Saat Saya Berasa 'Numpang' Banget Naik Taksi Online | Tjurhat



Udah cukup lama pengen nulis soal ini sebenernya, tapi sempet ragu karena takut menyinggung pihak tertentu yang sebenernya bukan mau saya singgung, tapi cuma mau saya kasih masukan.., toh saya tetap salah satu pelanggan setia mereka anyway..

Jadi, sudah setahun terakhir hal ini mengganggu saya, suami saya, juga beberapa kenalan yang merasakan hal yang sama.

Suatu ketika, saya ingin ke bandara sendirian, sekitar jam 3.30 pagi, sedikit terburu-buru karena takut macet, membawa satu koper besar, tas ransel, dan tas tangan. Saya sengaja tak membangunkan suami dan anak-anak karena selain tak ingin mengganggu, saya juga sudah ijin pada mereka malamnya.

Pesanan taksi online saya tiba. Saya keluar sambil membawa koper, ransel, serta tas tangan, keliatan agak ribet saat keluar pagar. Supir taksi online menoleh, mengangguk lalu memberi isyarat bahwa ia sudah membuka bagasi. Oke, saya tidak masalah, saya juga bukan tipe yang apa-apa harus dibantu. Saya memasukan semua barang saya sendiri, lalu duduk manis di kursi penumpang.

Perjalanan pagi itu terasa dingin dalam arti sebenarnya, dingin karena memang masih subuh serta AC yang menyala juga aura supirnya yang seperti menjaga jarak. Oke, saya juga bukan tipe yang senang ngobrol dengan supir, saya malah kadang terganggu kalau terlalu banyak diajak ngobrol. Tapi tanpa basa-basi yang pas, kok saya risih dan jadi gak enakan ya, saya seperti sedang 'menumpang' di mobil orang lain dan saya jadi takut merepotkan si empunya mobil.

Sampai bandara, sama, saya menurunkan sendiri semua barang saya. Tapi, satu perjalanan ini hanya contoh. Dari misalnya 10x saya naik taksi online 5 diantaranya akan membantu saya dengan barang-barang saya, 5 lagi tidak. Kira-kira begitu gambarannya.

Tapi kalau sedang terburu-buru dan ingin nyaman dalam perjalanan, apalagi masih ngantuk seperti tadi, rasanya saya ingin yang nggak gambling, yang jelas-jelas akan menawarkan bantuannya saat saya perlukan, tanpa diminta. Apalagi jujur saja di saat-saat tertentu harga taksi online ke bandara dan tempat-tempat lainnya sama sekali tidak lebih murah dari taksi konvensional yang sering saya pakai.

Oke, contoh lain yang juga cukup sering terjadi saat saya naik taksi online dan membuat saya kurang nyaman. Saat bepergian bersama anak-anak, beberapa kali saya juga merasa yang numpanggggggg banget. Lirikan khawatir dari pemilik mobil yang takut anak bungsu saya mengotori jok mobilnya. Atau yang parah, saat pernah suatu kali si bungsu ingin muntah, sumpah saya panik luar biasa mencari plastik karena saya sangat khawatir membuat si driver marah. Loh loh? apa-apaan ini? naik taksi online kok malah bikin saya jadi super nggak enakan? Kenapa saya musti nggak enakan? kan itu memang jasa yang mereka tawarkan? kan saya bayar? bayarnya juga nggak murah, lho..

Ya, sebagai penumpang saya wajib menjaga kebersihan mobil yang saya tumpangi, tapi biasanya saat si bungsu ingin muntah (which is gak sering juga kali) saya cukup tenang, mengeluarkan plastik dari tas atau lebih baiknya lagi dulu2 seringkali si driver yang langsung menyuruh saya membuka laci karena mereka sudah menyediakan plastik untuk emergensi seperti itu. So, kenapa saat naik taksi online saya malah lebih mikirin supirnya dari pada anak saya? This is totally not okay !

Ada lagi cerita dari teman suami yang sejak tahun lalu sudah memutuskan untuk tidak naik taksi online lagi. Dia sering banget suting di luar kota, jadi sering berangkat ke bandara naik taksi dengan bawaan bejibun, mulai dari kamera gede, tripod, ransel besar minimal 2 bijik, dll, dll. Saat taksi online menawarkan harga lebih terjangkau, ya ikutan beralih juga dong dia, tapiii.., itu nggak berlangsung lama. Saya aja yang jarang-jarang ke bandara merasa terganggu dengan perasaan numpang banget ini, apalagi dia yang bisa sebulan beberapa kali ke bandara.

Supir taksi online yang sigap membantu banyak dong, tapi yang nunggu diminta dulu baru bantuin juga banyak ternyata. Dan lagi-lagi, perasaan 'numpang banget' itu yang bikin perjalanan jauh ke bandara menjadi tidak nyaman. Itulah sebabnya, teman suami akhirnya memutuskan, daripada cap cip cup pesan taksi online dan kadang dapet yang helpful dan ramah namun tak jarang dapet yang gengsian, mendingan pesen yang jelas-jelas aja deh ..

Inti dari tjurhatan saya ini, sama sekali nggak niat menjatuhkan, karena sekali lagi saya pemakai taksi online karena beberapa alasan. Satu, karena sudah terbiasa, dua, karena punya aplikasinya dan harga yang sudah jelas tertera, tiga, karena biar bagaimanapun in many ways, taksi online tetap sangat menguntungkan.

Tjurhatan ini benar-benar masukan tulus saya sebagai pengguna taksi online yang berharap segera ada perubahan soal ini dan semoga ke depannya saya bisa merasa lebih nyaman lagi saat naik taksi online :)

Sekian ...

*****

Posted By

4 comments

  1. agak gimanaa juga ya kak kalo ada di kondisi gitu. Di satu sisi kita kan customernya mereka, tapi kok jadinya kita yang ngga nyaman sama mereka. Better, naik taksi konvensional aja deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul banget Ci. Makanya gw berharap semoga pelan2 pelayanan (khusus yg car) makin membaik ya. Kalo yang ojek online sih so far puas banget sama pelayanan mereka...

      Hapus
  2. Mbak, yg dimaksud taksi online atau mobil (car)/transportasi online ya? Karena utk penggunaan kata taksi, pikiranku ke taksi "brand" tertentu yg jg bs diorder melalui online :) Dan masing2 drivernya jg sering gak mau disebut "driver taksi" atau "driver mobil online"....hehe... Klau aku sih utk service memang lbh sreg menggunakan taksi :)

    BalasHapus