Senin, 04 Juli 2016

Mari bahu membahu cegah vaksin palsu - #BPOMsahabatibu


gbr - bing.com
Semua orang, terutama para orangtua, dan mama khususnya sangat panik mendengar berita soal beredarnya vaksin palsu beberapa minggu belakangan ini. Tak terkecuali saya. Banyaknya berita yang beredar, belum lagi hoax yang mengikutinya, rasanya tidak bijak bila saya langsung menyalahkan salah satu pihak tanpa mencari tahu lebih lanjut.

Saya punya tiga anak dan belasan keponakan, rasanya sudah tugas saya untuk mencari tahu secara rinci alih-alih kecewa, marah, dan menyalahkan pihak-pihak tertentu. Jujur saja, saya sedih dan kecewa, namun saya ingin mengajak ibu lainnya untuk sama-sama membantu pihak terkait menyelesaikan masalah ini.

Kebetulan sekali pada tanggal 30 Juni 2016 lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Sahabat Ibu Indonesia (SII) dan BloggerCrony mengundang saya juga para blogger lainnya untuk hadir dalam diskusi mengenai beredarnya vaksin palsu ini.

Dalam kesempatan tersebut, Drs. Arustiyono, Apt, MPH menyampaikan beberapa hal penting. Pak Arus mengatakan bahwa pemerintah pada jalur resmi menjamin vaksin bermutu tinggi atau asli. Kasus ini terjadi di jalur tak resmi/ilegal sehingga harganya murah. Ada motif ekonomi dari pelaku. Mereka meproduksi vaksin palsu di rumah. Ini melanggar hukum dan harus ditindak tegas.


Pak Arus, ibu Ria, dan mba Dya sebagai moderator
Sebetulnya sejak dulu BPOM selalu melakukan pengawasan, menginspeksi dan mengecek setiap batch produksi sebelum diedarkan ke masyarakat. Nah, masalah vaksin palsu ini beredar di jalur gelap atau ilegal dan kejahatan ini sudah sejak lama.

Kasus vaksin palsu sebelumnya pernah terjadi di tahun 2008, 2013, dan 2014. Tapi modusnya berbeda dengan kasus sekarang. Yang lalu, modusnya vaksin yang sudah expired labelnya dikerok diganti label baru. Yang terjadi sekarang lebih tidak manusiawi lagi, berdasarkan keterangan Bareskrim POLRI, mereka mengoplos sendiri di rumah, ditambah antibiotik dan air keran,  ini sangat membahayakan sekali.

Oplosan antibioka, bahaya utamanya bila anak alergi bisa shock dan menimbulkan kematian. Vaksin palsu juga diisi air kran yang tak steril, kita tahu bahwa udara memiliki berjuta-juta bakteri dan kuman dan pembuatan dilakukan di rumah yang jelas-jelas merupakan tempat terbuka yang otomatis memudahkan kuman dan bakteri untuk masuk. Bayangkan, oplosan itulah yang disuntikan pada bayi-bayi kita ...
Saya di depan banner acara BPOM
Presiden pun telah memberi pernyataan tegas untuk menghukum para pemalsu dengan hukuman berat. Penyebaran vaksin palsu ini sudah terdeteksi di 9 provinsi dan 37 titik di rumah sakit- rumah sakit, klinik, apotek, serta praktek bidan. Tempat-tempat tersebut sedang diproses secara hukum oleh pihak yang berwajib.

Ke depanya, BPOM akan lebih mengintensifkan melakukan pemeriksaan di sarana-sarana pelayana kesehatan dan pelayanan kefarmasian, apakah tedapat vaksin palsu atau tidak. BPOM bekerja sama dengan Kemenkes agar sarana pelayanan kesehatan tak membeli vaksin dari jalur ilegal. Jangan tergiur vaksin murah karena disinyalir kalau murah itu kemungkinan salah satu indikasi palsu.

Menurut Kemenkes, vaksin dasar bisa dipastikan aman, justru yang sering dipalsukan adalah vaksin tambahan yang harganya mahal. Sedangkan vaksin dasar itu harganya kurang dari 1 dolar sehingga kalau dipalsukan untungnya tak besar. 

Selain itu, menjadi tantangan lintas sektor antara Kementrian Kesehatan dan POLRI untuk  bisa mendeteksi secara dini pembuatan dan peredaran vaksin palsu tersebut. 

Masyarakat pun sangat diharapkan ikut berperan serta dalam hal ini, misalnya dengan turut mengecek kemasan serta tanggal kadaluarsa obat serta vaksin yang akan digunakan. Jangan pula segan bertanya kepada tenaga kesehatan jika menemukan hal-hal yang mencurigakan serta ragu akan keaslian vaksin yang akan digunakan saat imunisasi. 

Kita juga sempat mendengar bahwa di pasar Pramuka, Jakarta, banyak beredar produk-produk palsu dan ilegal, tanggapan BPOM bahwa kewenangan mereka sebatas pada produk, sedangkan menindak lanjuti serta menindak secara hukum sarana di sana bukanlah kewenangan mereka. 

Tahun 2015 BPOM merekomendasikan sekitar 7600 toko obat dan apotek yang disinyalir menyalurkan  produk ilegal kepada Dinkes kab/kota, tapi BPOM tak punya kewenangan untuk memberikan sanksi. Izin toko obat, apotek, termasuk di pramuka itu kewenangan Pemda.


Di sini lah kembali saya mengharapkan agar pemerintah melakukan koordinasi lintas sektor secepatnya agar permasalahan ini segera selesai.


BPOM juga pernah merekomendasikan pada walikota Surabaya, ibu Risma agar mencabut izin beberapa apotek dan hampir 100 persen ditindaklanjuti oleh beliau. Karena itu, mari kita sama-sama memperkuat sistem pengawasan kita. 


Ibu Riati Anggraini, SH MARS, M.Hum., selaku Kepala Biro Hukum dan Humas, juga hadir dan berbagi dengan para peserta mengenai kondisi saat ini. Menurutnya, dengan adanya kasus vaksin palsu ini, BPOM, sama dengan pihak-pihak lainnya, turut introspeksi diri dan bekerja sama dengan pihak terkait, jangan saling menyalahkan. Kerjasama lintas sektor sangat diharapkan juga bantuan dan dukungan masyarakat secara keseluruhan.

Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau liar. Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit.

Vaksin merupakan salah satu produk biologi yang dikategorikan sebagai produk berisiko tinggi. Vaksin harus memiliki ijin edar,  sesuai dengan peraturan perundang-undangan, ijin edar diberikan oleh menteri. Menteri melimpahkan pemberian ijin edar kepada kepala Badan POM (PMK no 1010/2008).

BPOM dan pihak-pihak terkait selalu melakukan pengawasan post serta pasca market. Misalnya dengan melakukan sampling dan pengujian produk beredar di sarana distribusi mau pun sarana kesehatan. Pemeriksaan sarana produksi secara kontinyu adalah dalam rangka memastikan penerapan cara pembuatan obat yang baik dan cara distribusi obat yang benar sehingga mutu produk setelah produksi dapat dipastikan baik dan aman.


ibu Ayu Dyah Pasha, founder Sahabat Ibu Indonesia
Dalam kesempatan yang sama, ibu Ayu Dyah Pasha, selaku pendiri Sahabat Ibu Indonesia, menyatakan pendapatnya bahwa hal ini bukan semata-mata tugas BPOM saja namun juga tugas kita sebagai ibu serta seluruh anggota masyarakat lainnya untuk berperan serta mencegah pembuatan serta peredaran vaksin palsu.

Sebagai ibu yang ingin memberikan yang terbaik, ibu memberikan vaksin pilihan untuk memberikan rasa aman bagi anak. Namun kejadiannya justru vaksin pilihan itu yang menjadi sasaran untuk dipalsukan. Ia juga bersyukur bahwa pihak pemerintah sudah menyegel dan melakukan aksi yang diperlukan.

Prinsip kehati-hatian kita sebagai konsumen juga diperlukan, ungkap bu Ayu. Jangan ragu bertanya dan membaca label kemasan.

Yuk, mama, kita juga turut waspada dan mendukung pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah pembuatan serta peredaran vaksin palsu ini ...


***

58 komentar:

  1. Yang disayangkan dari kasus ini,, kenapa harus ada korban dulu baru melakukan pencegahan... Selama ini BPPOM ngapain aja ya...? Miris jg mbak... semoga gk terulang lg...

    BalasHapus
  2. @Wahab Saputra
    aminnn, iya, semoga nggak terulang lagi yaa...

    BalasHapus
  3. Akan mempermudah jika pembandingnya sudah ada, sehingga mempermudah untuk mengenali vaksin palsu.

    BalasHapus
  4. Sempat khawatir juga apalagi kedua anakku lahir di rumah sakit dimana terduga pemalsu vaksin. Semoga setelah ini makin banyak lagi masyarakat yg lebih perhatian dan tahu mana vaksin asli atau tidak palsu. Mbak zat cakep bgt fotonya di banner

    BalasHapus
  5. Sebaik apapun pengawasan, pasti akan ada orang yang mengeksploitasi kelemahan sistem dan memang memrihatinkan. Daripada menyalahkan pemerintah, semoga pemerintah dan kita semua bisa melakukan pengawasan yang lebih baik ke depannya.

    BalasHapus
  6. @R Windhu
    iya setuju banget mba Windhu, harus ada pembanding...

    BalasHapus
  7. @Lidya
    iya wajar banget ya kita khawatir, apalagi ini menyangkut anak2 kita. Aww, makasih banyak mba Liddd...

    BalasHapus
  8. @danii
    iya betul mas Dani. Semoga semua ini cepat bisa ditangani oleh pihak2 terkait dan tentu saja dengan dukungan kita sebagai masyarakat...

    BalasHapus
  9. Setiap baca kasus vaksin palsu ini jadi sedih dan miris sendiri ya. Walaupun aku belum punya anak tapi tetep aja kesel karena entah berapa calon generasi muda bangsa yang sebagian hak kesehatannya dirusak. Semoga pihak kepolisian bisa menindak para pemalsu dengan adil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Ratna, iya mba, wajar banget kalo kesel. Smoga cepet beres, amiiinnn...

      Hapus
  10. Semoga g ada lagi vaksin2 palsu. Bismillah aja vaksin2 anak2 kita bener2 asli. Bismillah. Kalau ulangan juga rada susah secara bukandipemerintah vaksine

    BalasHapus
    Balasan
    1. @echa iya ya, semoga nggak ada vaksin2 palsu lagi ke depannya...

      Hapus
  11. Ranu blm aku vaksin lg sejak beredar berita ttg vaksin palsu ini. Nunggu krpastian & terus cari info valid, di mana klinik yg menjamin pakai vaksin asli.

    BalasHapus
  12. Aku bacanya ttg vaksin palsu ini g terlalu menyeluruh Kak, tp sekilas yg kutangkap, awalnya mereka pakai botol bekas vaksin. Nah.. ini rada aneh, karena setahuku benda-benda begitu harus dimusnahkan. Penyimpanan sementara hingga pemusnahannyapun perlu prosedur khusus. Wallahu a'lam.

    Miris banget jadinya. Pengennya sehat dg jalan divaksin malah dapat yg palsu. Kebangetan deh yg nglakuin :(

    BalasHapus
  13. Yang memalsukan itu orang amoral.
    Selayaknya dijatuhi hukuman berat
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  14. Hukum yg diberikan semoga membuat jera pelaku.. Dan ini jadi pelajaran juga buat semua pihak agar tidak terulang kembali...

    BalasHapus
  15. Mana saja Zata, 37 titik yang diduga menggunakan vaksin palsu?

    BalasHapus
  16. Alhamdulillah, dapat kepastian kalau vaksin yang disuntikkan ke anak-anak dulu bukan yang abal-abal karena imunisasinya di Puskesmas. Jadi lega. Sebelum itu sempat ketar-ketir banget, jangan-jangan yang masuk ke badan anak-anak termasuk yang palsu. :D

    BalasHapus
  17. Aku tmasuk ibu yg biasa aja sih nanggepin ini. Kaget dan marah iya. Tp nggak jd smp parno berlebihan. Kbetulan Rafasya lengkap vaksinnya, dr dasar smp yg tambahan. Skrg tinggal vaksin ulangan. Insya Allah yakin aja klo yg dterima kmrn vaksin asli. Sayangnya hal2 ky gini bikin para antivaks jd makin gencar promosi alasan u ga memvaksin anaknya. Sayangnya lg banyak yg jd kemakan dan ikutan milih ga vaksin. Huhuhu..

    BalasHapus
  18. Baru tau, ternyata kasus vaksin palsu bukan terjadi kali pertama...

    BalasHapus
  19. Efek vaksin palsu ini, saya jadi was-was, apakah anak saya dapat vaksin asli atau tidak. Kalau memang mereka sudah beroperasi sejak lama.

    BalasHapus
  20. @Nurul Noe
    sama mba Nurul, aku juga pengen mastiin banget dulu, namanya juga ibu-ibu ya, hehehe..

    BalasHapus
  21. @PutriKPM
    amiiin, iya beneran Put, semoga mereka pada kapok. Trus yang belum ketauan supaya segera sadar kalo yg mereka lakuin itu jahattt banget...

    BalasHapus
  22. @widyantiyuliandari
    Nahhhh, itu dia Wid.., banyak pihak yang etrlibat menurutku, ya salah satunya pihak yang harusnya memusnahkan wadah bekas vaksin itu...

    BalasHapus
  23. @Pakde Cholik
    setuju banget pakde, enggak bermoral banget pelakunya...

    BalasHapus
  24. @kornelius ginting
    amiinn, semoga hukumannya sesuai ya..

    BalasHapus
  25. @Tri Sapta
    kemarin diinformasikan sebagian, tapi coba nanti aku tanya dan update lagi ya. Mungkin sengaja blm diberitahu, takut panik berlebihan..

    BalasHapus
  26. @Jade Ayu
    semoga vaksin asli semua yang kemarin2 ya Yu. Iya, ini juga jadi alasan para antivaks untuk lebih anti lagi ya, jadi sedih...

    BalasHapus
  27. @Bee Balqis Blog
    iya, ini yang kesekian kalinya dan mungkin karena banyak diberitakan baru lah orang-orang pada tau ya...

    BalasHapus
  28. @Liswanti
    iya wajar banget kalo deg2an mba Lis, karena ini menyangkut anak2 kita ya :(

    BalasHapus
  29. makasiii.. makasiii banget mbaaak, atas pencerahannya yang warbiyasak iniiii

    bukanbocahbiasa(dot)com

    BalasHapus
  30. Emossii deh mba baca berita soal vaksin palsu..ngga berperasaan itu pembuatnya.

    BalasHapus
  31. Kebiasaan buruk instansi pemerintah kita, setelah jatuh korban baru pro-aktif. Semisal kasus vaksin palsu, as we know, vaksin normalnya dilakukan di Puskesmas atau RS atau dokter pribadi yang mana pembelanjaan obat /vaksin dilakukan oleh mereka tentunya dengan pengawasan BPOM tadi. Kita (pasien) is end user. Berarti kalau ada obat /vaksin palsu yang harusnya lebih paham pan si tenaga medis tadi, bukan end user. Sangat disesalkan berita pembelaan diri dari instansi pemerintah yang menyalahkan masyarakat (pasien=end user) yang katanya demi harga murah jadi banyak vaksin palsu beredar, ckckck... #lucunyanegeriini

    BalasHapus
  32. Masyarakat harus diedukasi dg baik jk pemerintah meminta masyarakat ikut aktif mencegah peredaraannya. Krn masayarakat tentu awam antara mana. Yg asli dan palsu jika kemasan atau tampak luar tidak bs dibedakan. Tugas utama ttp di tangan pemerintah dlm hal ini bpom menurut saya. Namun tentu saja edukasi n sosialisasi yg aktif dan masif sgt membantu shg masyarakat bs berperan aktif

    BalasHapus
  33. Jadi deg-degan, Mbak Zata. Kedua putriku divaksin dg salah satu merk yg ramai disebutkan. Smg bukan vaksin palsu, ken skr mereka baik-baik saja. Alhandulillah

    BalasHapus
  34. Jadi deg-degan, Mbak Zata. Kedua putriku divaksin dg salah satu merk yg ramai disebutkan. Smg bukan vaksin palsu, ken skr mereka baik-baik saja. Alhandulillah

    BalasHapus
  35. Kasus vaksin palsu ini jadi buat warga kampung ketar ketir, maklum kami jauh ke puskesmas, jauh ke dokter. Obat selain dari mantri desa ya seadanya gitu... Gak tahu obatnya kaya gimana kalo ditelusuri...

    BalasHapus
  36. waaah... gila ya sekarang. semua menghalalkan segala cara untuk keuntungan pribadi. sampai vaksin pun dipalsukan. Duh.. miris banget.

    BalasHapus
  37. Badan POM sudah cukup gerak cepat dalam mengatasi hal ini. Beruntung banget bisa tahu dari sumber langsung ya Mba. Jadi pas nulis gak asbun hehehe

    BalasHapus
  38. @Horas
    yaahhh begitulah situasinya bang Horas, tinggal kitanya aja yg pandai2 ikut mengawal masalah ini :)

    BalasHapus
  39. @Ophi Ziadah
    iya betul sekali mba, masyarakat hanya mendukung, tugas utama tetap ada di tangan pemerintah

    BalasHapus
  40. @ritasetia
    duhh mudah2an aman ya mba Rita, karena memang perbandingannya ya lebih banyak yang asli daripada yang palsu..

    BalasHapus
  41. @okti li
    wah ribet juga kalo gitu ya mba Okti :(

    BalasHapus
  42. @Levina Mandalagiri
    iya mba Levina, sedih, marah, takut, campur jadi satu...

    BalasHapus
  43. @Ani Berta
    iyes, bener banget teh Ani. Bahaya kalau hanya tahu sedikit tapi banyak bicara ya, hehehe..

    BalasHapus
  44. Alhamdulillah sekarang lebih tenang ya, Mbak Zata. Kalo gak panik mau percaya berita yang mana. >.<

    BalasHapus
  45. Aku juga serem kalo baca2 soal vaksin palsu inim untung bpom dan polisi sudah bertindak ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, memang harus ada kerjasama lintas departemen dan lintas sektor kalo sudah spt ini

      Hapus
  46. Semoga ngak ada lagi kasus seperti ini :-(

    BalasHapus
  47. Sangat disayangkan di negeri yang makmur ini kok banyak orang neko-neko, semoga tak terulang lagi.
    Terima kasih tulisannya, bahu membahu memang penting terlebih di kalangan blogger untuk turut memberikan pencerahan kepada masyarakat

    BalasHapus
  48. Badan POM sudah cukup gerak cepat dalam mengatasi hal ini.

    Jika berkenan, Visit to: Bandar Bola and Visit to: Bandar Bola - Agen Bola - Bandar Sbobet - Bandar Maxbet or Visit to: Travel Pulau Tidung and Go to: Paket Wisata Pulau Tidung - Agent Wisata Pulau Pari + Paket Pulau Pramuka - Agent Wisata Pulau Harapan

    BalasHapus
  49. Diharap bisa secepatya kita semua menghilangkan vaksin palsu untuk imunisasi bayi dan hewan ternak.
    Visit to: Pulau Tidung - Visit to: Paket Wisata Pulau Tidung

    BalasHapus