Selasa, 20 Oktober 2015

5 Kiat merapikan kamar si pra-remaja ...

gbr dr Bing
Anak pertama dan kedua saya sudah memasuki usia pra-remaja dan memiliki kamar masing-masing (meski pun pada prakteknya mereka sering tidur bersama-sama di satu kamar karena bisa ngobrol dan bercanda dulu dengan si bungsu sampai akhirnya ketiduran).

Saat siang hari, setelah pulang sekolah, mereka menghabiskan cukup banyak waktu di kamar, entah untuk istirahat, belajar atau main. Seringkali kamar mereka menjadi sangat berantakan dan setiap kali saya menyuruh membereskan, mereka butuh waktu lama untuk menyelesaikannya, mungkin karena tidak biasa dan karena sudah terlalu banyak yang perlu dirapihkan.

1. Jadikan merapikan tempat tidur setelah bangun tidur sebagai kebiasaan. Kedengarannya sepele dan klise, apalagi hal ini sudah kita pelajari sejak masih di sekolah dasar, ada lagunya pula "bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku...." Namun dengan berjalannya waktu dan perubahan gaya hidup, banyak anak yang tidak melakukan hal itu lagi. Anak-anak saya misalnya, dulu mereka masih sering melakukannya, namun saat semakin besar dan kesibukan bertambah serta jam masuk sekolah yang sangat pagi (mereka dijemput jam 6 dan bangun sekitar jam 4.40 pagi), akhirnya hal-hal seperti itu beralih menjadi pekerjaan wajib asisten rumah tangga atau saya.

Namun pelan-pelan saya merasa perlu untuk membiasakan kembali ritual merapihkan tempat tidur tersebut. Tidak mesti sempurna, minimal merapihkan seprei dan bantal saja cukup, biarlah yang menyapu lantai apalagi mengepel adalah saya atau si mbak. Yang terpenting bagi saya adalah menanamkan kebiasaan tersebut sehingga saat mereka jauh dan harus melakukannya sendiri, mereka tidak akan mengalami kesulitan.

2. Biasakan mereka untuk menaruh barang-barang pada tempatnya. Abang sering bermasalah dengan mengambil baju dari lemari pakaian. Ia akan menarik salah satu baju dengan asal dan menyebabkan baju lainnya berjatuhan. Sebelumnya ia tak terlalu bersusah payah untuk mengembalikan baju yang berjatuhan itu ke lemari, namun jika saya kebetulan memergokinya, ia akan memasukan semua baju yang jatuh secara bersamaan ke dalam lemari, otomatis baju-baju yang sebelumnya sudah terseterika itu kusut kembali. Butuh waktu lama untuk menghilangkan kebiasaan ini. Saya menyalahkan diri saya yang dulu, saat masih bekerja kantoran, yang kurang memperhatikan hal-hal seperti ini sehingga menjadi kebiasaan yang akhirnya menyusahkan saya, si mbak, dan abang sendiri.

Sekarang, saat ia sudah duduk di bangku SMP, karena memang sudah cukup besar juga, serta kecerewetan saya, ia menjadi orang yang lebih rapih dan mulai terbiasa menempatkan barang pada tempatnya, mulai dari pakaian kotor, sepatu, sampai tas sekolah.

3. Gunakan kontainer dan kotak sepatu untuk menyimpan barang-barang agar lebih rapi. Anak perempuan saya sedang hobi mengumpulkan kartu Aikatsu. Jika tidak ada tempat khusus, kartunya akan terserak di mana-mana, jadi menempatkannya dalam sebuah kotak adalah cara terbaik. Tidak hanya kartu Aikatsunya, barang-barang lain pun harus ia taruh di dalam wadah-wadah khusus agar mudah dicari dan tentu saja rapi.

4. Jaga agar lemari serta laci mereka tidak terlalu penuh barang. Karena jika terlalu penuh, barang akan lebih mudah berantakan dan sulit dicari. Sebelumnya lemari pakaian Caca penuh sekali hingga ia malah hanya memakai baju yang itu-itu saja karena sulit mengambil pakaian. Akhirnya minggu lalu saya dan dia kembali membereskan lemarinya, memilah-milah mana yang masih bisa dan mau dipakai. Alhasil kami menyingkirkan belasan pakaian yang sudah tidak 'terpakai'. Yang masih bagus diberikan kepada saudara si mbak, sedangkan yang sudah tidak layak bisa dijadikan kain lap.

Hal di atas juga mengajarkan anak-anak untuk memilah dan merelakan barang-barang yang sudah tidak seharusnya mereka miliki dan justru lebih berguna untuk orang lain.

5. Jadikan rutinitas yang menyenangkan. Ulangi setiap hari, jangan lelah untuk mengingatkan dan membantu. Mereka sudah besar namun juga sudah memiliki lebih banyak beban, seperti pe er, ulangan, tugas kelompok, sampai masalah pertemanan, jangan jadikan rutinitas beres-beres menjadi hal yang berat buat mereka. Yang dilakukan oleh suami saya untuk membuat mood mereka bagus salah satunya adalah dengan menyetel musik favorit mereka di pagi hari. Iringan lagu Bruno Mars biasanya membuat mereka merapihkan tempat tidur sambil bergoyang, bahkan si bungsu tak ketinggalan untuk membantu, meski pun lebih sering justru mengganggu :D

Saya pun masih berjuang untuk menjadikan semua hal di atas sebagai kebiasaan yang baik bagi anak-anak dan diri saya sendiri, berat memang, namun mudah-mudahan pelan-pelan mereka akan terbiasa...

2 komentar:

Yeye mengatakan...

Wow, bs nih jd acuan buat anak2 ku nanti klo udah besar :)

zata ligouw mengatakan...

masih lama ya Ye ;p masih unyu2 semua anak lo :)

Poskan Komentar