Menciptakan Rumah Nyaman dan Penuh Cinta Bagi Remaja Kita


Beberapa tahun lalu, saat saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya sebagai MarComm di sebuah law firm internasional di Jakarta, salah satu pertanyaan atasan saya adalah, “Kok kamu malah mau resign di saat anak-anak sudah besar?. Bukannya mereka sudah gampang ditinggal, ya?. Kalau kamu masih punya anak kecil, sih, saya maklum kalau kamu mau berhenti”

“Justru karena anak-anak saya makin besar, bahkan dua di antaranya sudah menjelang remaja, maka saya memutuskan untuk resign, mba,” jawab saya ketika itu. Ya, alasan terkuat saya justru karena anak-anak sudah masuk usia remaja di mana akan ada banyak perubahan dalam hidup mereka dan saya ingin “ada” untuk mereka saat perubahan tersebut membuat mereka takut, tidak nyaman, atau justru malah membuat mereka bersemangat dan butuh “teman” untuk berbagi.

Tiap orangtua punya cara dan pilihan berbeda untuk hal ini, ada yang tetap bekerja kantoran dan terus terhubung baik dengan anak-anaknya yang menjelang remaja, ada pula yang seperti saya, memutuskan bekerja freelance saja demi bisa mendampingi mereka. Menurut saya semua pilihan adalah yang terbaik, sesuai dengan value masing-masing keluarga.

Yang terpenting adalah bagaimana kita membangun suasana yang positif di rumah agar anak-anak remaja kita merasa nyaman, didukung, bahkan merasa punya tempat di mana mereka bisa berbuat salah, bisa berimprovisasi, dan tidak takut untuk berdiskusi apa saja dengan orangtua dan saudara kandung mereka.

Itulah yang sangat ingin saya wujudkan di rumah, salah satu cara yang saya ambil adalah dengan berhenti kerja kantoran dan mulai bekerja dari rumah. Namun, hal ini saja tak cukup, ada beberap kiat yang saya pelajari dari datang ke acara-acara parenting, membaca literatur dan artikel misalnya artikel di website Skata, serta membaca buku panduan terkini soal parenting teens. 

Untuk menciptakan rumah yang nyaman dan suportif bagi anak-anak awalnya tidak mudah karena di satu sisi, anak-anak saya sudah tumbuh besar dan punya pikiran dan opininya masing-masing. Tak lagi seperti saat mereka masih kecil di mana saya bisa memutuskan segalanya. Saya pun, yang saat itu baru berhenti kerja tiba-tiba membuat aturan yang sebelumnya tidak mereka tahu dan belum disepakati bersama, kerancuan dan masalah kecil pun tak lepas dari keseharian kami. Misalnya hari ini saya meminta mereka melakukan A, lalu hari lainnya saya lupa dan meminta mereka melakukan B. Ketidak konsistenan dan ketidaksiapan saya dan mereka sempat membuat hubungan kami agak kurang baik.

Itulah kenapa akhirnya saya dan suami membuat aturan main di rumah. Ini merupakan aturan bersama yang dapat disepakati oleh seluruh anggota keluarga termasuk si bungsu. Jadi setelah saya dan suami membuat aturannya, kami pun mengajak ketiga anak kami untuk duduk bersama dan membahas aturan tersebut. Kami juga menyampaikan bahwa semua aturan dibuat demi kebaikan keluarga dan tentu saja demii rumah yang lebih nyaman buat mereka juga.

Ternyata aturan yang kami buat tidak mempersulit situasi, justru sebaliknya, anak-anak merasa senang dalam melaksanakannya. Mereka menerima tanggungjawab masing-masing dengan bangga dan besar hati.

Salah satu aturan yang kami buat adalah berkaitan dengan tanggung jawab mereka di rumah, misalnya abang, anak laki-laki saya yang paling besar bertanggungjawab untuk membuang sampah, mengurus keperluan adiknya yang bungsu (berkaitan dengan persiapan ke sekolah seperti membantu menyiapkan seragam dan mengecek kelengkapan buku pelajaran si adik).

Kaka, anak perempuan saya yang duduk di bangku SMP kami beri tanggungjawab untuk menjaga kebersihan rumah (beberapa poin saja sepertikebersihan ruang keluarga dan teras), sementara si bungsu masih sebatas mengurus keperluannya sendiri yang mudah seperti mencuci piring yang usai ia pakai, dst.

Intinya pembagian tugas dan tanggung jawab di rumah tidak melihat perbedaan gender, namun lebih pada melihat perkembangan usia mereka.

Selain membuat aturan yang jelas, salah satu yang ingin saya bangun di rumah adalah perasaan nyaman satu sama lain, di mana anak-anak merasa bebas mengungkapkan isi hatinya tanpa khawatir dihakimi oleh anggota keluarga lainnya. Saya mendukung mereka untuk lebih terbuka dan membicarakan uneg-uneg-nya dengan santai.

Awalnya memang sulit, kadang anak-anak masih merasa takut-takut untuk menyampaikan sesuatu yang menurut mereka kurang pas dibicarakan dengan orangtua. Ada masa-masa bahkan saya pun sulit untuk berkomunikasi dengan baik dengan mereka, misalnya saat ada anggota keluarga dekat kami yang bercerai sehingga membuat anak-anak saya sedih dan sempat jauh dengan sepupunya. Ada juag beberapa hal berat yang tetap harus kami komunikasikan kepada mereka seperti tentang kematian, dll. Namun lama kelamaan situasi lebih cair dan kami bisa merasa nyaman satu sama lain.

Menciptakan rumah yang nyaman dan penuh cinta bagi keluarga kami tetap masih suatu proses yang panjang dan melibatkan seluruh anggota keluarga dan kami tidak pernah berhenti belajar untuk itu, salah satunya dengan mencari inspirasi lewat Skata 1001 Cara Bicara.

Sampai ketemu di artikel berikutnya, yaa..

********

5 comments