Kamis, 27 Februari 2014

When Will We Stop Judging Each Other?

WM vs SAHM. sumber gbr: bing.com

Sekitar dua minggu yang lalu saya reunian bareng beberapa teman lama, memang bukan teman dekat sekali, tapi kami masih keep in touch lewat sosial media selama ini, jadi saat akhirnya ketemu lagi, seru banget, maklum sudah ibu-ibu semua, yang dibicarakan tidak jauh dari body issue, si A makin langsing aja, ya?, si C kok sekarang beda, ya?, dst, dst,  dan topik yang selalu menjadi favorit kami para ibu, yaitu keluarga, terutama anak-anak.

Saat obrolan tentang anak-anak tengah berlangsung, seorang teman curhat tentang sulitnya mendapat ART yang cocok sementara ia harus bekerja kantoran dan hal itu tentu saja sangat mempengaruhi konsentrasinya selama  di kantor. Sesama ibu bekerja lainnya saling memberi  tips mengatasi hal tersebut, sedangkan bagi teman yang kebetulan bekerja dari rumah turut bersimpati dengan masalah tersebut. Namun ditengah-tengah perbincangan itu, saya tersentak saat seorang teman, sebut saja M berujar, “duhh.., gw sih paling nggak bisa ngebiarin anak-anak gw diurus sama ART. Mau jadi apa coba anak-anak yang nggak diurus langsung sama ibunya?”

Zinggggg…..

Tiba-tiba suasana jadi hening, semua terdiam, tidak juga ingin menyalahkan teman kami yang tiba-tiba kembali keceplosan tentang pemikirannya mengenai bagaimana ibu ideal bagi dirinya dan keluarganya, tapi kami seperti kehilangan kata untuk mengomentari ucapannya tersebut.

Saya tidak ingin menceritakan tentang kelanjutan situasi di atas karena sudah bisa dibayangkan betapa akward-nya perbincangan berlangsung. Ada yang jelas-jelas menunjukan ketersinggungannya, ada yang berusaha netral, dan akhirnya kami putuskan untuk mengganti topik pembicaraan saja.  Yang ingin saya ceritakan adalah kenapa saya menggunakan kata ‘kembali’ dalam kalimat “…teman kami yang tiba-tiba kembali keceplosan tentang pemikirannya mengenai bagaimana ibu ideal bagi dirinya..” Ya, saat itu memang bukan pertama kalinya ia mengutarakan pendapatnya mengenai ibu ideal versi dirinya yang bikin gerah banyak teman dan kenalan.  Suatu kali di status akun sosialnya ia berkata, “lagi nganter kaka ke sekolah nih,” dan mem-posting foto tentunya. Lain kali ia memasang foto profil di blackberry messenger-nya memperlihatkan dirinya yang sedang di salon dan menulis “nikmatnya nyalon sambil nungguin si kaka sekolah.” Okay, saya suka status-statusnya, I envy her, in a positive way, of course,  karena saya juga ingin seperti dirinya, punya begitu banyak waktu untuk dihabiskan bersama anak-anaknya.  Hingga suatu hari, saya berhenti menyukai status-statusnya, bahkan mulai merasa terintimidasi melihat postingan foto dan status-nya yang menghujani timeline saya.  Hari itu ia men-tag dirinya yang sedang berada di sebuah RS, sedang menjenguk anak temannya yang sakit. “Alhamdulillah gw bisa selalu ngejaga anak2 gw. Kasian aja sama anak2 yg sering ditinggal sama ibunya kayak gini,”  tulisnya sebagai status. Darah saya rasanya mendidih.  Jadi, maksud dia, anak temannya yang sakit itu adalah akibat sering ditinggal oleh si teman yang kebetulan adalah wanita kantoran?. Jadi dia pikir ibu bekerja alias working mom (WM) tidak menjaga anak-anaknya dengan baik?. Rasanya saya ingin segera berkomentar di statusnya, “trus kalo’ si kaka kemarin-kemarin masuk rumah sakit, itu karena apa, dong?, kan situ nggak pernah ninggalin anak2 untuk kerja?.” Duhh.., untung saja saya masih berpikir logis dan bisa menahan diri untuk tidak memencet tuts telepon genggam saya, kalau tidak saya pasti sudah menyesalinya karena saya tahu itu hanya emosi sesaat.

"...ada yang perlu di garisbawahi, saya tidak pernah menyesal saat saya sedang menjadi SAHM atau pun saat saya sedang menjadi WM. Saya sangat menikmati kedua kondisi itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya..."


Okay, cukup cerita tentang si M ini. Sebagai ibu yang bekerja kantoran, meski pun tidak lagi full-time alias hanya seminggu 3x saja, saya beberapa kali  merasa terintimidasi dengan penilaian ibu lainnya mengenai saya. Namun, saya juga ingat, saat saya sedang tidak bekerja dan menjadi Stay At Home Mom (SAHM),  saya juga kerap kali merasa sebal dengan anggapan beberapa kenalan yang kebetulan adalah ibu bekerja, yang menganggap bahwa SAHM itu biasanya kurang apdet, kurang pede, tidak bisa banyak memutuskan soal keuangan karena tidak punya penghasilan sendiri, dll, dst. Bahkan saat sedang kumpul-kumpul, seringkali saya merasa ‘tertinggal’ mendengarkan obrolan mereka yang sepertinya jauh dari dunia saya sehari-hari. Tapi ada yang perlu di garisbawahi, saya tidak pernah menyesal saat saya sedang menjadi SAHM atau pun saat saya sedang menjadi WM. Saya sangat menikmati kedua kondisi itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya, apalagi saat ini, saat saya bekerja kantoran namun juga tetap bisa punya waktu bersama anak-anak, rasanya saya sudah memiliki segalanya. Poin penting untuk saya adalah, saat suami dan anak-anak merestui dan mendukung apa yang saya pilih, saya akan selalu menjadi ibu dan istri yang paling bahagia.

Saat pikiran saya sedang dipenuhi oleh isu SAHM dan WM ini, kebetulan sekali saya menemukan artikel ini  di internet dan saya sangat setuju dengan pendapat si penulis yang kurang lebih mengatakan, apa pun yang kita pilih, mengejar karir atau pun memilih membesarkan anak di rumah, semua terserah kita dan semua pilihan itu setara, tidak ada yang lebih tinggi atau pun lebih rendah. Sooo true..

Thread tentang ibu bekerja kantoran mau pun ibu bekerja dari rumah yang ada di theurbanmama.com juga selalu menjadi sumber inspirasi bagi saya. Membaca dan berbagi tips mengenai jadwal harian working mom, curhat mengenai dilema working mama, bahkan berbagi mengenai bagaimana cara mendapatkan penghasilan tambahan bagi SAHM, pun ada di situ. Cukup meringankan dan menceriakan hari-hari saya sebagai ibu rumah tangga sekaligus ibu bekerja. Mungkin dengan banyak membaca dan berbagi, sesama ibu, baik SAHM dan WM bisa lebih bisa saling mengerti dan mendukung :)

gbr dari sini

Semua ibu yang melimpahkan kasih sayangnya untuk anak-anak dan keluarganya, entah SAHM atau pun WM selalu menjadi super mom di mata saya, yang selalu memberi saya inspirasi untuk menjadi ibu sebaik mereka, sebaik kalian, ... so, please, stop judging each other, we are all equal...

Jumat, 14 Februari 2014

Tips Nge-blog untuk Mama Blogger

gbr dari sini
Sebagai seorang mama tentu saja kita sangat sibuk mengurus keluarga, terutama anak-anak, belum lagi harus bekerja dari rumah mau pun bekerja di kantor, padahal nge-blog buat para mama yang hobi menulis kadang bikin candu dan harus tetap dijalani.


Berikut beberapa tips yang mungkin bisa dilakukan agar tetap bisa eksis nge-blog tanpa mengganggu urusan rumah tangga dan pekerjaan.

  • Jadwalkan waktu khusus. Biasanya saya akan menjadwalkan pagi hari -setelah anak-anak berangkat sekolah dan sebelum saya berangkat ke kantor- untuk nge-blog. Jika tulisan saya belum selesai, saya akan menyimpannya di draft dan akan saya teruskan keesokan paginya. Kadang, jika sangat ingin dan memang tidak mengganggu aktivitas lainnya, saya akan meneruskan nge-blog pada malam hari, sepulang kerja dan saat anak-anak sudah tidur.
  • Siapkan tempat yang nyaman. Sama halnya seperti bekerja, untuk nge-blog yang efektif bagi para mama adalah dengan menyiapkan ruang khusus yang aman dari gangguan. Tempat khusus tersebut bisa saja ruang kerja, ruang tamu, dll. 
ini sudut kesukaan saya saat nge-blog
  • Buat daftar topik. Artinya, siapkan topik-topik menarik apa saja yang hendak kita tulis. Hal ini akan sangat membantu kita dalam menulis blog secara produktif namun tidak menguras terlalu banyak waktu untuk memikirkan topik yang bagus saat akan mulai menulis. Biasanya saya akan menuliskan ide-ide yang tercetus di notes di dalam smartphone saya.
  • Jadikan keseharian sebagai topik dalam blog kita. Tentunya apa yang kita alami sendiri akan lebih mudah untuk kita tuangkan dalam tulisan, kan?. Entah soal anak, soal pendidikan, tips di kantor, resep masakan, dan lain sebagainya.
  • Manfaatkan waktu macet. Saya memanfaatkan waktu terjebak macet dengan membuat draft tulisan untuk blog saya. Jadi saat duduk di depan komputer untuk menulis, saya bisa dengan cepat menyelesaikan artikel-artikel tersebut.

Quiet Book Tutorial

Saya sukaaa banget sama kain flanel, rasanya bisa dibikin jadi apa aja yang lucu-lucu. Kebetulan belum lama ini baru selesai membuat quiet book atau dikenal juga sebagai activity book untuk kado anak teman dekat saya. Berikut tutorialnya...


Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat quiet book adalah:
  1. Kain flanel dan kain perca motif apa saja
  2. Benang wol jika diperlukan
  3. Jarum
  4. Gunting
  5. Pita aneka warna
  6. Lem
  7. Benang sulam

Langkah pertama: Buat Pola. Sebagai contoh, saat saya ingin membuat halaman quiet book yang bergambar tas ransel, saya membuat pola ransel.


Langkah kedua: Gunting pola, badan ransel dan kantong ransel.


Langkah ketiga: Potong kain flanel sesuai pola dan tumpukan seperti di gambar.


Langkah keempat: Jahit kantong ransel di atas badan ransel menggunakan benang wol tipis atau benang sulam.


Langkah kelima: Setelah kantong selesai, jahit badan ransel ke kain bermotif.


Langkah keenam: Buat gantungan tas dan jahit di atas badan tas, menempel di kain bermotif.



Setelah selesai menjahit badan ransel ke kain bermotif, tempelkan kain bermotif tersebut ke halaman quiet book yang juga terbuat dari kain flanel. Langkah-langkah yang sama bisa dilakukan untuk gambar-gambar lainnya seperti mobil, sepatu, dll.


Selamat mencoba!

Senin, 03 Februari 2014

Healthy Family Talk Show...

Hari Sabtu tanggal 25 Januari lalu theurbanmama.com mengadakan talk show bertema healthy family di fx Sudirman. Ada Ligwina Hananto, CEO QM Financial yang berbicara tentang "Sudah siapkah dana untuk anakku?," ada Fitness First yang berbagi mengenai tips olahraga sehat bagi para mama, Casa Elana yang menghadirkan fashion show baju ibu menyusui, dan ELC yang menceriakan hari para urban kids dengan lomba face painting berhadiah seruuu.. Minilovebites juga hadir dengan cupcakesnya yang enak lhoo...

Ini dia foto-fotonya..

Ligwina dari QM Financial dan Yardian dari TUM sebagai moderator
cupcakes ulang tahun dari Minilovebites
peserta lomba face painting dari ELC
fashion show baju menyusui dari Casa Elana