Mengatasi Gangguan Pencernaan pada Balita | TIPS
Belum lama ini, si bungsu yang
masih balita mengalami gangguan pada perutnya, yaitu perut kembung. Ia sudah
bisa mengatakan apa yang dirasakannya saat itu. "Perutku nggak enak
rasanya, ma, terus perutku rasanya keras, tapi bukan kayak mau poop,"
ungkapnya. Saya memegang perutnya, agak besar dan benar, terasa lebih keras
dari biasanya dan saya perhatikan ia pun sering buang gas saat mengalami
gangguan perut kembung seperti itu.
Saya jadi ingat, saat bayi pun
si bungsu, juga kakak-kakaknya beberapa kali mengalami gangguan perut kembung
sehingga saya tidak terlalu khawatir karena sudah terbiasa menanganinya. Dari
pengalaman pribadi serta dari beberapa literatur yang saya baca, balita memang
sering mengalami gangguan sistem pencernaan seperti gumoh (muntah sedikit),
muntah, perut kembung, poop tidak
lancar dan sering buang gas.
Sebagai mama, penting sekali
bagi kita mengatahui tentang gangguan pencernaan tersebut dan cara mengatasinya
karena pencernaan sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan otak
anak.
Gumoh
Gumoh sangat normal dialami si
kecil yang berusia di bawah dua tahun. Ini adalah bagian sederhana dari proses
perkembangan sistem pencernaannya. Si kecil mengalami gumoh karena lingkaran
otot pada bagian bawah esofagusnya belum dewasa. Otot ini yang menyambungkan
perut dengan esofagus. Pada bayi yang baru lahir, otot ini masih berkembang,
jadi terkadang membuat makanan dari perutnya kembali ke esofagus.
Semakin besar si kecil, otot
ini menjadi lebih beradaptasi terhadap fungsinya. Sementara ini masih
berkembang, kita dapat mengawasi beberapa gejala lain yang menjadi penyebab si
kecil gumoh dan tanyakan kepada dokter, apa saja yang dapat kita lakukan untuk
menangani hal ini.
Muntah
Muntah pada si kecil
disebabkan sistem pencernaannya yang sedang berkembang, postur si kecil,
kekenyangan, dan infeksi saluran cerna (gastroentris). Muntah dikatakan bahaya
jika berlangsung lebih dari 12 jam.
Cara mengatasi muntah adalah antara lain jangan langsung membaringkan si kecil di tempat tidur setelah minum susu, baringkan ke posisi telungkup atau miring untuk menghindari muntah masuk ke saluran pernafasan. Setelah muntah, segera bersihkan sisa muntah di mulut si kecil. Jangan lupa untuk selalu menyendawakan si kecil setelah ia makan atau minum dengan cara menepuk lembut punggung si kecil dari atas ke bawah.
Cara mengatasi muntah adalah antara lain jangan langsung membaringkan si kecil di tempat tidur setelah minum susu, baringkan ke posisi telungkup atau miring untuk menghindari muntah masuk ke saluran pernafasan. Setelah muntah, segera bersihkan sisa muntah di mulut si kecil. Jangan lupa untuk selalu menyendawakan si kecil setelah ia makan atau minum dengan cara menepuk lembut punggung si kecil dari atas ke bawah.
Konstipasi
Poop yang tidak lancar serta seringnya buang angin bisa jadi
merupakan tanda-tanda terjadinya konstipasi pada si kecil.
Si kecil dapat mengalami
konstipasi pada tahun pertama kehidupannya. Biasanya kondisi ini tidak serius,
dan biasanya disebabkan karena adanya perubahan asupan dan pola makan pada si
kecil.
Lalu, apa penyebab konstipasi
pada si kecil?. Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan buang air besar si kecil
dapat diprediksi dengan beberapa alasan antara lain perubahan pola makan si kecil misalnya karena penyesuaian
jadwal makan, transisi ke makanan padat, berkenalan dengan makanan baru dan seterusnya. Hal ini dapat
menyebabkan konstipasi.
Perubahan rutinitas si kecil juga berpengaruh, misalnya karena perjalanan jauh, menitipkan si kecil di tempat perawatan anak juga dapat menyebabkan konstipasi. Hal lainnya bisa juga akibat cuaca yang ekstrim, misalnya panas atau dingin yang berlebihan dan tidak biasa.
Perubahan rutinitas si kecil juga berpengaruh, misalnya karena perjalanan jauh, menitipkan si kecil di tempat perawatan anak juga dapat menyebabkan konstipasi. Hal lainnya bisa juga akibat cuaca yang ekstrim, misalnya panas atau dingin yang berlebihan dan tidak biasa.
Jika ada riwayat keluarga yang
mengalami konstipasi, maka si kecil memiliki kemungkinan mewarisinya. Ini
kemungkinan disebabkan oleh faktor genetika dan lingkungannya. Jika si kecil
mengonsumsi obat-obatan, ini dapat juga menyebabkan konstipasi.
Ada beberapa langkah mudah yang
dapat membantu mencegah si kecil buang air besar secara tidak teratur, antara
lain membuatnya aktif bergerak karena gerakan dapat membantu si kecil buang air
besar. Semakin jarang si kecil bergerak, maka semakin besar risiko si kecil
mengalami konstipasi. Membuat si kecil tetap bergerak (merangkak, berjalan atau
bahkan membalikkan posisi si kecil) dapat membantu. Jika usia si kecil masih
sangat muda, kita dapat menekan lutut si kecil ke arah perutnya.
Oh ya, mama, jika kita ingin
mengetahui kondisi pencernaan si kecil,
kita bisa mengeceknya di aplikasi WikiPoop di sini.
Cek di WikiPoop, aja ... |
Banyak orang yang menganggap bahwa susu formula yang terfortifikasi zat besi dapat menjadi penyebab konstipasi, hasil studi terbaru membuktikan bahwa hal ini hanyalah mitos. Zat besi merupakan bagian yang sangat penting dalam pola makan si kecil dan seharusnya tidak diabaikan. Faktanya, jika si kecil kekurangan zat besi, dokter akan merekomendasikannya untuk mengonsumsi suplemen. Zat besi memiliki peran dalam perkembangan otak si kecil dan memproduksi sel darah merah yang sehat.
Perut kembung
Gas dan si kecil tampaknya
sulit untuk dipisahkan. Jangan khawatir: karena hal ini normal. Tapi jika kita
ingin meredakan gejala yang berhubungan dengan banyaknya gas di saluran cerna
si kecil, misalnya karena kita merasa si kecil kesakitan dan membuatnya menjadi
rewel, cobalah untuk mencermati makanan yang kita konsumsi jika kita sedang
menyusui.
Beberapa makanan dapat
menyebabkan penumpukan gas pada saluran cerna si kecil seperti kacang-kacangan,
kembang kol, dan brokoli.
Cara yang tepat untuk
mengetahui apakah makanan yang menjadi penyebab perut kembung si kecil
adalah dengan menghilangkannya dari menu makanan kita untuk beberapa hari dan
lihat apakah keluhan perut kembung si kecil berkurang. Jika makanan merupakan
pemicunya, maka sebaiknya hanya mengonsumsi makanan tersebut sesekali saja.
Campur susu formula untuk mengurangi
perut kembung. Jika kita menggunakan susu formula bubuk, pastikan adukan segar
susu tersebut tercampur dengan baik, dengan mendiamkannya selama satu atau dua
menit sebelum diberikan kepada si kecil. Kenapa? Semakin banyak campurannya
dikocok, semakin banyak udara dan gelembung di dalamnya yang mana ini akan
ditelan oleh si kecil dan membuat perutnya kembung.
Bicara soal susu formula,
jangan lupa untuk memilih susu formula yang cocok untuk perut peka si kecil, salah
satunya adalah Enfagrow A+ Gentle Care, susu pertumbuhan untuk anak usia 1-3
tahun, dengan teknologi PHP yang diproduksi di Belanda sehingga memiliki
protein halus yang mudah dicerna untuk perutnya yang peka. Diperkaya dengan
nutrisi penting seperti Omega 3 dan 6, Kalsium, Zat Besi, Asam Folat, Vitamin
B1, B6 dan B12.
Jika perlu, ganti botol susu si kecil. Beberapa
botol susu dirancang khusus untuk mengurangi jumlah udara yang masuk saat si
kecil minum susu. Jika si kecil mengalami perut kembung, coba berikan susu
dengan cara dilepas sesekali, miring atau membungkuk. Pastikan kita memegang
kepala si kecil lebih tinggi dari tubuhnya dan berada pada posisi sekitar 45
derajat dan tuangkan susu ke arah mulutnya yang berada di bawah dengan dot yang
sudah dipenuhi susu, bukan udara.
pastikan botol dan dot yang sesuai untuk bayi |
Ketahui jenis dot yang dibutuhkan si kecil. Dot memiliki beberapa jenis ukuran berbeda (diberikan berdasarkan umur si kecil) dan dapat mengontrol arus susu formula. Jadi dot untuk si kecil yang baru lahir memiliki arus yang lambat, sementara untuk si kecil yang sudah lebih besar arusnya jauh lebih cepat. Pastikan kita menggunakan dot yang tepat untuk si kecil sesuai usianya.
Jika si kecil sudah
membutuhkan ukuran dot yang lebih besar, ia mungkin akan banyak menelan udara
saat minum susu, ini meningkatkan risikonya mengalami perut kembung. Di sisi
lain, jika dotnya mengalirkan susu terlalu deras, maka si kecil akan menelan
terlalu banyak susu, yang mana juga bisa membuat perutnya kembung dan memicu
timbulnya masalah pencernaan. Mencoba mana yang paling cocok untuk si kecil
adalah salah satu cara terbaik menentukan ukuran botol dan dot yang sesuai. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, saya harus beberapa kali mengganti model botol dan dot untuk si kecil hingga akhirnya mendapat yang paling pas untuknya.
Berikan posisi yang tepat
untuk menghilangkan perut kembung si kecil. Posisikan si kecil tegak selama 20
sampai 30 menit setelah ia makan. Jika perut si kecil masih kembung, bersendawa
dapat membantu mengeluarkan gas, yang muncul karena si kecil menelan terlalu
banyak udara. Tepuk perlahan punggung si kecil, mulai dengan bagian punggung bawah
dan terus ke atas. Coba salah satu posisi sendawa yang terbaik di bawah ini:
- Posisikan si kecil berlawanan dengan dada Ibu (tubuh si kecil menghadap ke tubuh kita), letakkan kepalanya di bahu kita. Lalu tepuk dan usap punggung si kecil.
- Letakkan si kecil di pangkuan kita dan topang dada dan kepala si kecil pada satu tangan dan tepuk punggung si kecil dengan tangan yang satunya. Pastikan kita menahan bagian dagu si kecil, bukan lehernya.
- Tidurkan si kecil di pangkuan kita, perutnya mengarah ke bawah. Topang kepala si kecil dan pastikan lebih tinggi dari dadanya. Perlahan usap dan tepuk punggungnya.
Jika tidak bisa menyendawakan
si kecil dengan satu posisi, maka coba yang lainnya. Berikan handuk hangat
(jangan panas) di perut si kecil, hal ini dapat membantu mengurangi perut
kembungnya. Kita juga dapat menenangkan si kecil dengan cara berjalan atau
berayun bersama si kecil, atau dengan cara menempatkan si kecil di ayunan atau
kursi yang bergetar.
Jadi, secara garis besar salah
satu penyebabnya adalah saluran pencernaan si kecil yang masih berkembang dan
masih peka. Pada saat kondisi normal, sistem pencernaan anak mampu menyerap
semua nutrisi makanan yang diasupnya. Namun, di awal-awal tahun kehidupannya,
enzim yang membantu mencerna protein dan laktosa bisa jadi belum bekerja
sempurna. Hal ini menyebabkan protein susu dan laktosa yang dibutuhkannya tidak
terserap dengan sempurna dan akhirnya masuk ke dalam usus besar, dimana di
dalam usus besar ini menjadi rumah untuk berbagai macam bakteri hidup.
Bertemunya sisa nutrisi dengan bakteri menyebabkan pembususkan sehingga
menimbulkan ketidaknyamanan pencernaan seperti perut kembung, sering buang
angin, BAB tidak lancar dan rewel tanpa sebab yang jelas.
Jika masih ingin tahu lebih banyak mengenai gangguan pencernaan pada si kecil silahkan kunjungi Digestion Center di www.enfa.co.id, ya ...
Jika masih ingin tahu lebih banyak mengenai gangguan pencernaan pada si kecil silahkan kunjungi Digestion Center di www.enfa.co.id, ya ...
Kesehatan pencernaan bayi berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan otaknya. |
Nah, mama, sudah tahu lebih banyak tentang gangguan pencernaan dan cara mengatasinya, kan?. Semoga saat si kecil mengalami gangguan-gangguan di atas, mama sudah lebih sigap dan percaya diri mengatasinya, ya, karena menjaga pencernaannya berarti juga mendukung kecerdasannya…
***
26 comments
Wah gemes sekali mbak dede bayinya jadi pengen ngelus dede bayinya.
BalasHapusMakasihhh kangg :)
Hapussaya paling khawatir kalo alfi sudah muntah mbak, takut kekurangan cairan, itu dulu dia kena iritasi lambung, kalo sudah kena pencernaan memang berbahaya
BalasHapus@evrinasp
BalasHapussama mba, kalo si bungsu muntah saya langsung pantengin, kalo cuma sekedar masuk angin biasanya cuma kasih air anget tapi kalo berlanjut aku bawa ke dokter..
Taunya dotnya cocok buat anak gimana mba? Aku mo nyobain sufor nih ke Abang Kizain. Tapi masalah dot masih bingung. Susu apalagi, takut alergian gitu.
BalasHapusCuss langsung ke wikipoop :D
BalasHapusBaru tau ada yang beginian, padahal dulu waktu peralihan ASI ke tambahan MP ASI anakku sering banget konstipasi :(
Terimakasih sudah share bun.
Paling panik memang kalau anak muntah-muntah ya Mbak Zata. Nice sharing Mbak :)
BalasHapus@cutdekayi
BalasHapuskalo aku liat cocoknya, pas anaknya mau pake dot itu, nggak gampang lepas dari mulut, dan abis minum susu nggak kembung...
coba kasih pelan2 dan sedikit dulu Yi untuk liat responnya, apa ada alergi, dll.
@Ma nuuy
BalasHapusiya seru ya ada aplikasinya gitu..
iya sama-sama, semoga membantu yaaa...
@dani
BalasHapusyup, betul bgt mas Dani..
sama-samaa...
Kata ibuk...dl aku konstipasi mulu.
BalasHapusNice share nih...buat bekal masa depan pas udah jadi mama heheh
@Innnayah
BalasHapusahahah iya bener In :) semoga bermanfaat info2 di blog ini buat kamu yaaa...
Mbaa Zata, aku dulu sempat panik saat anakku gumoh. Teryata alhamdulillah baik2 saja. Orangtua hrus banyak belajar banyak informasi ya mba
BalasHapus@Rach Alida Bahaweres
BalasHapusiya setuju banget mba Lid, apalagi pas baru anak pertama yah, apa2 panik, hihihi...
KONSTIPASI!! bertahun2 trauma banget sama penyakit satu ini, terutama buat mas B. Untung sekarang getting better dan BABnya so far so good.....
BalasHapus@shintadaniel
BalasHapusiya sama Shin, punya tiga anak, semuanya ngalamin konstipasi pas masih kecil..
Waaah baru tau pencernaan bayi mempengaruhi tumbuh kembang otak anak *kemana ajaaa saaan* hihihihi Makasih Zata infonya, jaga2 kalau suatu saat Raya kembung2 & pencernaannya lagi ngga oke
BalasHapus@Sandra Buana Sari
BalasHapussamaaa Sandra, aku pun belum lama tahu, hasil baca2 juga...
lost fokus liat lucuneee :*
BalasHapusAwww makasih mbaaa ;p
Hapusdulu... waktu anak2 saya masih bayi, saya masih suka bingung apakah bayi saya kembung atau tidak...
BalasHapus@Santi Dewi
BalasHapusiya mba Santi, aku juga duylu susah bedain, kadang malah ikut 'pukul2' perutnya untuk denger perutnya kembung atau nggak ;p
inget zaman kecil anak-anak sering nih kena gangguan pencernaan. But as long as you know what to do, insya allah bisa segera diatasi
BalasHapusSetuju mba Indah... :)
Hapusaish itu foto2 sabil kecil ya ta? maaf jd salah fokus *gemesin
BalasHapus@bunda rizma
BalasHapusiyaaa Lok, itu Sabil kecil, hihihi..