Minggu, 27 November 2016

To Be A Happier Mama ...



Masa kecil saya bisa dibilang cukup sulit secara ekonomi dan hal tersebut sangat mempengaruhi definisi saya akan arti bahagia pada saat itu. Waktu itu yang saya bayangkan banyak uang artinya senang dan bahagia. 

Seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya tentang #UsiaCantik di mana saya sangat terobsesi dengan film Candy Candy, saya sangat yakin bahwa hari esok akan lebih baik. Di satu sisi saya menjadi anak yang sangat percaya bahwa saya bisa mengubah nasib saya dan nasib keluarga menjadi lebih baik, tapi di hari esok, bukan di masa itu, sehingga saya kurang menikmati hari-hari yang sedang saya jalani.



Untungnya hal itu tidak berlangsung terlalu lama, pelan-pelan saya bisa berubah menjadi remaja yang lebih bahagia dan percaya diri. Salah satu hal yang sangat saya ingat adalah saya mulai bisa 'melepaskan' hal-hal yang sebelumnya saya anggap sebagai beban saya, misalnya kebahagiaan orang tua, kebahagian adik dan kakak, dan seterusnya. Ya, saya memang seharusnya membahagiakan mereka, namun saat hal itu justru menjadi beban, saya jadi stress sendiri dan kurang menikmati hidup.

Dengan berjalannya waktu, definisi bahagia saya turut berubah ... Bahagia buat saya adalah saat saya bisa melepaskan 'beban' dan belajar menjadi lebih ikhlas. Kembali belajar tentang agama, mau menerima bantuan, serta...time off.

Melepaskan 'beban'
Belajar dari masa lalu, saat saya dewasa dan memiliki anak-anak, saya berusaha mempraktekan kembali tahapan yang pernah saya jalani dulu agar terlepas dari beban tersebut dan menjadi orang yang lebih bahagia, ibu yang lebih bahagia. 

Sesudah memiliki anak, ada masa saya merasa sangat terbebani. Yes, lagi-lagi kejadian yang sama terulang. Mulai dari baby blues yang sempat berkepanjangan, sampai kekhawatiran yang berlebihan akan segala hal dalam hidup. Bayangkan saja, meski anak-anak sudah cukup besar, saya masih sering terbangun tengah malam, merasa sangat sendu dan sedih, lalu memeriksa tubuh ketiga anak saya, memastikan mereka masih bernafas. Belum lagi kekhawatiran-kekhawatiran pada hal kecil yang saya sendiri sadar bahwa hal tersebut sudah mengurangi kebahagiaan saya.

Pelan-pelan saya kembali meyakinkan diri saya bahwa saya memang harus berusaha sekuat tenaga menjaga dan membahagiakan orang-orang yang saya cintai, namun saya juga harus sadar bahwa itu bukan 'beban' yang harus saya tanggung sendiri.

Kekuatan Iman
Jujur saja, saat ada di masa-masa tersebut, saya pernah terpikir untuk menemui psikolog, namun suami saya yang selalu menjadi teman ngobrol membuka mata saya. Ia, teman hidup saya selama belasan tahun (dua puluh tahun kalau dihitung sejak pacaran) sangat tahu bahwa yang saya butuhkan bukan psikolog karena jika ya, pasti ia sudah membawa saya ke sana. Ia hanya menyentil saya bahwa yang saya butuhkan adalah iman. Karena saat iman saya kepada Allah bertambah, akan berkuranglah segala ketakutan duniawi tersebut. Ia juga mengingatkan saya untuk belajar lebih ikhlas dan kembali belajar tentang agama. Yup, saya harus terus belajar, menjadi seorang mualaf bukan alasan untuk ketertinggalan saya ini ...

Me and my number one supporter 💕

Terima Bantuan
Saya orang yang perfeksionis dan sering memaksakan diri untuk mengerjakan semuanya sendiri, bahkan saat tidak ada ART di rumah, sedang banyak deadline, hingga akhirnya saya malah marah-marah sendiri. Saat saya belajar untuk mengakui bahwa saya butuh bantuan, semua terasa lebih ringan dan nikmat. Meminta bantuan kakak dan abang untuk merapikan kamar, membiasakan si bungsu untuk membereskan mainannya sendiri, meminta bantuan suami untuk bayar tagihan PLN online, dst. Dengan semua kemudahan yang ada saat ini harusnya ada banyak hal-hal kecil yang bisa dilakukan tidak secara langsung, misalnya beli pulsa online, belanja kebutuhan sehari-hari pun bisa lewat telepon.

Time off
Jadi ibu juga perlu 'libur' sesekali. Saya beruntung punya suami yang sangat mendukung saya dalam segala hal, termasuk ide 'libur' sebagai mama dan pergi jalan-jalan bersama beberapa teman. Bulan ini saya dua kali dapat kesempatan itu, yaitu ke Malaysia dan Manado. Memang, sih, sekalian 'kerja', tapi makin bagus bukan? sekali dayung dua tiga pulau terlewati.

Tak perlu merasa bersalah saat liburan sendirian tanpa anak-anak. Prinsip saya sekarang, saat saya bahagia, saya akan jadi ibu yang lebih baik buat anak-anak saya 😊

Jalan-jalan ke Manado bareng Sarihusada dan Detik
Jalan-jalan ke Malaysia bareng beberapa teman dekat
******

23 komentar:

  1. setuju dgn pendapat suaminya mba. Pagi ini saya dengar ceramah mamah dedeh, bahwa utk bisa bersyukur dan ikhlas adalah keimanan dan ketaqwaan, dan saya sangat setuju itu

    BalasHapus
  2. Wiii keren banget kak, me time jalan - jalannya ke luar kota dan ke luar Indonesia pula :)

    BalasHapus
  3. @Santi Dewi
    iya mba Santi.. bener banget ya, iman dan ketaqwaan adalah kuncinya..

    BalasHapus
  4. Senang baca tulisan ini mbak.. Iya, kita berhak menjadi ibu yang bahagia dengan cara kita sendiri. Semua berproses, nggak ada yang instan. Dukungan dari suami sebagai orang terdekat sangat membantu kita dalam melalui proses dan mencapai tujuan.
    Sehat selalu ya mbak.. Semangaat ^^

    BalasHapus
  5. @Ranny
    aminnn, makasih banyak mba Ranny, sehat selalu juga untuk dirimu dan keluarga yaaa...

    BalasHapus
  6. sukar nerima bantuan itu yg aku rasain, dan hasilnya ya itu.. misuh2 sendiri, padahal kalau berbagi & komunikasi sama suami pasti akan lebih gampang XD
    Dulu kalau mau me-time rasanya bersalag banget sama raya, sekarang sedikit2 menyediakan waktu karena happy mommy = happy family kan yess :D

    BalasHapus
  7. @Sandra
    yesss, setuju banget San, happy mommy = happy family :)

    BalasHapus
  8. Aku masih dalam proses jadi happy mama nih, lagi banyak beban dan belom menemukan jalan keluar yang pas buat aku sendiri. Semoga bisa segera mengikuti jejak kak Zata ;)

    BalasHapus
  9. @Cindy Vania
    pelan2 aja cin, kita sebenernya happy kok, cuma banyak ganjelan2 yg blm bisa kita singkirin, yah namanya jg manusia ya cyinnn ;p

    BalasHapus
  10. Aku iri liat mba Zata dan suami mesraa bangett,,dah gitu udah usia cantik tapi awett mudaa bangetttt. ��

    BalasHapus
  11. semoga mba dan suami bisa terus kompak dan membina rumah tangga dengan baik.
    dan yang pasti iman dan taqwa selalu dibawa ya

    BalasHapus
  12. Saya pernah membaca tips untuk enjoy dalam hidup adalah sama seperti yang mba tuliskan nomer 1 yakni "melepaskan" persis seperti yang mba ulas melepaskan beban akan menjadikan hidup kita enteng tnp beban. Dan saya tambah yakin sama teori dlm buku itu ketika baca tulisan ini krn mba uda praktekin :) nice reminder ^^ smg sehat dan bahagia sll mba syantiekkkk

    BalasHapus
  13. @Kurnia amelia
    aww mba Kurnia amelia, makasih banyakkk yaaa.., seneng baca komenmu :)

    BalasHapus
  14. @herva yulyanti
    aaaa makasihhh Hervaaa.., doa yang sama buat dirimu yaaa...

    BalasHapus
  15. Mbak Zata anak nya udah gede-gede kok awet muda banget yah :D, rahasianya apa sih?

    BalasHapus
  16. Suka photomu mbak yang barengan sama suami...me and my number one suppoerter...Langgeng terus ya mbak, dan sehat selalu :)

    BalasHapus
  17. @Wuri Wulandari
    ahhh mba Wuri bisa aja. Rahasianya ya sesuai artikel ini sih, berusaha jadi ibu yang lebih bahagia ;p

    BalasHapus
  18. @Dewi Nielsen
    makasihhhh banyakkkk mba Dewiiii, aminnn, doa yang sama buat dirimu juga yaaa...

    BalasHapus
  19. Bukti kalo masa lalu yang kurang menyenangkan, gak menjadikan kita kelam di masa depan. Semangat terus buat bisa bahagia sama keluarga kecilnya ya, mbak.

    Salam,
    Syanu.

    BalasHapus
  20. Setuju banget mbak dengan yang ini:

    "Tak perlu merasa bersalah saat liburan sendirian tanpa anak-anak. Prinsip saya sekarang, saat saya bahagia, saya akan jadi ibu yang lebih baik buat anak-anak saya".

    Karena saat ibu bahagia, keluarga bahagia, Insya Allah :).

    Suka banget dengan pose dan captionnya 'me and my number one supprter' jadi ikutan adem, bacanya.

    BalasHapus