Minggu, 27 September 2015

DIY - Membuat Headband bersama si ABG

Akhir pekan ini saya dan anak perempuan saya mengisi waktu luang dengan memanfaatkan kain perca yang kami miliki, kebetulan banyak diantaranya berbahan kaos dan berbentuk memanjang, jadi kami memutuskan untuk membuat ikat kepala atau headband yang bisa digunakan sebagai bando untuk kaka dan saya pun bisa menggunakannya saat berolahraga agar poni saya tidak mengganggu kegiatan tersebut.

Bahan-bahannya sangat mudah didapat dan cara membuatnya pun sangat gampang, tidak perlu waktu lama kok, tidak akan lebih dari lima belas menit saja :)

Yuk, mari kita coba ...

1. Sediakan 4 kain perca dari bahan kaos, masing-masing dua buah dengan dua warna yang berbeda.


bahan bisa didapat dari guntingan kaos bekas

2 & 3. Tarik tiap kain sehingga kain akan terpelintir dengan sendirinya seperti gambar-gambar di bawah ini.

tarik satu per satu sehingga kain tergulung

setelah ditarik, bentuknya akan seperti ini


4. Gabungkan masing-masing dua kain tersebut lalu buat bentuk seperti di bawah ini. Perhatikan susunannya ya..



5 & 6. Ikuti simpul seperti gambar lima dan enam di bawah ini, perhatikan bagian mana yang di atas dan yang mana yang di bawah.




7. Masih membuat simpul selanjutnya, ikuti gambar di bawah ini.


8. Tarik ujung-ujung kain sehingga membentuk simpul seperti di bawah ini. Lalu ikat ujung-ujungnya sehingga membentuk ikat kepala.


dan...selesai, headband siap dipakai..

***


#15MinsDIY
#DIY
#decoration
#decor
#remaking
#hobby
#crafts

Jumat, 25 September 2015

"Kok, anaknya nggak mau sekolah?"

Itu baru kalimat pertama dari seorang ibu -yang anaknya pernah satu sekolah dengan si bungsu- saat kami bertemu di depan komplek saat membeli siomay. Kalimat berikutnya adalah, "kalau anak saya suka banget sekolah, mandiri banget, nggak nangis kalau ditinggal. Mungkin mamanya kurang gigih, nih, atau anaknya memang belum siap mental ya gabung sama anak-anak lain. Nggak apa-apa, ya, Sabil, nanti juga bisa, kok," ujar si ibu dengan simpatik sambil mengelus kepala si bungsu. Saya hanya mesem-mesem. Saya berusaha menganggap ucapannya sebagai bentuk dukungan, bukan kritikan, apalagi celaan...

Itu bukan kali pertama saya mendengarkan kalimat serupa, beberapa minggu sebelumnya bahkan tak bisa saya pungkiri bahwa saya tersinggung dan sedih meski pun respon saya saat itu hanya tersenyum dan berkata, "yang penting saya sudah melakukan yang terbaik untuknya, jika hasilnya dianggap kurang baik oleh orang lain, saya bisa bilang apa?."


"Ibu itu berpendapat bahwa saya tidak seharusnya menyerah dan mengikuti kemauan si bungsu untuk tidak bersekolah. Lho? saya tidak menyerah, kok, justru dengan saya mencari solusi lain selain sekolah umum untuk si bungsu adalah bentuk kegigihan saya untuk memberikan yang terbaik baginya, bukan yang terbaik bagi saya atau yang terbaik versi orang lain, sekali lagi, yang terbaik bagi si bungsu..."


Jadi, ada seorang kenalan yang tahu mengenai si bungsu yang menolak sekolah dan ia juga tahu bahwa saya 'membiarkan' hal itu terjadi. Ia berpendapat bahwa tindakan pembiaran saya itu salah. Saya pun tak mau membiarkan ia berpikir bahwa saya tidak berusaha untuk 'mengembalikan' si bungsu ke sekolah, saya ceritakan kronologisnya seperti yang pernah saya tulis di sini. Tetap saja ia berpendapat bahwa saya tidak seharusnya menyerah. Lho? saya tidak menyerah, kok, justru dengan saya mencari solusi lain selain sekolah umum untuk si bungsu adalah bentuk kegigihan saya untuk memberikan yang terbaik baginya, bukan yang terbaik bagi saya atau yang terbaik versi orang lain, sekali lagi, yang terbaik bagi si bungsu...


Ya, saya tahu, ini mungkin bentuk 'denial' saya terhadap situasi yang saya hadapi, namun saya ingin menekankan pada orang lain dan pada diri saya sendiri bahwa saya sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk anak saya, setelah itu terserah apa pendapat mereka...

Beberapa hal di atas dan perasaan dihakimi kembali membuat saya teringat akan postingan saya yang berjudul "When will we stop judging each other?." Situasinya mirip, yaitu saat seorang ibu merasa dihakimi oleh ibu lainnya. Namun seperti biasa, saya berusaha untuk stay positive, meski pun ada rasa gerah dan terutama sedih, tapi sekali lagi, jawaban saya pada orang-orang (yang saya duga) menghakimi tetaplah sama, saya sudah berusaha berbuat yang terbaik untuk anak-anak saya, dan dalam hati saya berdoa semoga anak-anak saya, anak-anak dia, dan anak-anak lainnya mendapatkan yang terbaik dalam hidup mereka, amin.. Saya bukan sedang sok bijak, namun pemikiran seperti itu membantu saya untuk jauh dari rasa marah, apalagi merasa gagal dan kesal pada diri sendiri ...


Yang penting saya sudah berusaha menjadi ibu terbaik bagi anak2 saya ...

Rabu, 23 September 2015

#TUMngopicantik bareng TUM Birth Club coordinator 2014-2015 ..

Aaa..senangnya berkomunitas, lagi-lagi silaturahmi, bertemu, ngopi dan ngemil cantik sambil ngobrol yang selalu penting dan menambah ilmu, seperti yang belum lama kami lakukan di Morning Glory Coffee, Pondok Indah Mall tanggal 19 September 2015 lalu. The Urban Mama (TUM) mengundang para koordinator masing-masing birth club (saat ini khusus untuk yang tahun 2014-2015 dulu, berikutnya yang lain-lain yaa..) untuk ngobrol bareng.

Koordinator TUM Birth Club 2014-2015 bersama TUM family
Jadi, buat yang belum tahu, The Urban Mama juga punya sub komunitas yang lahir dari forum TUM ini, yaitu birth club, di mana para mama yang due datenya di bulan yang sama membuat sebuah grup yang namanya disesuaikan dengan bulan kelahiran anak-anaknya, misalnya anak saya lahir di bulan Juni 2011, ya berarti saya bisa bergabung dengan #TUMBirthClub June 2011. Seru, kan?

narsis karena punya apron baruuu... :D
Di forum theurbanmama.com setiap birth club punya thread-nya masing-masing di mana kita semua bisa berbagi dan saling support. Biasanya kan kalau kita merasa punya kesamaan kita akan merasa lebih klik dan lebih senasib sepenanggungan, hehehe.. Isi thread birth club ini pun sangat informatif, mulai ngobrol soal persiapan menjelang melahirkan, ASI, MPASI, popok, perkembangan anak-anak, sampai olahraga untuk menghilangkan sisa lemak pasca melahirkan :)

TUM Birth Club ini juga ternyata anggotanya semakin banyak dan semakin kompak, mereka pun aktif melakukan kopi darat, playdate sampai mengadakan birthday bash! super keren!. 

Nah, mama, yuk ah gabung di urban mama dan aktif juga di birth club-nya supaya hidup makin ceria, hihihi.. (numpang iklan, yaaa...)

#TUMxLife

Minggu, 20 September 2015

Bepergian semakin nyaman dengan Premium Economy Class ...

Saat bicara soal jalan-jalan bersama keluarga, apalagi yang ke luar negeri, rasanya keamanan dan kenyamanan adalah nomor satu, namun seringkali jika kita menginginkan bepergian dengan airlines yang sudah diakui keamanan dan kenyamanannya, kita harus merogoh kantong lebih dalam, atau setidaknya memesan kelas bisnis agar kenyamanan terjamin. Ternyata Singapore Airlines melihat celah ini dengan menyediakan layanan Premium Economy Class di mana kenyamanan yang ditawarkan sekelas dengan bisnis namun harga ekonomi ++.


Pada hari Sabtu lalu saya dan keluarga mendapat kesempatan mencoba kursi ekonomi premium tersebut di Grand Indonesia bersama dengan para mama dari The Urban Mama. Acara hari itu berbarengan dengan Singapore Airlines Travel Fair 2015.

Dalam kesempatan tersebut juga ada Ninit Yunita dari the Urban Mama dan ibu Glory dari Singapore Airlines yang berbagi tips mengenai jalan-jalan bersama keluarga, dalam hal ini khususnya anak-anak.

Di acara ini Singapore Airlines memperkenalkan fitur-fitur yang merupakan kelebihan dari kursi ekonomi premium ini, antara lain ukuran bangku antara 18.5 dan 19.5 inchi, sandaran berukuran 8 inchi. Ada juga monitor HD sebesar 13.3 inchi yang terbesar di kelasnya. Headphone kedap suara disediakan untuk menambah pengalaman menikmati audio dalam penerbangan.



Sentuhan fitur yang sangat diperhatikan seperti tempat ruang sandaran betis dan kaki berbahan kulit untuk setiap bangku. Setiap bangku juga disediakan daya listrik pribadi, dua port USB, lampu baca personal, meja cocktail, juga ruang penyimpanan untuk barang-barang pribadi seperti botol minum, handphone, dan laptop.

Untuk menambah individualitas dari kelas baru disediakan fasilitas kenyamanan bangku seperti sandaran kepala, bantal dan selimut yang disediakan dengan pilihan spesial dan warna senada.

Pelanggan di kelas ekonomi premium ini juga dapat memilih berbagai menu makanan dan minuman yang ditawarkan. Sampanye juga akan ditawarkan sebagai tambahan untuk pilihan wine bermutu selama penerbangan.


Hal menarik lainnya adalah fasilitas bagasi sebesar 35 kg khusus untuk pelanggan kelas ekonomi premium ini. Tentu saja keluarga yang membawa anak akan sangat menyukai privillege ini karena biasanya anak-anak membawa cukup banyak keperluan.

Sesudah mencoba kenyamanan kursi kelas ekonomi premium dan melihat serta mendengar kelebihan dari layanan tersebut, kami lanjut makan bersama di Yoshinoya dan ngobrol seputar jalan-jalan dan tips lagi, misalnya agar anak betah, selain memang disediakan mainan oleh Singapore Airlines, sebaiknya anak-anak juga membawa mainan atau benda kesayangannya dalam perjalanan. Anak bungsu saya menyukai bantal karakter favoritnya saat berjalan jauh, sehingga saat mengantuk ia bisa memeluk bantal tersebut.

Intinya, perjalanan akan semakin nyaman saat bepergian bersama keluarga dengan persiapan yang tepat dan layanan penerbangan yang pas bagi keluarga.

Selamat jalan-jalan, mama!

Kamis, 17 September 2015

Pentingnya komunikasi 'survival' pada anak remaja ...


gbr dr Bing

Jujur saja, saya ibu yang kadang over protective terhadap anak-anak justru saat mereka semakin besar. Di satu sisi saya ingin anak-anak saya bisa survive menghadapi kehidupan di dunia ini, di sisi lain kadangkala saya tak tega saat mereka harus mengalami proses survival tersebut. Namun berkat dukungan suami serta campur tangannya yang besar dalam mendidik anak-anak , saya pun bisa belajar 'melepaskan' mereka mengikuti proses yang seharusnya mereka jalani agar life skills mereka semakin baik dan lebih baik lagi.

Belum lama ini ada pengalaman yang cukup mendebarkan dada, anak pertama saya yang bisa dibilang 'anak mami' bersekolah cukup jauh dari rumah di mana ia diharapkan untuk bisa mengurus semua keperluan yang berhubungan dengan sekolahnya sendiri. Saya justru yang belum siap, karena belum lama, saat SD, hampir semua keperluannya yang berkaitan dengan sekolah, saya yang mengurus, mulai membeli baju seragam di sekolah, membeli buku sekolah, bertanya soal ekskul, membayar iuran sekolah, menghubungi pihak katering, dst.

Saat sudah SMP, suatu hari, ia berangkat ke sekolah tanpa membawa telepon genggam karena sedang diperbaiki. Hari itu ia berangkat naik jemputan namun ia bilang bahwa ia akan pulang naik ojek karena akan ada pemilihan ketua dan wakil ketua Pratama di sekolahnya di mana ia menjadi salah satu kandidat. Saya bilang padanya bahwa kalau seperti itu situasinya, saya akan mengirim ojek untuk menjemputnya agar ia bisa pulang bersama ojek yang kami kenal. Ia bilang tidak usah karena ia belum tahu jam berapa acara pemilihan akan selesai. Saya cemas namun suami bilang bahwa biarkan ia yang memutuskan karena ia lebih tahu situasinya dibandingkan kami. Akhirnya saya setuju.

Perkiraan saya, ia akan pulang paling telat jam 4.30 sore, namun tunggu punya tunggu, saat maghrib pun ia belum tiba. Saya menelepon sekolah, tidak ada yang mengangkat, tentu saja karena semua pasti sudah pulang pada jam tersebut. Saya pun mengirim pesan kepada suami yang kebetulan sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, ia langsung berbelok arah menuju sekolah anak saya, sampai di sana sekolah sudah kosong. Saya dan suami sangat resah, namun di dasar hati kecil kami yang paling dalam, kami tahu bahwa anak kami bisa menyelesaikan masalahnya dan kembali ke rumah dengan selamat. Alhamdulillah, jam 7 malam ia sampai dan meminta uang ojek 50 ribu Rupiah karena uangnya tidak cukup. Ia terlihat sangat lelah. Ternyata kelelahannya adalah karena proses pemilihan ketua Pratama yang berat dan melelahkan juga karena ia harus berjalan sekitar 3-4 kilometer untuk akhirnya menemukan ojek karena saat itu sudah maghrib dan kebanyakan ojek pulang ke rumah atau sedang 'narik' juga. Ooooo..., saya hampir menangis saat mendengar ceritanya, namun suami saya segera mencolek. Suami menasihati, "jangan buat proses yang baru ia lewati sebagai sesuatu yang menyedihkan, tapi sebagai sesuatu yang membanggakan.."

Berdasarkan kejadian di atas, ada banyak hal yang membuat saya introspeksi diri. Saya pun semakin merasakan perlunya mengajarkan life skills pada anak-anak yang sudah beranjak remaja, dalam hal ini komunikasi untuk survival.

Kemampuan komunikasi abang sangat bagus untuk sehari-hari, namun saya tersadar bahwa kemampuan komunikasinya untuk survival ternyata masih kurang. Ia masih seringkali malu untuk banyak bertanya, contohnya saat ia mencari ojek, ia hanya bertanya sesekali dan lebih memilih untuk mencari sendiri meski pun harus berjalan sangat jauh.

gbr dr Bing

Dunia modern saat ini, di mana kita dan anak-anak sangat tergantung pada gadget ternyata sudah sangat mengikis kemampuan komunikasi survival ini. Saat ingin mencari tahu sesuatu, daripada bertanya pada orang lain saya memilih bertanya pada 'mbah Google', saat ingin memesan sesuatu, saya cukup meng-install aplikasinya dan klik 'pesan', tak lagi perlu repot-repot menelepon untuk melakukan reservasi.

Saya bahkan tidak ingat kapan terakhir kali saya memesan taksi lewat telepon, di mana saya harus berbicara dengan operator, menerangkan beberapa hal dan seterusnya. Ouch, ini dia yang juga diaplikasikan oleh anak-anak saya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Jadi terbayang kan?, saat abang tidak membawa smartphone ke sekolahnya, ia langsung mendapat 'masalah', padahal jika ada smartphone miliknya, ia bisa langsung mengklik untuk pesan layanan ojek atau taksi yang sudah biasa saya pesan.

Intinya gadget memang mempermudah kehidupan, namun mengikis daya survival kita yang harusnya tetap kita miliki untuk menghadapi masalah yang tidak terduga. Jadi, membiasakan mereka menelepon call center/customer service untuk menanyakan atau memesan sesuatu adalah hal yang sangat baik untuk melatih komunikasi mereka. Terhadap abang pun saya sudah berusaha untuk membiarkan ia yang bertanya segala macam kepada pihak sekolah mengenai buku-buku, seragam, ekskul, dll. Awalnya saya menerima penolakan saat ia berkata, "ma, temen-temenku katanya diurusin sama ibunya. Jadi ibunya datang ke koperasi sekolah dan pesen di sana." Meski pun hati kecil saya rasanya ingin melakukan hal yang sama, namun dengan berat hati saya menjelaskan padanya bahwa saya bisa saja melakukan hal tersebut, namun saya yakin, jika ia melakukannya sendiri, akan ada begitu banyak manfaat yang ia dapatkan, mulai dari keberanian untuk berbicara dengan orang dewasa lain, kemampuan menggali informasi (seperti apa saja yang dibutuhkan untuk mendapat seragam dan buku sekolah, berapa biayanya, kapan harus ukur, kapan paling telat untuk melakukan pembayaran, dst).

Dalam prosesnya pun ia belajar soal 'bertanya pada orang yang tepat.' Saat minggu-minggu awal di SMP, ia ingin ikut ekskul namun belum tahu ada ekskul apa saja di sekolahnya. Saya minta ia untuk langsung bertanya ke bagian tata usaha sekaligus untuk mengetahui jadwalnya. Pulang ke rumah saya tanya, apakah tugas bertanya ke tata usaha sudah ia lakukan?, ia menggeleng, namun sebelum sempat saya bereaksi ia segera menjawab, "tapi aku udah tanya temenku kok, katany hari Sabtu ini ada ekskul futsal, jadi aku dateng ya, ma." Saya tahu, ia enggan dan malu bertanya ke bagian tata usaha, apalagi ia masih sangat baru di sekolah tersebut.

Pada hari Sabtu, saya dan suami mengantarnya ke sekolah, dan sekolah sangat sepi. Saya bertanya pada satpam dan saya peroleh informasi bahwa kegiatan ekstra kurikuler memang belum dimulai karena masih disibukan dengan proses daftar ulang dsb. Ekskul baru akan aktif kembali bulan berikutnya. Abang mesem-mesem, antara malu dan merasa bersalah. Di situ ia kembali belajar bahwa bertanya kepada orang yang tepat, dalah hal ini pihak sekolah sebagai penyelenggara ekskul adalah yang paling benar, karena meski pun si teman mungkin punya informasi juga, namun ia sama-sama anak baru seperti abang. Saya bilang pada abang bahwa tidak apa-apa untuk bertanya pada teman, namun sebaiknya, jika memungkinkan, bertanyalah pada pihak sekolah langsung. Yup, lesson learned.

***

Jumat, 11 September 2015

Mengajari Sabil membaca dengan metode Glenn Doman - PART 2


Menyambung artikel mengenai pengalaman mengajari anak bungsu saya belajar membaca dengan metode Glenn Doman di sini, kini saya ingin bercerita lebih lanjut lagi. Dari sebuah seminar tentang pendidikan dan parenting saya pernah mendengar bahwa mengajari bayi dan balita beragam keterampilan, termasuk membaca, akan menyebabkan otaknya berkembang, layaknya otot yang dilatih. Saya ingat pengalaman waktu abang, anak pertama saya, yang sudah sejak bayi saya berikan buku-buku dengan gambar berwarna-warni dan tulisan besar-besar, kemampuan menulis dan membacanya, serta penguasaan bahasanya jauh lebih cepat dan baik dibanding beberapa anak seumurannya.

Membaca adalah salah satu keterampilan yang sangat penting yang bisa diajarkan oleh orangtua kepada anaknya dan kesempatan untuk mengajari anak membaca idealnya adalah saat ia berumur empat tahun, ya, sesuai umur Sabil saat ini. Karena sejak bayi sampai usia balita, biasanya anak-anak senang mempelajari apa saja.

Oke, kembali ke Metode Glenn Doman, kapankah saat yang tepat untuk memulai program belajar membaca pada anak?

3– 4 tahun  = umur yang baik untuk mulai (Sabil berada di umur ini)
2– 3 tahun  = umur yang lebih baik lagi untuk memulai
0- 24 bulan = umur yang terbaik untuk memulai

Nah, itu artinya semakin cepat kita mengajarkan anak membaca (dengan cara yang tepat) semakin baik.

Ada dua hal penting yang perlu diketahui oleh orang tua dalam melaksanakan program belajar membaca dari Glenn Doman ini:

Yang pertama adalah sikap serta pendekatan yang kita gunakan. Perhatikan hal-hal di bawah ini:

*    *Antusias dan menyenangkan. Pendekatan yang digunakan seperti bermain.
*Pilih waktu belajar yang terbaik, yaitu saat anak dan kita sendiri sedang senang.
*Durasi terbaik untuk belajar membaca hanyalah sekitar 30 detik (keren, kan, nggak perlu        berlama-lama dan membuat anak kita bosan).
*Selalu berhenti sebelum diminta oleh anak (entak karena capek atau bosan).
*Perkenalkan dengan bahan pelajaran yang baru saat anak siap, jadi perhatikan tanda-  tandanya, jangan terlalu memaksakan diri, jika anak keliahatan belum siap maju ke tahap  selanjutnya, biarkan saja.
*Konsisten, konsisten, konsisten!

Yang kedua adalah soal ukuran. Yup, size does matter J. Jika pertama kali mengajarkan anak kita sudah menggunakan kata yang ditulis dengan ukuran kecil, kemungkinan anak bisa frustrasi. Kenalkanlah secara bertahap, dari ukuran besar, sedang, sampai kecil. Begitu pula soal pengenalan kata dan kalimat, mulai dari satu kata, lalu dua kata, dan seterusnya dan ingat, tunggu sampai anak benar-benar siap.

Untuk metode ini, flash cards yang digunakan adalah yang terbuat dari kertas karton. Untuk membuatnya, sediakan alat tulis seperti spidol, penggaris, dan gunting. Saya menggunakan kertas kliping berbentuk A4. Di buku Glenn Doman ada ukuran khusus untuk kartu-kartunya, namun untuk membuat lebih mudah, saya hanya memotong kertas kliping tersebut menjadi tiga bagian. Kata-kata ditulis dengan spidol warna merah dan huruf kecil, bukan kapital. Saya sendiri menyesuaikan dengan keadaan, karena Sabil suka kertas kliping warna-i, saya menulis di atas kertas warna-i tersebut dengan tinta merah, namun jika tulisan kurang terlihat, saya menebalkannya dengan spidol hitam.
Setelah beberapa bulan kita bias perlahan mengganti flash cards dengan tulisan besar-besar ke tulisan yang lebih kecil sampai ke ukuran normal serta dengan tinta biasa yang berwarna hitam.

Bagian depan kartu adalah bagian untuk anak, sementara sisi belakang adalah sisi orang tua di mana terdapat tulisan kata yang sama (mungkin dengan ukuran kecil dan terletak di pojok kartu) dan kita bisa menuliskan tanggal mulai diberikannya bahan ini serta catatan-catatan lainnya, perkembangan anak saat diberikan kata ini, kendalanya, dst.

Kata-kata yang ditulis di dalam kartu sebaiknya kata-kata yang berhubungan dengan dunia anak. Saat ia mempelajari kata-kata yang dikenalnya, ia akan lebih mudah mengingat dan tentu saja lebih antusias. Ini terbukti saat Sabil belajar membaca nama-nama keluarga, mulai dari nama saya, nama ayahnya, kakak-kakaknya sampai nama sepupu-sepupunya, ia bahkan enggan berhenti saat saya menyudahi sesi belajar.

Menurut buku Glenn Doman, pilihan katanya adalah kata-kata tentang tubuh, keluarga, rumah, dan hobi, juga gunakan kata benda, kata kerja serta kata sifat. Saat ini saya masih berada di tahap memberikan nama-nama keluarga, nama buah, dan nama makanan. Saya belum berani berpindah ke kata kerja mau pun kata sifat.

Saya masih dalam proses mempelajari metode ini, masih trial and error lah istilahnya. Saya pun masih menyesuaikan mana yang cocok dan mana yang tidak.

Nanti akan saya share lagi perkembangan Sabil dengan menggunakan metode ini yaaa..

                                                                     ***

Minggu, 06 September 2015

Mengajari Sabil membaca dengan metode Glenn Doman - PART 1 | TIPS

"Education may be stressful to most children. On the contrary learning is not, especially when presented in a fun and loving way"

Glenn Doman

bing.com

Seperti yang saya tulis di artikel sebelumnya tentang Sabil yang sedang mogok sekolah di sini, saya pun mulai mempelajari berbagai metode untuk mengajar anak saya sendiri, salah satunya adalah metode membaca ala Glenn Doman. Menurut Glenn Doman, belajar membaca sama dengan belajar berbicara dan berjalan yang harus dipelajari sedini mungkin. Nah, karena Sabil sudah agak besar, yaitu empat tahun lebih, I don’t want to delay it any longer!, dia harus segera belajar membaca, sambil diikuti dengan keterampilan lain tentunya.

Sebenarnya saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat Glenn Doman, namun banyak dari metodenya yang bisa saya pakai untuk mendidik anak-anak saya. Jadi intinya, saya tetap mempelajari dan menerapkan metode ini dengan menggabungkannya dengan metode saya sendiri atau metode lain yang saya anggap relevan dengan situasi saya.

Glenn Doman percaya bahwa anak-anak terlalu cerdas dan akan bosan bila belajar huruf per huruf. Untuk bagian yang ini saya setuju. Saya pun langsung mengajarkan kata kepada Sabil, baru kami ‘membedah’ huruf per hurufnya. Jadi pada awalnya, anak saya ini tidak hafal huruf atau abjad secara berurutan, ia menghafalnya secara random, tak mengapa buat saya, selama ia mempelajarinya dengan sukarela dan fun.

Menurut Glenn, kita dapat mengajari anak membaca hanya dalam 90 detik sehari dengan menunjukan sebuah kata, yang ditulis besar-besar di kartu, berkali-kali dalam sehari. Ini juga cukup berhasil saya praktekan kepada Sabil. Suatu hari saya menunjukan sebuah kartu bertuliskan “OMA” kepadanya. Kebetulan ia sudah tahu huruf O dan A, namun tidak dengan M. Saya tunjukan kartu tersebut dan saya bilang kata ini dibaca OMA. Dia mengikuti lalu setelah itu saya menunjuk huruf O dan dia bilang itu O. Saat saya menunjuk M, dia menggeleng, lalu saya beritahu bahwa itu huruf M. Saya tidak minta ia menghapal huruf M namun saya yakin jika saya mengulangnya minimal 3 kali hari itu, maka ia akan ingat dengan huruf M. Ternyata hal itu terbukti.

Keesokan harinya saya memberi ia kartu besar bertuliskan MAMA, dan tanpa perlu susah payah, ia langsung mengenali huruf demi hurufnya dan membaca kata tersebut dengan baik.

Menurut buku Glenn Doman yang berjudul “How to teach your baby to read” ada beberapa aturan agar pengajaran membaca pada anak berjalan dengan efektif, antara lain:

1. Mulai sedini mungkin. Glenn Doman menyatakan bahwa waktu yang sangat penting dalam kehidupan seorang anak adalah sejak ia dilahirkan sampai ia berumur 6 tahun. Saat ini Sabil sudah berumur 4 tahun dan masih berada di fase terbaiknya untuk belajar, dalam hal ini belajar membaca.

2.  Orangtua adalah guru pertama dan terbaik bagi anak. Karena orangtua lah yang memang seharusnya pertama kali mengajarkan banyak hal pada anak, maka orangtua adalah guru pertama serta harus menjadi guru terbaik bagi anak karena ia paling tahu situasi serta kendala yang dihadapi oleh anaknya. Hal ini sangat relevan dengan situasi saya, di mana saya sangat tahu permasalahan yang sedang dihadapi Sabil di sekolah, saya pun tahu bagaimana cara membuatnya tertarik akan sesuatu hal, saya tahu hobinya, saya tahu apa yang bisa membuatnya kesal, senang, dst, jadi untuk saat ini saya adalah guru terbaik bagi dirinya.

3.  Belajarlah hanya saat anak dan diri kita sedang merasa senang dan bersemangat.  Saat belajar harusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat bagi anak. Ajari anak jika ia dalam keadaan senang, cukup istirahat dan cukup makan sehingga ia akan lebih mudah menyerap pelajaran yang ia terima. Saat orangtua sedang tertekan atau memiliki mood yang kurang bagus, sebaiknya hindari mengajar dulu. Hal ini berkaitan erat dengan nomor dua, bahwa orangtua adalah guru terbaik anak. Saya tahu kapan mood Sabil sedang baik atau jelek sehingga saya bisa memilih waktu yang tepat untuk mengajarinya membaca.

4. Hormati dan beri kepercayaan pada anak. Saya berusaha menghargai setiap perkembangan sekecil apa pun yang dialami oleh Sabil. Saat suatu hari daya ingatnya tidak baik dan ia melupakan huruf-huruf, saya tidak akan memaksanya untuk mengingat secara berlebihan, sebaliknya, saya justru menguatkan ia dengan kata-kata “nggak apa-apa, kamu sudah bagus kemarin, dan mama senang sekali. Nanti kita lanjutkan lagi, ya..”

5.    Berhenti saat anak ingin berhenti atau saat ia mulai tidak menikmati sesi belajarnya. Ini penting sekali dan saya berusaha menerapkan hal ini pada anak saya. Kami hanya belajar beberapa menit setiap harinya, dan hanya maksimal tiga sesi sehari. Saat ia sudah mulai bosan atau kelihatan lelah, saya langsung mengatakan padanya bahwa ia sudah bagus dan boleh bermain yang lain lagi. Biasanya ia akan menjawab “okeyyy!,” dan berlari menuju kotak mainannya. 

6.   Orangtua perlu untuk merencanakan setiap sesi pelajaran dan membuat jadwal yang teratur. Saya pun demikian. Agak susah memang untuk membuat jadwal apalagi karena Sabil masih balita dan belum terlalu bisa mengikuti jadwal, maka yang saya lakukan adalah ‘mencuri-curi’ waktu di jam-jam yang saya tahu mood dia sedang bagus. Biasanya saat pagi hari sekitar jam 9, di mana ia sedang sarapan sambil main di depan rumah. Saya akan mengambil sekitar 5 menit waktunya untuk belajar sambil bermain, lalu berhenti dan melanjutkan lagi di sore hari. Oh ya, saya pun membuat perencanaan untuk setiap sesinya, misalnya kata-kata apa yang ingin saya berikan padanya hari ini, lalu saya akan mencatat hal tersebut beserta perkembangannya sehingga setiap hari ada continuity.

7.   Jangan pernah mengetes anak. Glenn Doman berpendapat bahwa pemberian tes adalah suatu kegiatan yang kurang menyenangkan bagi anak-anak dan takut membuat mereka kehilangan semangat untuk belajar. Namun, saya tetap melakukan tes, tapi saya menyiasatinya dengan cara yang fun. Sabil sangat suka jika ayahnya, abangnya dan kakaknya tahu jika ia baru saja bisa menguasai sesuatu. Jadi biasanya, setelah ia menguasai dan bisa membaca beberapa kata, saya akan memanggil abang, “bang, kaka, sini deh, Sabil mau menunjukan sesuatu.” Saat abang serta kakaknya datang, mata Sabil berbinar-binar, seolah tak sabar untuk menunjukan kebolehannya. Lalu saya minta Sabil untuk membaca kata-kata serta menyebutkan huruf apa saja yang ada dalam kata tersebut. Saat ia selesai, abang dan kakak akan serentak bertepuk tangan dan memujinya. Ahhh, ini momen yang luar biasa bagi Sabil. Ia bahkan minta untuk dites lagi saat ayahnya pulang.

8.  Ciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Lingkungan belajar yang nyaman akan membantu anak untuk lebih fokus belajar meski pun sesi belajar hanya sebentar.  Anak-anak biasanya hanya bisa konsentrasi dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama dan biasanya mereka sangat visual, jadi, alat-alat pendukung belajar sebaiknya yang berukuran agak besar dan berwarna-warni. Saya pun menempatkan mainan edukasi di tempat Sabil belajar sehingga suasana belajar sambil bermain pun sangat terasa.

9.  Bicara dengan jelas, keras dan antusias. Saya rasa untuk mengajari apa pun kepada anak-anak kita memang harus menunjukan sikap antusias agar mereka juga terpacu untuk suka dan mempelajari hal tersebut. Saat mengucapkan suatu kata, saya akan bicara dengan cukup keras dan jelas agar ia bisa mengulangnya dengan benar. Hal ini sangat diperlukan karena banyak sekali kata-kata yang sudah ia dengar dari sekelilingnya namun kata tersebut kurang benar, misalnya seperti kata ‘item’ untuk ‘hitam’.

10.   Adaptasi. Tidak semua metode belajar akan cocok dengan seorang anak, itulah mengapa saya menjalankan hanya yang bias diterima oleh anak saya serta menggabungkan beberapa metode sekaligus bila diperlukan. Intinya sih fleksibel sehingga tidak memberatkan kita sebagai orangtua, apalagi si anak.



*******

Kamis, 03 September 2015

Yang saya pelajari saat si bungsu mogok sekolah

Yup, satu lagi masalah sebagai seorang mama, yaitu saat si kecil mogok sekolah. Saya pun sedang mengalaminya saat ini. Si bungsu yang berusia 4 tahun baru saja 'putus sekolah' dari play group tempat ia biasa menghabiskan beberapa hari sekolah setiap minggunya. 

si bungsu
Saya dan suami, dibantu oleh abang dan kaka sudah berusaha membujuknya untuk kembali ke sekolah, toh kami pikir di sana ia hanya perlu bermain dan bersosialisasi karena masih di taman bermain. Namun ia tetap menolak. Segala pendekatan sudah kami coba, terutama saya sebagai ibunya, saya tidak ingin kecolongan, saya tidak ingin ada hal-hal yang membuat anak saya takut apalagi trauma pergi ke sekolah. Jadi, jika ada alasan yang jelas mengapa ia tidak mau sekolah, kami pasti akan lebih tenang dan mengijinkan ia untuk tidak sekolah sambil berusaha mencarikan solusi terbaiknya.

Saya pun melakukan 'investigasi' dan menemukan 3 hal penting yang justru jadi pembelajaran penting buat saya dan suami sebagai orangtua dan saya harap juga bisa menjadi masukan bagi orangtua lainnya.

Teman sekelas yang 'mengganggu'
Ini sama sekali bukan bullying. Kenapa saya menggunakan tanda kutip di kata mengganggu? karena setelah saya amati, ternyata anak itu tidak berniat mengganggu si bungsu atau anak lainnya di kelas, namun perkembangannya (mungkin secara mental, saya tidak berani menghakimi, ini benar-benar opini pribadi saya sebagai orang awam) yang kurang dan tidak sesuai umurnya lah yang menyebabkan anak-anak lain terganggu terutama anak saya. Sederhananya begini, anak saya dan teman-teman sekelasnya kurang lebih berumur sama, sekitar 3,5 sampai 4 tahun, termasuk si anak ini. 

Mayoritas dari mereka bertingkah dan berperilaku sesuai dengan umurnya, namun ada satu anak yang menurut saya bertingkah seperti anak, let say, umur 2,5 tahun. Dari mulai perilaku sampai tingkat kemandiriannya. Nah?!, yang terjadi adalah, anak saya merasa capek harus terus mengalah terhadap anak ini. Misalnya saat sedang bermain bersama, anak ini lebih sering merebut, memukul (tidak keras kalau menurut pengakuan Sabil), menangis, meraung-raung, dst, yang sampai melibatkan babysitter si anak tersebut. Para guru merasa sedikit kewalahan, lalu memanggil babysitter untuk masuk dan membantu. Tentu saja jika berlangsung setiap hari hal ini akan mengganggu proses belajar mengajar di kelas, kan?. 

Apalagi ternyata, dari hasil ngobrol dari hati ke hati dengan si bungsu, saya bisa mengerti kegalauan hatinya tentang masalah ini. Jadi karena anak saya adalah anak yang dianggap anteng, pendiam, dan nrimo (saya mengganggapnya sebagai anak yang cinta damai, hehehe) ia selalu dipasangkan dengan anak tersebut di setiap kegiatan karena kebanyakan anak yang lain menolak bahkan bertengkar jika dipasangkan dengan anak itu.

"Dia nggak jahat, sih, ma, tapi dia kasar dan sering rebut mainan aku. Sering nangis-nangis nggak jelas gitu, pokoknya kayak anak kecil banget, deh" ujarnya suatu ketika, membuat saya menahan senyum mendengar kalimat terakhirnya itu. Lalu abang, yang kebetulan mendengar, nyeletuk dengan nada bercanda, "rebut lagi aja, Bil, kan itu punya kamu." Tanpa diduga, si bungsu menjawab, "nggak ah, bang, kasian, nanti dia nangis lagi." Ternyata si bungsu merasa kasihan dengan si anak ini karena terlalu sering menangis, meraung-raung pula, dan dia enggan membuat dua orang miss-nya serta si mbak babysitter keteteran dengan ulah si anak. Duhhh, di satu sisi saya bangga dengan sikap sabar dan pengalahnya, namun di sisi lain saya tidak ingin anak saya kecil-kecil sudah terlalu banyak menahan perasaan dan terbukti kan akhirnya ia tidak kuat dan memilih untuk berhenti sekolah?.

Sebagai catatan, saya sama sekali tidak menyalahkan anak tersebut, namun saya menyayangkan kebijakan sekolah, terutama para guru yang sangat tahu situasinya, yang harusnya mencari solusi yang terbaik agar anak-anak lainnya juga tetap mendapatkan haknya yaitu proses belajar yang normal dan minim gangguan.

gbr dari Bing

Perasaan kurang 'terlindungi' saat berada di sekolah
Lagi-lagi saya menggunakan tanda kutip karena penilaian ini sangat subjektif. Saya tidak ingin terlalu mudah menuduh dan menyalahkan orang lain, jadi sekali lagi, mohon digaris bawahi bahwa ini adalah murni opini saya.

Saat anak saya mulai enggan pergi ke sekolah, saya sudah mulai menawarkan beragam solusi padanya, dan yang paling sering ia minta adalah saya harus ikut menemaninya bahkan sesekali sampai masuk ke kelas, padahal sebelumnya ia tidak seperti itu. Tentu saja saya serta guru tidak mengabulkan permintaannya. Kalau saya menunggu di luar kelas masih oke, tapi kalau sampai masuk ke dalam kelas, saya tidak mau, guru pun tidak mengijinkan.

Dari pengalaman di atas, saya menangkap bahwa anak saya merasa terlindungi saat saya berada di sekitar sekolah. Pertama, karena miss-nya tidak akan berani memaksa saat ia tidak mau dipasangkan dengan si anak tersebut. Ke dua, si anak tersebut, saat tahu bahwa di luar ada saya, ia juga menjadi sedikit lebih behave, tidak terlalu banyak melakukan hal-hal yang merugikan si bungsu. Ke tiga, saat ada apa-apa, misalnya mainannya direbut dengan kasar, atau sampai ada kontak fisik, guru-guru lebih cepat melerai dan lebih terlihat bersikap tegas pada anak tersebut yang tentu saja membuat Sabil merasa lebih lega.

Intinya, di sekolah Sabil merasa dilindungi secara fisik, namun tidak secara psikis, itulah mengapa ia akhirnya ia meminta saya untuk sering berada di sekitar sekolah. Padahal saat berada di sekolahnya pun saya tidak berada di dekat kelasnya, saya lebih sering nongkrong dan makan bakso di dekat sekolah, namun ia tetap merasa aman.

gbr dari Bing

Image yang kurang menyenangkan tentang sekolah
Khusus untuk yang terakhir ini, saya mengakui bahwa ini sepenuhnya kesalahan saya. Saya lupa bahwa balita saya ternyata sudah mampu menangkap semua perbincangan orang dewasa dan kakak-kakaknya serta bahasa tubuh dan emosi kami semua. 

Karena abang sudah masuk SMP tahun ini, saya bersikap lebih tegas padanya, dengan lebih sering mengingatkan dia untuk belajar, mengerjakan PR, dll. Saya pun terkadang turun langsung mengajarinya saat ia kesulitan. Tujuan saya tentu demi kebaikan abang karena SMP tempat ia belajar adalah SMP favorit se-kota Depok dan saya hanya ingin ia bisa berprestasi dengan baik, itu saja. Begitu juga kaka yang sudah kelas 5 SD yang masih sangat hobi main sampai menjelang Maghrib, saya mengingatkan gadis pra-remaja saya itu untuk mengurangi waktu mainnya karena sebentar lagi dia akan naik kelas enam dan saya tidak ingin ia keteteran saat ujian nasional kelak.

Menurut saya apa yang saya lakukan adalah hal yang wajar, hingga suatu saat Sabil berujar, "aku nggak mau sekolah kayak abang dan kakak, nanti aku nggak bisa main lagi." Ya Allah, saya merasa tertampar bolak-balik. Ternyata tanpa saya sadari, saya sudah berperan dalam 'ketakutannya' terhadap sekolah. Image dia tentang sekolah adalah suatu tempat yang tidak menyenangkan di mana ia akan kehilangan haknya untuk bermain. Aduuuhhh, harus segera saya luruskan, nih!.

Ia kini lebih enjoy belajar dan bermain di rumah
Apa yang terjadi sekarang?. Saya sudah pelan-pelan menjelaskan bahwa abang dan kakak sudah besar dan mereka punya tanggung jawab yang berbeda dengan dirinya yang masih kecil. Saya juga menjelaskan dan memberi contoh bahwa meski pun abang dan kakak sudah besar dan sibuk sekolah tapi mereka tetap punya waktu khusus untuk bermain dan melakukan hobi mereka seperti sepak bola, tari Saman, taekwondo, dan main game di PC dan tablet

Dua bulan terakhir ini, pun, saya dan suami memutuskan untuk membiarkan Sabil tidak bersekolah secara formal. Kami tidak ingin membuatnya trauma soal sekolah dan kami ingin menunggu ia siap sambil terus memberi penjelasan, contoh, serta mengajarinya banyak hal di rumah, dengan cara yang fun tentunya karena kebanyakan ia belajar lewat mainan seperti puzzle, lego, dll. Alhamdulillah hasilnya sudah sangat terlihat. Kini ia bisa lebih disiplin, tidak menolak diajari, bahkan seringkali berinisiatif untuk minta sesi belajar bersama saya atau kakaknya.

Beberapa lama ke depan, saya pun akan lebih sering posting pengalaman saya belajar bersamanya, mulai dari belajar membaca dengan metode Glenn Doman, sampai membuat prakarya ala Mr. Maker kesukaannya.

Doakan saya sukses dengan semua ini, ya! :)