Jumat, 25 September 2015

"Kok, anaknya nggak mau sekolah?"

Itu baru kalimat pertama dari seorang ibu -yang anaknya pernah satu sekolah dengan si bungsu- saat kami bertemu di depan komplek saat membeli siomay. Kalimat berikutnya adalah, "kalau anak saya suka banget sekolah, mandiri banget, nggak nangis kalau ditinggal. Mungkin mamanya kurang gigih, nih, atau anaknya memang belum siap mental ya gabung sama anak-anak lain. Nggak apa-apa, ya, Sabil, nanti juga bisa, kok," ujar si ibu dengan simpatik sambil mengelus kepala si bungsu. Saya hanya mesem-mesem. Saya berusaha menganggap ucapannya sebagai bentuk dukungan, bukan kritikan, apalagi celaan...

Itu bukan kali pertama saya mendengarkan kalimat serupa, beberapa minggu sebelumnya bahkan tak bisa saya pungkiri bahwa saya tersinggung dan sedih meski pun respon saya saat itu hanya tersenyum dan berkata, "yang penting saya sudah melakukan yang terbaik untuknya, jika hasilnya dianggap kurang baik oleh orang lain, saya bisa bilang apa?."


"Ibu itu berpendapat bahwa saya tidak seharusnya menyerah dan mengikuti kemauan si bungsu untuk tidak bersekolah. Lho? saya tidak menyerah, kok, justru dengan saya mencari solusi lain selain sekolah umum untuk si bungsu adalah bentuk kegigihan saya untuk memberikan yang terbaik baginya, bukan yang terbaik bagi saya atau yang terbaik versi orang lain, sekali lagi, yang terbaik bagi si bungsu..."


Jadi, ada seorang kenalan yang tahu mengenai si bungsu yang menolak sekolah dan ia juga tahu bahwa saya 'membiarkan' hal itu terjadi. Ia berpendapat bahwa tindakan pembiaran saya itu salah. Saya pun tak mau membiarkan ia berpikir bahwa saya tidak berusaha untuk 'mengembalikan' si bungsu ke sekolah, saya ceritakan kronologisnya seperti yang pernah saya tulis di sini. Tetap saja ia berpendapat bahwa saya tidak seharusnya menyerah. Lho? saya tidak menyerah, kok, justru dengan saya mencari solusi lain selain sekolah umum untuk si bungsu adalah bentuk kegigihan saya untuk memberikan yang terbaik baginya, bukan yang terbaik bagi saya atau yang terbaik versi orang lain, sekali lagi, yang terbaik bagi si bungsu...


Ya, saya tahu, ini mungkin bentuk 'denial' saya terhadap situasi yang saya hadapi, namun saya ingin menekankan pada orang lain dan pada diri saya sendiri bahwa saya sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk anak saya, setelah itu terserah apa pendapat mereka...

Beberapa hal di atas dan perasaan dihakimi kembali membuat saya teringat akan postingan saya yang berjudul "When will we stop judging each other?." Situasinya mirip, yaitu saat seorang ibu merasa dihakimi oleh ibu lainnya. Namun seperti biasa, saya berusaha untuk stay positive, meski pun ada rasa gerah dan terutama sedih, tapi sekali lagi, jawaban saya pada orang-orang (yang saya duga) menghakimi tetaplah sama, saya sudah berusaha berbuat yang terbaik untuk anak-anak saya, dan dalam hati saya berdoa semoga anak-anak saya, anak-anak dia, dan anak-anak lainnya mendapatkan yang terbaik dalam hidup mereka, amin.. Saya bukan sedang sok bijak, namun pemikiran seperti itu membantu saya untuk jauh dari rasa marah, apalagi merasa gagal dan kesal pada diri sendiri ...


Yang penting saya sudah berusaha menjadi ibu terbaik bagi anak2 saya ...

4 komentar:

suria riza mengatakan...

setujuuuu stop judging
tapi anakku sekolah seh..biar punya temen sebaya --"

zata ligouw mengatakan...

suria riza, iya cha, anak ku pun tetep harus sekolah nantinya, mungkin mau langsung masuk SD aja seperti permintaan dia. Sekarang 'home schooling' dulu..

Pryta Aditama mengatakan...

semangat ya taa.. jadi ibu kayaknya memang ga bakal lepas dari komentar orang-orang sekitar.. adaaa aja yang suka "gatel" pengen sekedar komen atau ditambahin pujian buat diri dan anak sendiri.. menurut gue bukan in denial, gue pribadi kalau di posisi lo pasti bakal ambil tindakan yang sama kok.. :)

zata ligouw mengatakan...

makasihhhh Prytaaa....

Poskan Komentar