dia kelihatan sangat kuat dan tabah, tak sekali pun dia menangis, namun saat sudah memakai baju operasi, tiba2 dia menitikkan airmata dan bilang "aku takut habis dibius nanti ngga kebangun lagi dan ngga bisa lihat mama dan ayah lagi" wuaaa..meski pun pengen nangis bombay, gw langsung senyum dan bilang bahwa dia akan sadar dan secepatnya melihat kami.

Caca dorong abang di RS
Singkat cerita, semua berjalan dengan lancar meski pun ada beberapa kendala yang harus dihadapi. Secara luka fisik, dia sembuh, tapi setelah beberapa tahun, ternyata luka fisik yang belum hilang itu membawa beberapa masalah baru yang alhamdulillah bisa dilewati juga. I will tell you the story in next time ya.. Tapi intinya, kejadian tersebut adalah pengalaman menyedihkan sekaligus pembelajaran yang sangat berharga buat gw, suami gw, abang Kenan dan yang lainnya.

Gw bahkan belajar dari abang bahwa sangat penting untuk tetap terlihat kuat demi menenangkan keluarga yang lainnya. Gw malu, saat kejadian gw cuma bisa histeris, malah bikin panik Caca , bikin panik nyokap, dll, padahal abang yang harus melewati banyak rasa sakit secara fisik dan mental, tetap berusaha kelihatan kuat biar gw ngga sedih.. ahh...makasih abang Ken...

******