Kamis, 29 Oktober 2015

[Book Review] The secret of ENLIGHTENING PARENTING


Sekilas tentang buku “The secret of ENLIGHTENING PARENTING”

Judul buku          : The secret of ENLIGHTENING PARENTING,
                               Mengasuh Pribadi Tangguh, Menjelang Generasi Gemilang
Penulis                : Okina Fitriani, dkk
Halaman              : 338 halaman
Penerbit               : PT Gramedia Pustaka Utama 

Pada awal bagian pertama yang berjudul “Anakku, tamu istimewa dari Tuhanku” kita diajak untuk mengintrospeksi diri mengenai  seberapa pentingnya seorang anak. Tidak diragukan, semua orang, termasuk saya, akan langsung  menjawab bahwa anak sangat penting dan masuk dalam prioritas utama kita. Tapi apa benar begitu?.

Buku ini lalu memberikan perbandingan antara tugas penting yang kita dapatkan dari perusahaan dan tugas penting yang kita dapat dari Allah. Untuk tugas penting dari perusahaan, kita rela menyusun visi misi yang jelas, target pencapaian, mengevaluasi hasilnya dalam rapat-rapat yang terjadwal dan seterusnya. Namun saat kita medapat tugas penting sebagai orangtua yang harus memimpin anak-anaknya, apakah sebegitu seriusnya kita menjalankan tugas tersebut?. Apakah kita sudah mengevaluasi hal-hal yang perlu diperbaiki? Apakah sudah sungguh-sungguh mendesain strategi komunikasi yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai baik pada anak-anak, menambah ilmu yang diperlukan atau paling tidak memiliki jadwal pertemuan keluarga untuk mendapat umpan balik dan membahas isu-isu yang dianggap penting oleh setiap anggota keluarga?

Lalu muncul kutipan yang  langsung telak ‘menampar’ saya:

“Kesungguhan tercermin dari seberapa besar daya upaya kita menyempurnakan ikhtiar, bukan sekadar seberapa sering kita memikirkannya”

Saya pribadi merasa ini kutipan yang sangat mengena. Kadangkala, sebagai orangtua saya tenggelam memikirkan permasalahan yang berkaitan dengan anak-anak, namun setelah dipikir-pikir, ya ternyata saya lebih lama memikirkannya daripada berusahanya.  Ya, di awal buku ini saya langsung belajar dan berjanji untuk lebih menyempurnakan ikhtiar saya.

Dalam bagian ini juga diungkapkan mengenai prinsip pengasuhan anak yaitu menjaga potensi baik, kasih sayang, sabar, serta konsisten dan kongruen. Prinsip-prinsip ini dijelaskan secara sederhana namun terasa sangat dalam dan menyentuh hati, membuat kita diingatkan kembali akan hal-hal yang mungkin sebenarnya sudah kita ketahui namun kita lupa atau kurang tepat menjalankannya. Lihat saja kutipan di bawah ini, membuat kita berkaca, bukan?


Maka ingatlah bahwa setiap perkataan adalah doa dan perilaku akan menguatkannya. Buku ini mengingatkan, janganlah kita hanya berdoa di awal hari memohon kesabaran, meminta pada Allah agar anak kita menjadi anak yang baik dan menyejukan namun sepanjang siang kita mengeluh, baik terucap mau pun dalam hati, "Duh...ini anak susah banget, sih" atau "kamu ngeyel banget, sih, nak," dst, dst. 

Mana yang kita pilih, menunggu datangnya si sabar baru kemudian tidak marah-marah, atau membiasakan berbicara dengan lembut dan perlahan agar doa kita untuk menjadi sabar dipantaskan oleh-Nya untuk dikabulkan? Pantaskah doa diminta jika kita justru meyakini yang sebaliknya? dengan berpikir "aku ini pemarah" atau "susah banget, sih, mau jadi orang sabar."

Pentingnya tujuan

Jika kita bekerja di sebuah perusahaan dan bisa membuat visi dan misi, menetapkan tujuan lewat diskusi yang panjang dan lama, demi mewujudkan tercapainya cita-cita perusahaan, sudahkah kita melakukan yang sama untuk keluarga kita? anak-anak kita?. Libatkan seluruh keluarga untuk menyusun visi, misi, dan strategi bersama.

Kemampuan menentukan tujuan tidak hanya diperlukan untuk menentukan visi dan misi secara umum tetapi perlu dibiasakan dalam setiap kegiatan termasuk menentukan sekolah dan merancang cita-cita. Kebiasaan ini perlu dilatih meski pun tidak selalu harus tertulis. Hanya saja sesuatu yang tertulis akan memudahkan evaluasi di kemudian hari.

Tiap tahap ada manfaat, tiap langkah perlu optimal

Buku ini menyimpulkan bahwa tahap perkembangan anak terdiri dari 4 tahapan, yaitu tahap sensori di usi 0-24 bulan, tahap bahasa di usia 2-7 tahun, tahap logika di usia 7-11 tahun, dan terakhir tahap interaksi di usia 11 tahun ke atas.

Tahap perkembangan anak
Buku ini merangkum dengan sangat jelas mengenai tiap tahapannya, manfaat serta langkah yang perlu dilakukan untuk mengoptimalisasi setiap tahapan ini.

1. Tahap Sensori

Pada tahap ini anak memahami segala sesuatu dengan indra sehingga tidak mengenal rasa takut kecuali insting pertahanan hidup seperti berkedip dan menghindari lubang saat merangkak. Di usia ini potensi baik anak terlihat jelas, mereka penuh semangat, ingin tahu, menyukai senyuman dan tidak mengenal kata gagal, meski jatuh berkali-kali dan menangis, mereka tetap berusaha merangkak dan berjalan.

Lalu saat mereka mulai besar kemana perginya semangat pantang menyerah ini? siapa yang memprogram rasa takut gagal ke dalam pikiran mereka?.

Dalam otak bayi terdapat jutaan neuron yang belum tersambung, maka sangat berbahaya apabila menerima stimulus yang berlebihan secara visual mau pun auditih. Oleh karena itu pada usia ini sebaiknya anak tidak bersentuhan dengan media elektronik audio visual televisi, tablet, video dan lainnya.

2. Tahap Bahasa

Tahap bahasa ini berada di usia 2 sampai 7 tahun di mana anak sudah mengerti bahasa dan simbol sehingga perkembangan kemampuan bahasanya luar biasa. Perkembangan emosinya merupakan hasil pembelajaran dari kondisi emosi orang-orang di sekitarnya. Rasa ingin tahu serta keinginan belajarnya tinggi sekali sehingga ia banyak bertanya.

Tahap ini adalah tahap emas untuk menanamkan keyakinan. Luangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk menambah keimanan. 

3. Tahap Logika

Pada usia 7 hingga kurang lebih 11 tahun anak-anak belajar memecahkan masalah-masalah sederhana, memahami hubungan sebab akibat, sifat egosentrisnya semakin berkurang sehingga lebih bisa memahami perasaan orang lain, dan siap menerima tugas-tugas rutin secara bertahap.

Pada usia ini anak-anak sudah berinteraksi dengan orang lain di luar keluarganya, maka nilai-nilai dan keyakinan mulai dipengaruhi oleh sumber-sumber lain di luar keluarga. Oleh karena itu, ikatan dan kepercayaan anak terhadap orangtua yang terbentuk di tahap sebelumnya sangat menentukan apakah anak akan lebih mengindahkan pengaruh orangtuanya atau justru tertarik keluar.

4. Tahap Interaksi

Di usia 12 tahun ke atas anak-anak sudah masuk dalam usia remaja, sudah bisa diajak berdiskusi. Inilah saat yang tepat untuk mulai menyusun rencana masa depan, cita-cita, dan strategi pencapaiannya.

Jadilah model terbaik sesuai yang dengan kriteria yang kita harapkan dari anak. Jika kita ingin anak-anak mempunyai kebiasaan baik, lakukanlah lebih dulu. Ubah diri kita lebih dulu, baru mengubah anak.

Indraku, jendela syukurku

Syukur adalah sumber motivasi yang memberikan harapan baik atas setiap kejadian. Bersyukur bukan hanya ketika mendapat nikmat melainkan juga ketika mengalami kejadian-kejadian yang dianggap buruk oleh manusia.

Ketika anak tumbuh dengan dibimbing untuk pandai bersyukur maka jiwanya akan kuat, tidak menjadi lemah karena ejekan teman, tidak mudah mengeluh, sekaligus tidak sombong sehingga tekun berusaha.

Ada tiga alat yang dikaruniakan Tuhan pada semua manusia yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati. Hal ini disebutkan setidaknya lima kali dalam Al-Qur'an. Hati yang diwakili dengan kata fuad menunjukan bahwa yang dimaksud adalah fungsinya, bukan bendanya, seperti mind dalam bahasa Inggris.

Kisah-kisah inspiratif

Setelah itu, di bagian kedua buku ini ada kisah-kisah inspiratif dari beberapa keluarga yang tentu akan semakin memotivasi kita untuk berusaha menjadi orangtua yang lebih baik. Misalnya cerita berjudul "Adhitya dan dokter" yang ditulis oleh Hardini Swastiana dan "Mendidik anak adalah mendidik diri" karya Novita Sakundarini. Ada juga "Komunikasi persuasif dengan anak" tulisan Yuni Kurniah yang rasanya tak ada habis-habisnya kita mendapat enlightment dari para penulis ini.

Buat saya, membaca buku ini seperti makanan bergizi bagi jiwa saya sebagai orangtua. Di mana saya sudah merasa banyak pengalaman dengan tiga anak, merasa banyak tahu, banyak mendapat ilmu sana sini dan berusaha mempraktikannya sebisa mungkin, namun tetap saja, saat membaca halaman demi halamannya selalu ada hal baru dan pengingat yang benar-benar saya resapi dan langsung saya praktikan hari itu. Percaya atau tidak, saya merasa banyak berubah, begitu juga anak-anak saya. Saya makin percaya diri, bahwa saya dan suami bisa menjadi orangtua yang lebih baik lagi, semakin baik lagi, dan lagi, dan insha Allah anak-anak kami pun akan menjadi individu-individu yang lebih baik dan berguna, amin. 

Catatan:
Buku ini saya review berdasarkan pemahaman saya pribadi, cara pandang saya serta saya aplikasikan kepada keluarga saya, terutama tiga orang anak saya yang berusia 4, 10, dan 12 tahun. Untuk mengetahui dan mempelajari isi buku secara keseluruhan, silahkan baca bukunya langsung ya.. :)


2 komentar:

suria riza mengatakan...

nah... itu dia.. kadang aku sendiri g bisa nyembunyiin emosi :(
kadang kudu teriak juga seh :/... berarti aku lupa berkaca :"(

zata ligouw mengatakan...

@Suria Riza, iya ya Cha, sama nih, beneran perlu tekad kuat untuk jadi lebih baik. Sama2 semangat, yuukkk...

Poskan Komentar