Jangan Biarkan Kerdil Badan dan Kerdil Otak Menghantui Bangsa Ini. Mari Bersama Cegah Stunting !

Anak-anak umur 8 tahun yang tingginya di bawah standar WHO (odishawatch.in)

Maaf jika judul artikel ini terasa 'kasar' tapi yang ingin saya sampaikan adalah bahwa stunting atau kekerdilan memang tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik balita kita, namun juga pertumbuhan otak mereka. Ini sebuah urgensi yang tidak boleh kita pungkiri.

Fakta mengejutkan bahkan terlihat dari hasil asesmen OECD PISA atau Organisation for Economic Co-operation and Development - Programme for International Student Assessment yang mengungkapkan  bahwa tingkat ‘kecerdasan’ anak Indonesia menduduki urutan ke 64 terendah dari 65 negara!

"Sebagai seorang ibu dan warga negara Indonesia, 

saya tidak rela, saya sungguh tidak rela dengan temuan tersebut "


Sebagai seorang ibu dan warga negara Indonesia, saya tidak rela, saya sungguh tidak rela... Apa pun caranya, saya ingin berkontribusi untuk meminimalisir masalah stunting ini, salah satunya lewat tulisan di blog saya ini sambil berharap Indonesia sehat dan pencegahan stunting berjalan lancar.

FENOMENA STUNTING DI INDONESIA
Tahukah kamu kalau Indonesia adalah negara nomor empat dengan angka stunting (kekerdilan) tertinggi di dunia?. Ya, ada sekitar 9 juta Balita Indonesia atau 37% yang mengalami stunting.

Belum lagi soal hasil asesmen di atas, jika tidak segera ditangani, stunting bisa menjadi ancaman bagi generasi kita nantinya.

Indonesia bisa jadi akan melewatkan masa bonus demografi hingga tahun 2030 karena tidak maksimal dalam menciptakan generasi emas Indonesia.

Lalu, apa itu stunting?. Apa penyebabnya dan apakah yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya?

APA ITU STUNTING?
Stunting adalah masalah kesehatan yang terjadi karena kurang gizi kronis. Bisa dilihat dengan tinggi badan anak yang lebih rendah dari standar usianya serta adanya keterlambatan pertumbuhan otak.

Hal ini terjadi salah satunya karena kurangnya asupan gizi dalam dalam periode emas kehidupan anak, yaitu dalam 1000 hari pertama kehidupannya, bahkan sejak anak masih dalam kandungan.

Menurut wakil presiden Jusuf Kalla, stunting bukan sekadar mengenai gangguan pertumbuhan tinggi badan pada anak, tapi juga soal pengaruhnya terhadap kecerdasan anak serta kerentanan terhadap penyakit dan penurunan produktivitas pada usia dewasa.

Jadi, stunting tidak hanya merugikan si anak, namun juga berdampak langsung pada keluarga, lingkungan masyarakat, serta terhadap perkembangan bangsa ini.

Stunting merupakan masalah yang sangat serius, namun sayangnya, sebagian orang bahkan tidak tahu apa itu stunting.

Saya sempat melakukan survey kecil-kecilan kepada orang-orang di sekitar saya, dari mulai keluarga, teman dekat, sampai para kenalan, mengenai apakah mereka tahu soal stunting, penyebabnya, serta pencegahannya.

Setengah dari yang saya tanyai tidak tahu apa itu stunting, namun sisanya yang memang sering terpapar informasi dari beragam media, mengetahui soal stunting ini.

Sumber: kemenkes

PENYEBAB STUNTING
Sesuai dengan definisi di atas, stunting terjadi karena kurangnya asupan gizi pada anak terutama 1000 hari pertama kehidupannya.

Meskipun tidak selalu, namun kemiskinan, terutama di negara-negara berkembang, menjadi salah satu faktor dalam stunting di mana orangtua tidak mampu memberikan gizi yang baik bagi anaknya serta sanitasi yang buruk karena keterbelakangan ekonomi.

Hal baru yang saya dapati dari hasil riset soal stunting adalah peran aktifitas fisik yang ternyata juga berpengaruh menjadi salah satu penyebab stunting.

Stunting tidak hanya berefek sementara, ada efek jangka pendek serta jangka panjang yang sangat berbahaya bagi kesehatan individu serta perekonomian bangsa.

Akibat jangka pendek:
  • Perkembangan otak yang terhambat
  • IQ yang rendah
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah

Akibat jangka panjang:
  • Kurang produktif saat dewasa
  • Sering sakit-sakitan sehingga mengeluarkan biaya kesehatan yang besar
  • Tubuh yang lebih pendek dan kecil
  • Kematian yang prematur
  • Risiko terkena diabetes, kanker, dan penyakit lainnya lebih tinggi.
Peta stunting dunia menurut UNICEF. Indonesia termasuk yang tinggi.

PENCEGAHAN STUNTING
Dalam suatu kesempatan, Menteri Kesehatan RI, Nila Faried Moeloek menyampaikan bahwa ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam pencegahan stunting, yaitu perbaikan terhadap pola makan, pola asuh, serta perbaikan sanitasi dan akses air bersih.

Menurut  Menkes, masalah-masalah non kesehatan kadang menjadi akar dari masalah stunting, baik itu masalah ekonomi, politik, sosial, budaya, kemiskinan, kurangnya pemberdayaan perempuan, serta masalah degradasi lingkungan. Oleh arena itu kesehatan membutuhkan peran semua sektor dan tatanan masyarakat.

Pola Makan
Rendahnya kualitas gizi serta jumlah makanan yang dikonsumsi seringkali menjadi penyebab timbulnya masalah stunting ini.

Itu kenapa kampanye “Isi Piringku” tentang asupan gizi yang seimbang perlu digaungkan dalam masyarakat sehingga menjadi kebiasaan sehari-hari. Anak-anak harus diajarkan untuk makan dengan seimbang, memperbanyak protein serta mengonsumsi buah dan sayur-sayuran.

Sumber: kemenkes

‘Isi Pringku’ adalah konsep makan di mana setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein nabati ataupun hewani dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.

Konsep makan ini sebenarnya tidak sulit, namun yang sulit adalah mengubah mindset kebanyakan orang Indonesia, termasuk saya, bahwa karbohidrat adalah yang utama dan biasanya paling banyak mengisi piring makan kita.

Pola Asuh
Selain pola makan, stunting juga dipengaruhi aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik dalam praktek pemberian makan bagi bayi dan Balita.

Saya pernah mengalami hal ini, di mana saya kurang aware dengan makanan anak pertama saya. Saat ia enggan makan, saya pun tidak kreatif untuk membuatnya makan, maklum masih jadi orangtua baru saat itu. Namun dengan berjalannya waktu saya sefera sadar, bahwa pola makan yang baik harus saya bentuk dan biasakan sedari kecil.

Dimulai dari edukasi tentang kesehatab reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan.

Bersalin di fasilitas kesehatan, lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan.

Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh pemerintah. Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di Posyandu atau Puskesmas.

Sanitasi dan Akses Air Bersih 
Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.

Pola asuh dan status gizi sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tua, terutama ibu. Oleh karena itu, edukasi diperlukan agar dapat mengubah perilaku yang bisa mengarahkan pada peningkatan kesehatan gizi ibu dan anaknya.

Nah, sebagai penutup, tonton ya video singkat yang merangkum soal stunting ini :)


*Catatan: Tulisan dirangkum dari berbagai sumber.

Posted By

0 comments