Sabtu, 07 Mei 2016

5 Tips agar Anak Alergi Maksimal Berprestasi


Pastikan alergi tidak menghambat potensi si kecil, ya, mama ...
Abang, Kaka, dan si bungsu alergi debu. Khusus untuk kaka, hampir setiap pagi ia bersin-bersin dan mengeluarkan lendir karena alerginya tersebut, belum lagi alergi udang yang dideritanya yang membuat seluruh tubuhnya gatal setiap kali mengkonsumsi udang.

Saat balita kaka bahkan sempat hanya mengkonsumsi susu soya karena setiap kali minum susu sapi ia akan muntah.

Masalah alergi tersebut bisa menghambat aktivitas mereka sehari-hari dalam meraih prestasi, oleh karena itu saya merasa harus mencari tahu secara rinci mengenai alergi apa saja yang diderita oleh anak-anak, bagaimana cara mencegahnya serta bagaimana penanganannya jika sudah terjadi.

Dalam rangka Morinaga Allergy Week, saya pun belajar banyak soal alegi. Semua mulai dari ingin tau, cegah, atasi, dan sebar.

Nah, mari kita cari tahu lebih jauh tentang alergi…


MARI KENALI ALERGI

Saat kita mencurigai bahwa kita atau anak-anak mengalami gejala alergi, lebih baik cari tahu lebih dulu mengenai alergi. Dua faktor penyebab alergi adalah faktor genetik atau keturunan serta faktor lingkungan. 

Faktor genetik 
Faktor genetik adalah saat anak mendapatkan 'bakat' alergi dari orangtuanya. Anak yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat alergi cenderung memiliki peluang memiliki alergi lebih tinggi daripada yang tidak.

Sebagai contoh, suami saya alergi debu dan alergi dingin dan saya tidak memiliki alergi apa pun. Anak-anak saya ternyata mendapat 'bakat' alergi dari ayahnya. Kaka sering bersin-bersin di pagi dan malam hari saat cuaca dingin, sementara si bungsu akan sering batuk jika terpapar debu.

Faktor Lingkungan
Dalam keadaan normal, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi jika terdapat ’ancaman’ dari luar. Ketika ’ancaman’ berupa bakteri atau virus menyerang, sistem kekebalan akan melindungi tubuh dengan cara menghasilkan antibodi. Dalam keadaan alergi, sistem kekebalan tubuh salah mengenali bahan yang sesungguhnya tidak berbahaya sebagai suatu ’ancaman’ sehingga menimbulkan reaksi alergi. Bahan tersebut dikenal dengan istilah alergen. Alergen bisa berasal dari makanan, debu/serbuk tanaman/ bulu hewan/jamur, lateks, sengatan serangga atau obat-obatan.




RISIKO ALERGI PADA ANAK

Penyakit alergi seperti asma, rhinitis alergi, alergi makanan, dermatitis atopik serta alergi protein susu sapi  merupakan merupakan alergi tipe atopi yang paling banyak diderita.

Faktor risiko dari perkembangan alergi dapat berasal dari faktor genetik keluarga yakni keluarga dengan riwayat positif atopi. Jika kedua orang tua tidak memiliki alergi maka risiko alergi yang diturunkan, hanya sebesar 5 sampai 15%. Jika dalam keluarga memiliki satu saudara kandung yang positif alergi, maka risiko alergi yang diturunkan sekitar 25 sampai 30%. 

Sementara itu, jika salah satu orang tua memiliki alergi maka risiko alergi yang diturunkan sebesar 20 sampai 40% dan jika kedua orang tua memiliki riwayat alergi maka risiko alergi yang diturunkan sebesar 40-60%. Akan tetapi, risiko tersebut meningkat hingga 80 % bila kedua orangtua menderita alergi yang sama. 

PENGARUH PENGENALAN MAKANAN PADAT PADA BAYI

Lalu bagaimana dengan pengenalan makanan padat pada bayi? Waktu pengenalan makanan padat yang tidak tepat, berpengaruh terhadap perkembangan penyakit alergi. Pengenalan makanan padat secara dini sebelum usia 3-4 bulan dapat menjadi faktor risiko alergi. 

Jadi kapankah pengenalan makanan padat yang tepat bagi bayi? Pada kelompok berisiko alergi, penelitian menunjukkan bahwa pengenalan makanan padat pada usia 4-6 bulan dapat menurunkan kejadian alergi. Jadi, rekomendasi upaya pencegahan alergi adalah pemberian ASI eksklusif dan pengenalan makanan padat pada usia 6 bulan.

Secara umum, tindakan pencegahan alergi harus dilakukan sejak usia dini agar tumbuh kembang anak tidak terganggu. Poin  penting yang harus ditekankan adalah bahwa pencegahan primer alergi merupakan tindakan yang paling penting. Pencegahan penyakit alergi seperti asma, rinitis alergi, alergi makanan dan dermatitis atopik, menjadikan tumbuh kembang anak lebih optimal. 

Tindakan preventif ini mencakup tidak adanya restriksi diet selama masa kehamilan serta setelah melahirkan, dengan pemberian ASI eksklusif selama minimal 6 bulan dan tidak ada restriksi diet. Jika pemberian ASI tidak dimungkinkan, maka dapat diberikan susu formula hidrolisat.

memberi ASI eksklusif serta pengenalan makanan padat pada usia 6 bulan demi mengurangi risiko alergi

MORINAGA COACHING CLINIC dan LIVE CHAT

Saat mengetahui bahwa Morinaga mengadakan Morinaga coaching clinic dan live chat mengenai alergi, saya pun langsung tertarik untuk berdiskusi langsung dengan dokter yang berpengalaman. Kita bisa melakukan live chat namun saya lebih memilih bertemu dan berdiskusi langsung dengan dokter sehingga saya pun mendaftar untuk mengikuti coaching clinic di KALCare Pondok Indah.

Ruang tunggu KALcare Pondok Indah yang sangat nyaman untuk anak-anak
berfoto di KALcare sebelum konsultasi
"aku mau jadi pemadam kebakaran"
Pada sesi Morinaga coaching clinic tersebut saya mengobrol dengan dokter yang sedang bertugas di KALcare Pondok Indah mengenai beberapa hal, salah satunya adalah apakah alergi seperti alergi debu dan dingin bisa dihilangkan?. Menurut dokter, untuk menghindari terjadinya alergi, faktor pencetus alergi seperti debu dan dingin harus dihilangkan. Menjaga kebersihan rumah dari debu dan kotoran lainnya adalah suatu keharusan. Membiasakan anak menggunakan baju hangat di saat udara sedang dingin juga sangat disarankan.

Dengan berjalannya waktu, biasanya alergi akan berkurang atau bahkan hilang sama sekali, tergantung keparahan alergi yang diderita. Ini benar sekali karena hal itu terbukti pada suami saya. Saat kecil hingga remaja, ia sangat alergi dingin. Jika terkena udara dingin, selain bersin-bersin, tubuhnya pun akan merah dan bengkak, namun lama-kelamaan hal tersebut berkurang dan saat ini ia bahkan sudah tidak pernah mengalami merah dan bengkak di kulit saat kedinginan.

Dalam kesempatan yang sama saya pun berkonsultasi mengenai masalah berat badan karena saya merasa sudah cukup berolahraga dan makan sesuai porsi namun rasanya berat badan saya belum juga ideal. Saya disarankan untuk menambah asupan protein (karena jujur saja saya ternyata kebanyakan makan karbo, huhu..) dan serat dari buah-buahan dan sayur serta jika perlu mengkonsumsi suplemen pengganti makan pagi dan malam.

senang sekali bisa mendapat banyak masukan soal alergi


sekalian dong saya konsultasi masalah kesehatan tubuh dan berat badan ;p
Buat yang tdk bisa datang ke KALCare, ada juga sesi Live Chat dan Tanya Dokter, lengkap deh, pokoknya....

Bagi yang tidak sempat atau tidak bisa datang ke sesi coaching clinic, bisa langsung bertanya dan berkonsultasi lewat website www.cekalergi.com di mana para dokter akan sigap menanggapi pertanyaan-pertanyaan mama yang berhubungan dengan alergi dan penanganannya.




Lalu bagaimana jika anak ternyata beresiko mengalami alergi susu sapi?  Jangan khawatir, ikuti panduan di bawah ini:

TATA LAKSANA ALERGI SUSU SAPI

1. Nutrisi
1.1. Prinsip utama terapi untuk alergi susu sapi adalah menghindari (complete avoidance) segala bentuk produk susu sapi tetapi harus memberikan nutrisi yang seimbang dan sesuai untuk tumbuh kembang bayi/anak.

1.2. Bayi dengan ASI eksklusif yang alergi susu sapi, ibu dapat melanjutkan pemberian ASI dengan menghindari protein susu sapi dan produk turunannya pada makanan sehari-hari. ASI tetap merupakan pilihan terbaik pada bayi dengan alergi susu sapi. Suplementasi kalsium perlu dipertimbangkan pada ibu menyusui yang membatasi protein susu sapi dan produk turunannya

1.3. Bayi yang mengonsumsi susu formula:
1.3.1. Pilihan utama susu formula pada bayi dengan alergi susu sapi adalah susu hipoalergenik. Susu hipoalergenik adalah susu yang tidak menimbulkan reaksi alergi pada 90% bayi/ anak dengan diagnosis alergi susu sapi bila dilakukan uji klinis dengan interval kepercayaan 95%. Susu tersebut mempunyai peptida dengan berat molekul < 1500 kDa. Susu yang memenuhi kriteria tersebut ialah susu terhidrolisat ekstensif dan susu formula asam amino. Sedangkan susu terhidrolisat parsial tidak termasuk dalam kelompok ini dan bukan merupakan pilihan untuk terapi alergi susu sapi.

1.3.2. Formula susu terhidrolisat ekstensif merupakan susu yang dianjurkan pada alergi susu sapi dengan gejala klinis ringan atau sedang. Apabila anak dengan alergi susu sapi dengan gejala klinis ringan atau sedang tidak mengalami perbaikan dengan susu terhidrolisat ekstensif, maka dapat diganti menjadi formula asam amino. Pada anak dengan alergi susu sapi dengan gejala klinis berat dianjurkan untuk mengonsum formula asam amino.

1.3.3. Eliminasi diet menggunakan formula susu terhidrolisat ekstensif atau formula asam amino diberikan sampai usia bayi 9 atau 12 bulan, atau paling tidak selama 6 bulan. Setelah itu uji provokasi diulang kembali, bila gejala tidak timbul kembali berarti anak sudah toleran dan susu sapi dapat dicoba diberikan kembali. Bila gejala timbul kembali maka eliminasi diet dilanjutkan kembali selama 6 bulan dan seterusnya

1.4. Apabila susu formula terhidrolisat ekstensif tidak tersedia atau terdapat kendala biaya, maka sebagai alternatif bayi dapat diberikan susu formula yang mengandung isolat protein kedelai dengan penjelasan kepada orang tua kemungkinan adanya reaksi silang alergi terhadap protein kedelai pada bayi. Secara keseluruhan angka kejadian alergi protein kedelai pada bayi berkisar 10-20% dengan proporsi 25% pada bayi dibawah 6 bulan dan 5% pada bayi diatas 6 bulan. Mengenai efek samping, dari beberapa kajian ilmiah terkini menyatakan bahwa tidak terdapat bukti yang kuat bahwa susu formula dengan isolat protein kedelai memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan, metabolisme tulang, sistem reproduksi, sistem imun, maupun fungsi neurologi pada anak

1.5. Pada bayi dengan alergi susu sapi, pemberian makanan padat perlu menghindari adanya protein susu sapi dalam bubur susu atau biskuit bayi.

1.6. Susu mamalia lain selain sapi bukan merupakan alternatif karena berisiko terjadinya reaksi silang. Selain itu, susu kambing, susu domba dan sebagainya tidak boleh diberikan pada bayi di bawah usia 1 tahun kecuali telah dibuat menjadi susu formula bayi. Saat ini belum tersedia susu formula berbahan dasar susu mamalia selain sapi di Indonesia. Selain itu perlu diingat pula adanya risiko terjadinya reaksi silang.


Nah, lalu bagaimana kaitannya antara alergi dan prestasi anak?. Alergi memang tidak berpengaruh langsung terhadap prestasi anak, namun berdasarkan pengalaman saya, alergi kadang menghambat aktivitas anak yang tentu saja bisa berakibat pada penurunan prestasinya.

Sebagai contoh, misalnya kaka akan berkurang konsentrasinya di sekolah saat pagi hari karena seringkali di pagi hari ia bersin-bersin dan mengeluarkan lendir, sehingga ia sibuk memakai sapu tangan untuk menutupi hidung dan mulutnya. Dengan berkurangnya konsentrasi di sekolah tentu saja bisa berakibat penurunan prestasinya, duhhh, jangan sampai, deh…

5 TIPS AGAR ANAK ALERGI TETAP BERPRESTASI

Lalu, bagaimana agar anak alergi tetap berprestasi?. Ini dia 5  tips andalan saya yang mungkin bisa kita praktekan bersama-sama …

1. Semua mulai dari ingin tau, cegah, atasi, dan sebar. Kita sudah sama-sama tahu tentang apa itu alergi, bagaimana cara mencegah serta mengatasinya lewat beberapa penjelasan di atas. Lalu jangan lupa untuk menyebarkan informasi-informasi yang sudah kita ketahui ya bunda, seperti yang sedang saya lakukan saat ini, berbagi dan menyebarkannya lewat artikel blog serta lewat sosial media yang saya miliki. Mudah-mudahan makin banyak bunda yang mengetahui dengan jelas mengenai alergi dan penanganannya…

2. Catat riwayat alergi anak. Perhatikan setiap gejala alergi anak dan jangan lupa untuk mencatatnya. Misalnya saat memakan suatu makanan dan kulitnya gatal-gatal, atau saat mengkonsumsi obat tertentu ternyata ia alergi dengan obat tersebut. Untuk mencegah ia mengkonsumsi makanan dan mendapat obat yang sama, buat jurnal khusus. Ini sangat berguna bagi kita dan juga bagi dokter anak kita. 

Mama bisa mengunduh jurnal alergi di website Morinaga. Silahkan print lalu buat menjadi jurnal alergi untuk keluarga, terutama anak-anak.

Agar lebih semangat mencatat, mama bisa membuat DIY buku jurnal alergi dari kardus bekas susu, lho, seperti punya saya ini ....


#DIY Jurnal alergi si bungsu

bagian dalam #DIY Jurnal Alergi

bahan-bahannya
Bahan serta alat yang dibutuhkan:
  • kardus bekas susu
  • halaman jurnal alergi yang sudah diprint
  • kertas recycle
  • kertas berwarna
  • kartu bekas bergambar karakter kesukaan si kecil

Cara membuat:
  1. Potong kardus bekas susu untuk menjadi cover buku, ukuran bisa disesuaikan dengan keinginan
  2. Tempel lembar jurnal ke kertas recycle, atau bisa langsung print dan jadikan halaman-halaman
  3. Satukan kertas recycle dengan cover buku menggunakan staples besar atau jahit dengan jarum besar.
  4. Hias buku dengan kertas warna dan karakter kesukaan si kecil
Jurnal alergi buat si kecil pun siap dipakai...

3. Berolahraga. Sejak anak-anak masih berusia batita, saya dan suami berusaha membiasakan anak-anak untuk berolahraga. Bahkan anak bungsu kami sudah kami ajak berenang sejak usia 3 bulan.

Saat ini, secara teratur setiap libur, kami akan melakukan olahraga ringan seperti jalan kaki. Saat tidak sempat keluar rumah, anak-anak kini terbiasa untuk menggunakan alat-alat yang ada di rumah seperti skipping, air climber, serta melakukan beberapa gerakan yoga yang aman bagi anak-anak. 

Selain itu, anak-anak juga mengikuti kegiatan olahraga tambahan baik dari sekolah mau pun tidak, seperti bola, taekwondo, dan berenang. 

Saya berharap, dengan berolahraga secara teratur, daya tahan tubuh mereka pun akan semakin kuat sehingga bisa meminimalisir pengaruh alergi. Saat tubuh mereka sehat, alergi berkurang, prestasi pun akan meningkat.


abang Kenan sebagai kiper di klub sepakbolahnya.


alergi dingin bukan berarti tidak boleh berenang, kan? :)
olahraga outdoor kesukaan kaka

4. Berkreasi bersama. Ajak anak-anak untuk lebih kreatif. Pancing lewat permainan mau pun aktivitas-aktivitas lain yang dapat mengeluarkan jiwa kreatif mereka. Saat anak-anak semakin kreatif dan merasa senang dengan apa yang mereka hasilkan, mereka akan merasa lebih bahagia dan ini akan berpengaruh terhadap daya tahan tubuh serta mood untuk belajar dan berprestasi.

5. Konsumsi makanan serta minuman yang tepat. Misalnya saat anak-anak alergi susu sapi, berikan susu pengganti agar mereka tetap mendapatkan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh. Jangan lupa siapkan makanan dan minuman sehat favorit anak-anak, salah satu yang kami suka adalah fruits milkshake. Ini dia resepnya, cobain, yuk…


wortel, pepaya, belimbing, sedikit gula, dan Morinaga soya
Bahan dan cara membuat:
  • 3 buah wortel lokal
  • 1 buah belimbing dipotong-potong
  • 1 cup kecil pepaya dipotong dadu
  • gula secukupnya
  • 2 gelas air
  • 6 sdm susu soya
  1. Blender semua buah-buahan, lalu saring, buang ampasnya. 
  2. Masukan jus yang sudah disaring kembali ke dalam blender, masukan gula dan susu soya. 
  3. Tambahkan es batu jika suka. Blender sampai sedikit berbuih, masukan ke gelas dan siap untuk dinikmati.
Ini dia video pembuatan Fruits Milkshake favorit anak-anak saya :)



INFO NUTRISI

Lalu, jika anak kita alergi susu sapi sedangkan ia sudah tidak mengkonsumsi ASI lagi, bagaimana cara memastikan agar nutrisinya tetap terjaga agar tumbuh kembang optimal dengan beberapa keterbatasan pilihan makanan serta minumannya?. 

Untuk itu, Morinaga sudah menyiapkan solusi total alergi dengan sinergi nutrisi yang tepat. Ada dua pilihan solusi total alergi dari Morinaga, yaitu Morinaga Chil Kid P-HP dan Morinaga Chil Kid Soya.

Chil Kid untuk si bungsu
Chil School untuk abang dan kaka
Morinaga Chil Kid P-HP MoriCare+ adalah formula pertumbuhan untuk usia anak 1-3 tahun dengan protein whey terhidrolisa parsial. Morinaga Chil Kid P-HP MoriCare+ merupakan kombinasi antara zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan mikro (vitamin dan mineral) yang dapat memenuhi kebutuhan untuk pertumbuhan anak-anak kita.




Morinaga Chil Kid Soya MoriCare+ adalah formula pertumbuhan bergizi dengan isolat protein. Morinaga Chil Kid Soya MoriCare+ merupakan kombinasi antara gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan mikro (vitamin dan mineral) yang dapat memenuhi kebutuhan untuk pertumbuhan anak-anak kita. 
Morinaga Chil Kid Soya MoriCare+ dilengkapi dengan Bifidobacterium longum BB536 dan Bifidobacterium breve M-16V.



Mau tahu lebih banyak soal alergi dan produk Morinaga? silahkan langsung cek di website serta media sosialnya, ya...

Website : www.cekalergi.com
Facebook: Morinaga Platinum
Twitter: @MorinagaID
Instagram: MorinagaPlatinum

Nah, bagaimana mama, sudah semakin jelas tentang alergi dan cara penanganannya, kan? Serta produk minuman yang bernutrisi dan aman bagi anak yang alergi. 

Yuk, saatnya untuk ikut menyebarkan informasi bermanfaat ini agar makin banyak mama-mama lain yang TAU, bisa CEGAH, ATASI, serta SEBAR soal alergi sehingga makin banyak anak #AlergiTetapBerprestasi J

***

23 komentar:

lubena ali mengatakan...

Anakku juga alergi tapi bukan alergi susu sapi, dia alergi debu.
Lengkap banget Mbak artikelnya, sangat bermanfaat.

Lee Via Han mengatakan...

Duh suami alerginya banyak euyy dan ak engga ada, semoga nanti babyku ikutin emaknya kalau udah lahir engga alergian, kayanya rada ribet kalau anak kecil udah punya alergi segala :(

www.leeviahan.com

zata ligouw mengatakan...

@LubenaAli, makasihhh udah mampirrr...

zata ligouw mengatakan...

@LeeViaHan, sama dong sama suamiku, untungnya anak2 nggak smua nurunin alerginya dia sih. Amiin, iya mba, nggak selalu kok..

zata ligouw mengatakan...

@LeeViaHan, sama dong sama suamiku, untungnya anak2 nggak smua nurunin alerginya dia sih. Amiin, iya mba, nggak selalu kok..

zata ligouw mengatakan...

@LubenaAli, makasihhh udah mampirrr...

Febri Dwi Cahya Gumilar mengatakan...

Ya ampun, alergi itu nggak enak juga ya ._. berasa terbatas gitu. Tapi eh, morinaga membantu banget ya :D

zata ligouw mengatakan...

Iya @FebriDwi ganggu bgt kalo alerginya parah :(

Nurul Rahmawati mengatakan...

Kalo ini dilombakan, aku tebak bakal jadi JUARA!
:)

Btw, bajunya mbak Zata asiiiik banget, dan gestur mba Zata mendukung sekali dgn style ituuuh :)

bukanbocahbiasa(dot)com

zata ligouw mengatakan...

ahhh mba Nurul bikin ge er, ih..

ahaha iya bajunya lucu ya, itu baju jaman kuliah yang tiba2 aku temuin lagi pas lagi beres2, jins overall belel kesukaan. Makasih yaaa...

Cumilebay MazToro mengatakan...

Oh efekmakanan padat saat bayi ini berpengaruh juga
Waktu kecil, gw gak tahan debu, begitu kena debu dikit langsung meler tapi makin gede makin kebal.

Tian Lustiana mengatakan...

thanks mak Zata sharingnya, kompliiit banget nih penjelasannya

Ririe Khayan mengatakan...

wew...sptnya seru dan unik kombinasi jus wortel, pepaya, belimbing. Selama ini saya baru coba kombinasi wortel, tomat dan jambu merah:)

zata ligouw mengatakan...

Iya mas @Cumilebay, ada kemungkinan makin besar alergi bisa hilang..

zata ligouw mengatakan...

Sama-samaaa mba @TianLustiana :)

zata ligouw mengatakan...

@RirieKayan kebetulan depan rumah ada pohon belimbing soalnya :)

Eka Gobel mengatakan...

Lengkap banget ta, infonya. Asyik yaa bisa ikut coaching clinic ttg alergi. Mau ah, ke kalcare!

Eka Gobel mengatakan...

Lengkap banget ta, infonya. Asyik yaa bisa ikut coaching clinic ttg alergi. Mau ah, ke kalcare!

zata ligouw mengatakan...

@EkaGobel, iya Ka, kalo lagi sempet emang enak datang dan nanya2 langsung ke KalCare..

Keke Naima mengatakan...

Kreatif, Mbak. Ada DIY Jurnal Alergi dan menunya segala. Iya tuh yang namanya alergi memang harus dikelola dengan baik supaya jangan kambuh. Saya ngerasain banget kalau alergi udah kambuh rasanya gak nyaman

zata mengatakan...

Makasih @KekeNaima, iya setuju, gak nyaman banget rasanya kalo alergi kambuh..

Yoekaa mengatakan...

oalah ginitoh tipsnya... keponakan saya gitu sering alergi suhu sama beberapa makanan gitu

zata ligouw mengatakan...

@Yoekaa
iyaa, gitu tipsnya, semoga bermanfaat yaaa..

Poskan Komentar