Rabu, 27 Januari 2016

Pentingnya Mengajarkan Komunikasi Survival pada Anak [Remaja]



Jujur saja, saya ibu yang kadang over protective terhadap anak-anak justru saat mereka semakin besar. Di satu sisi saya ingin anak-anak saya bisa survive menghadapi kehidupan di dunia ini, di sisi lain kadangkala saya tak tega saat mereka harus mengalami proses survival tersebut. Namun berkat dukungan suami serta campur tangannya yang besar dalam mendidik anak-anak , saya pun bisa belajar 'melepaskan' mereka mengikuti proses yang seharusnya mereka jalani agar life skills mereka semakin baik dan lebih baik lagi.

Belum lama ini ada pengalaman yang cukup mendebarkan dada. Si abang, anak pertama saya yang bisa dibilang 'anak mami' bersekolah cukup jauh dari rumah di mana ia diharapkan untuk bisa mengurus semua keperluan yang berhubungan dengan sekolahnya sendiri. Saya justru yang belum siap, karena belum lama, saat SD, hampir semua keperluannya yang berkaitan dengan sekolah, saya yang mengurus, mulai membeli baju seragam di sekolah, membeli buku sekolah, bertanya soal ekskul, membayar iuran sekolah, menghubungi pihak katering, dst.



Saat sudah SMP, suatu hari, ia berangkat ke sekolah tanpa membawa telepon genggam karena sedang diperbaiki. Hari itu ia berangkat naik jemputan namun ia bilang bahwa ia akan pulang naik ojek karena akan ada pemilihan ketua dan wakil ketua Pratama di sekolahnya di mana ia menjadi salah satu kandidat.

Saya bilang padanya bahwa kalau seperti itu situasinya, saya akan mengirim ojek untuk menjemputnya agar ia bisa pulang bersama ojek yang kami kenal. Ia bilang saya tidak perlu mengirim ojek karena ia belum tahu jam berapa acara pemilihan akan selesai. Saya cemas namun suami mengatakan agar saya membiarkan abang yang memutuskan karena abang lebih tahu situasinya dibandingkan kami. Akhirnya saya setuju.

Perkiraan saya, ia akan pulang paling telat jam 4.30 sore, namun tunggu punya tunggu, saat maghrib pun ia belum tiba. Saya menelepon sekolah, tidak ada yang mengangkat, tentu saja karena semua pasti sudah pulang pada jam tersebut. Saya pun mengirim pesan kepada suami yang kebetulan sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, ia langsung berbelok arah menuju sekolah anak saya, sampai di sana sekolah sudah kosong. Saya dan suami sangat resah, namun di dasar hati kecil kami yang paling dalam, kami tahu bahwa anak kami bisa menyelesaikan masalahnya dan kembali ke rumah dengan selamat.

abang dan adik-adiknya, semua pemalu...
Alhamdulillah, jam 7 malam ia sampai dan meminta uang ojek 50 ribu Rupiah karena uangnya tidak cukup. Ia terlihat sangat lelah. Ternyata kelelahannya adalah karena proses pemilihan ketua Pratama yang berat dan melelahkan juga karena ia harus berjalan sekitar 3-4 kilometer untuk akhirnya menemukan ojek karena saat itu sudah maghrib dan kebanyakan ojek pulang ke rumah atau sedang 'narik' juga. Yang membuat hati saya makin tidak menentu juga melihat salah satu bagian sepatunya yang sedikit terbuka, duuhh...

Ooooo..., saya hampir menangis saat mendengar ceritanya, namun suami saya segera mencolek. Suami menasihati, "jangan buat proses yang baru saja ia lewati sebagai sesuatu yang menyedihkan, tapi anggap sebagai sesuatu yang membanggakan.." Saya langsung memeluk abang, menyatakan kebanggaan saya bahwa ia berhasil pulang dengan selamat, apalagi ia juga berhasil terpilih sebagai wakil ketua Pratama.

Berdasarkan kejadian di atas, ada banyak hal yang membuat saya introspeksi diri. Saya pun semakin merasakan perlunya mengajarkan life skills pada anak-anak yang sudah beranjak remaja, dalam hal ini komunikasi yang tepat salah satunya mau bertanya kepada orang lain.

"jangan buat proses yang baru saja ia lewati sebagai sesuatu yang menyedihkan, tapi anggap sebagai sesuatu yang membanggakan.."

Sebenarnya, kemampuan komunikasi abang sangat bagus untuk sehari-hari, namun saya tersadar bahwa kemampuan komunikasi untuk survivalnya ternyata masih kurang. Ia masih seringkali malu untuk banyak bertanya, contohnya saat ia mencari ojek, ia hanya bertanya satu kali dan lebih memilih untuk mencari sendiri meski pun harus berjalan kaki sangat jauh. Padahal jika ia banyak bertanya, mungkin ia tidak perlu berjalan sampai sekitar empat kilometer untuk menemukan tukang ojek.

Dunia modern saat ini, di mana kita dan anak-anak sangat tergantung pada gadget ternyata sudah sangat mengikis kemampuan komunikasi survival ini. Saat ingin mencari tahu sesuatu, daripada bertanya pada orang lain saya memilih bertanya pada 'mbah Google', saat ingin memesan sesuatu, saya cukup meng-install aplikasinya dan klik 'pesan', tak lagi perlu repot-repot menelepon untuk melakukan reservasi.

Saya bahkan tidak ingat kapan terakhir kali saya memesan taksi lewat telepon, di mana saya harus berbicara dengan operator, menerangkan beberapa hal dan seterusnya. Ouch, ini dia yang juga diaplikasikan oleh anak-anak saya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Jadi terbayang kan?, saat abang tidak membawa smartphone ke sekolahnya, ia langsung mendapat 'masalah', padahal jika ada smartphone miliknya, ia bisa langsung mengklik untuk pesan layanan ojek atau taksi yang sudah biasa kami pesan.


jangan biarkan anak terlalu lama memegang gadget.
Intinya gadget memang mempermudah kehidupan, namun mengikis daya survival kita yang harusnya tetap kita miliki untuk menghadapi masalah yang tidak terduga. Jadi, membiasakan mereka menelepon call center/customer service untuk menanyakan atau memesan sesuatu adalah hal yang sangat baik untuk melatih komunikasi mereka.

Terhadap abang pun saya sudah berusaha untuk membiarkan ia yang bertanya segala macam kepada pihak sekolah mengenai buku-buku, seragam, ekskul, dll. Awalnya saya menerima penolakan saat ia berkata, "ma, temen-temenku katanya diurusin sama ibunya. Jadi ibunya datang ke koperasi sekolah dan pesen di sana." Meski pun hati kecil saya rasanya ingin melakukan hal yang sama, namun dengan berat hati saya menjelaskan padanya bahwa saya bisa saja melakukan hal tersebut, namun saya yakin, jika ia melakukannya sendiri, akan ada begitu banyak manfaat yang ia dapatkan, mulai dari keberanian untuk berbicara dengan orang dewasa lain, kemampuan menggali informasi (seperti apa saja yang dibutuhkan untuk mendapat seragam dan buku sekolah, berapa biayanya, kapan harus ukur, kapan paling telat untuk melakukan pembayaran, dst).

Dalam prosesnya pun ia belajar soal 'bertanya pada orang yang tepat.' Saat minggu-minggu awal di SMP, ia ingin ikut ekskul namun belum tahu ada ekskul apa saja di sekolahnya. Saya minta ia untuk langsung bertanya ke bagian tata usaha sekaligus untuk mengetahui jadwalnya. Pulang ke rumah saya tanya, apakah tugas bertanya ke tata usaha sudah ia lakukan?, ia menggeleng, namun sebelum sempat saya bereaksi ia segera menjawab, "tapi aku udah tanya temenku kok, katanya hari Sabtu ini ada ekskul futsal, jadi aku dateng ya, ma." Saya tahu, ia enggan dan malu bertanya ke bagian tata usaha, apalagi ia masih sangat baru di sekolah tersebut.

Pada hari Sabtu, saya dan suami mengantarnya ke sekolah, dan ternyata keadaan sekolah sangat sepi. Saya bertanya pada satpam dan saya peroleh informasi bahwa kegiatan ekstra kurikuler memang belum dimulai karena masih disibukan dengan proses daftar ulang, dsb. Ekskul baru akan aktif kembali bulan berikutnya.

Abang mesem-mesem, antara malu dan merasa bersalah. Di situ ia kembali belajar bahwa bertanya kepada orang yang tepat, dalam hal ini pihak sekolah sebagai penyelenggara ekskul adalah yang paling benar, karena meski pun si teman mungkin punya informasi juga, namun ia sama-sama anak baru seperti abang. Saya bilang pada abang bahwa tidak apa-apa untuk bertanya pada teman, namun sebaiknya, jika memungkinkan, bertanyalah pada pihak sekolah langsung. Yup, lesson learned. Malu bertanya sesat di jalan ...

***

10 komentar:

Eka Gobel mengatakan...

Abaang keeen...

kira kara mengatakan...

Waaaa.. aku juga pemaluu.. lesson learned!

Nurul Dwi Larasati mengatakan...

Bertanya sama saja memulai komunikasi

Nurul Dwi Larasati mengatakan...

Bertanya sama saja memulai komunikasi

zata ligouw mengatakan...

@Eka: tante Ekaaaa ;p

@kira kara: makanya jangan malu nanya ya Wit ;p

@zataligouw mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
@zataligouw mengatakan...

Yapp, setuju banget Nurul Dwi Larasati :)

ella mengatakan...

aku tuh suka males tanya2 atau ngomong

zata ligouw mengatakan...

makanya jangan males dong La ;p

Watch movie HD mengatakan...

Entah kenapa aku kadang malu klo mau nanya (mungkin bawaan lahir) soalnya aku introvert.

Poskan Komentar