Rabu, 17 Agustus 2016

Dampak Pekerjaan pada Infertilitas Pria



Judulnya berat ya, tapi cukup mengundang keingintahuan saya saat mendengar bahwa RSU Bunda Jakarta akan mengadakan seminar mengenai hal tersebut.

Seperti diketahui, berbagai kelainan mulai dari gangguan hormonal, masalah fisik, sampai masalah psikologis bisa menyebabkan infertilitas pada pria, termasuk pekerjaan yang dipilihnya. Bukan berarti suatu pekerjaan tertentu mengakibatkan seorang pria menjadi infertil, namun pekerjaan-pekerjaan tertentu bisa berdampak pada infertilitas pria.

Dalam acara yang diselenggarakan oleh RSU Bunda Jakarta pada tanggal 12 Agustus 2016 jam 3 sore, dr. Sigit Solichin, SpU dari Klinik Urologi RSU Bunda Jakarta menjelaskan bahwa saat ini ada sekitar 15% pasangan di dunia yang infertil dan 50 % penyebabnya adalah dari pihak pria. Hmmm.. padahal biasanya infertilitas seringkali dikaitkan ke pihak perempuan, ya ...

Menurut dr. Sigit, infertilitas pada pria merupakan proses yang sangat kompleks. Agar terjadi kehamilan pada pasangan, maka harus dihasilkan sperma yang sehat dalam jumlah yang cukup. Untuk menghasilkan sperma yang cukup dan sehat, prosesnya diawali sejak masa pubertas saat pertumbuhan organ reproduksi pria terjadi. Salah satu dari dua testikel harus berfungsi normal disertai produksi testosteron dan hormon-hormon lainnya yang berperan dalam menstimulasi produksi sperma.


Beliau juga menyebut varikokel sebagai salah satu penyebab infertilitas pada pria, yaitu kondisi di mana terjadi pelebaran pembuluh darah vena di testikel sehingga kualitas sperma cacat atau tidak berkualitas. Namun kabar baiknya hal ini bisa diterapi.

Masih banyak penyebab lainnya, antara lain gangguan antibodi, tumor pada organ reproduksi pria, gangguan keseimbangan hormon, atau kelainan bawaan di mana testikel tidak turun ke skrotum tetapi tetap berada di rongga perut, serta gangguan kromosom pada sperma.

Jangan lupa, gaya hidup tidak sehat juga sangat berpengaruh pada infertilitas pria. Merokok, mengkonsumsi alkohol dan obat terlarang, hingga olahraga berlebihan pun berdampak bagi kesuburan pria.

Lalu, sesuai judul di atas, apa kaitannya pekerjaan dengan infertilitas?. Untuk hal yang satu ini, dr. Kasyunnil Kamal, MS., SpOk, dokter spesialis okupasi dan konsultan RSU Bunda Jakarta memberikan paparannya. Menurut beliau, pilihan pekerjaan seorang pria secara tidak disadari bisa menyebabkan ketidaksuburan. 

suasana seminar
Dr. Kasyunnil memberi contoh, paparan panas di lokasi pekerjaan bisa berpotensi menurunkan jumlah sperma, kecepatan gerak serta perubahan bentuk sperma. Radiasi di tempat kerja seperti radiasi bermuatan listrik diketahui dapat menyebabkan ketiadaan sperma dalam cairan semen. Bahkan radiasi elektromagnetik dengan energi rendah seperti infra merah dan gelombang mikro dapat juga menurunkan jumlah dan kecepatan gerak sperma.

Paparan logam seperti timbal, merkuri, cadmium, boron, dan paparan zat kimia seperti pestisida dan zat pelarut seperti karbon disulfide dan glycol dapat mengubah morfologi sperma. Namun perlu dipahami bahwa hal-hal di atas berpengaruh jika pria terpapar dalam waktu yang lama.

Beberapa pekerjaan yang rentan antara lain supir yang menghabiskan berjam-jam berkendara. Panas serta getaran dari sadel, dan polusi yang ditemui tiap hari, berjam-jam, bertahun-tahun bisa saja menjadi pemicu infertilitas. Pria yang bekerja di lab kimia dan sejenisnya punya resiko yang sama.

Namun jangan khawatir, hal tersebut bisa diatasi dan diminimalisir dengan mengikuti beberapa prosedur, antara lain seperti yang disebutkan di slide presentasi di bawah ini:


Dengan teknologi kedokteran saat ini, infertilitas pada pria dapat ditangani, namun pasien tetap disarankan untuk melakukan pencegahan dengan menghindari risiko terjadinya infertilitas, seperti berhenti merokok, membatasi konsumsi alkohol, tidak mengkonsumsi obat-obatan terlarang, berolahraga yang cukup, dan seterusnya.

Jika ingin mengetahui masalah ini lebih lanjut, jangan segan berkonsultasi dengan dokter spesialis, misalnya di RSU Bunda Jakarta yang menyediakan layanan untuk intervensi infertilitas pria di Urology Clinic.

RSU Bunda Jakarta
Jl. Teuku Cik Ditiro No. 21, Menteng, Jakarta Pusat
021 - 3192 3344

*********

14 komentar:

evylia hardy mengatakan...

Benar lho, ada pasangan yg sulit dapat keturunan tapi ketika suami ganti pekerjaan malah bisa dapat

zata ligouw mengatakan...

@evylia hardy
wah iya ya mba Eva, pekerjaan kadang ada dampaknya juga thd kesuburan meski nggak selalu...

Innnayah mengatakan...

Makasi sharenya mba Zata. Ini bermanfaat banget. Bukan dari sisi wanita aja. Pria juga kemungkinannya sangat banyak ya

suria riza mengatakan...

karena jatuhnya stress yo mbak

Hidayah Sulistyowati mengatakan...

Waaah, bermanfaat nih infonya. Eh, untung suamiku sering keluar kotanya saat udah punya anak, hahahaha... Jadi nggak kepikiran deh

Liswanti Pertiwi mengatakan...

Ternyata banyak pengetahuan datang kesini. Bukan saja perempuan yang diperiksa, tapi juga pria juga perlu sekali ya.

zata ligouw mengatakan...

@Innnayah
iya mba Innayah, ngebuka mata org2 yang berpendapat kalo masalahnya di perempuan aja :)

zata ligouw mengatakan...

@suria riza
iya, stress juga pengaruh banget ya...

zata ligouw mengatakan...

@Hidayah Sulistyowati
ahahah iya mba Hidayah, suamiku juga tiap hari berkendara macet2an ke kantor bisa berjam2, untung udah ada 3 buntut, hihihi..

zata ligouw mengatakan...

@Liswanti Pertiwi
iyap, kedua belah pihak sebaiknya diperiksa, selain biar nggak salah2an juga biar segera dapet solusinya..

indah nuria Savitri mengatakan...

Banyak juga pekerjaan yang termasuk beresiko tinggi bagi kesuburan pria ya.. Harus tau penyebab-penyebab infertilitasnya nih biar bisa dihindari

zata ligouw mengatakan...

@indah nuria Savitri
iya betul mba Indah, harus digali akar masalahnya dulu...

Nita Lana Faera mengatakan...

Gaya hidup sehat tetap yg paling utama ya. Iya, selama ini biasanya cewek mulu yang disalahin ya.

zata ligouw mengatakan...

Iya mba Nita, skrg jadi adil yah, cewek cowok juga harus cek untuk mencari masalah serta solusinya bersama 2 :)

Poskan Komentar