Minggu, 23 Maret 2014

Melindungi Anak dari Kejahatan Seksual...


Saat masih kecil, beberapa kali saya mengalami hal yang membuat saya tidak nyaman, yang ternyata saat saya dewasa saya sadari itu sebagai pelecehan. Pengalaman saya mungkin tidak terlalu ‘gelap’ dibanding beberapa orang  yang saya kenal, namun hal itu sudah cukup membuat saya super waspada dengan isu sexual abuse terutama terhadap anak-anak.

Hanya karena badan saya yang bongsor, waktu kecil, saya beberapa kali menerima pandangan tidak sedap dari orang dewasa laki-laki baik di sekitar rumah mau pun di lokasi umum seperti mall dan taman rekreasi.  Pernah juga, saat saya sedang mandi, kebetulan ada orang yang sedang memperbaiki tembok dekat kamar mandi yang diam-diam mengintip saya. Saya yang merasa kaget langsung berteriak histeris sehingga kedua orang tua saya keluar dan segera melabrak orang tersebut.

Pengalaman di atas, belum lagi cerita teman ditambah berita-berita di televisi membuat saya menjadi over-protective terhadap anak-anak serta keponakan-keponakan saya. Mungkin ada yang menganggap saya parno alias paranoid,  tapi mencegah lebih baik daripada mengobati, kan?

Inilah tiga hal utama yang saya lakukan demi melindungi  anak-anak dari pelecehan, dan ini berlaku untuk anak laki-laki dan perempuan.

1.    Ajarkan. Berikan pendidikan mengenai seks pada anak saat mereka sudah mulai bisa diajak bicara. Sebagai contoh, saya kerap mengingatkan anak-anak bahwa hanya saya, ayah mereka dan si mbak yang boleh menyentuh daerah vital mereka, itu pun hanya saat mandi dan saat mereka memang masih perlu dimandikan. Jika orang lain melakukannya, meski pun itu adalah kerabat dekat, saya minta anak-anak untuk memberitahukannya pada saya. Saya juga mengatakan bahwa sentuhan apa pun yang membuat mereka merasa tidak nyaman, harus dihindari dan jangan takut atau malu untuk memberitahu pada saya, ayahnya, mbak, atau pun guru jika terjadi di sekolah.

Tidak hanya soal sentuhan, saat ada perkataan yang membuat mereka tidak nyaman, misalnya kata-kata kotor , saya meminta mereka untuk memberitahukannya pada saya. Saat saya masih di sekolah dasar, beberapakali saat pulang dari sekolah yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah, segerombolan remaja menggoda saya dengan kata-kata kotor. Saat itu saya tidak tahu arti kata tersebut, namun dari konteks kalimatnya,  saya tahu artinya pasti tidak bagus.  Persaaan saya  pun tidak enak. Saya yang saat itu tidak berani mengadu pada orang tua memilih jalan lain setiap pulang sekolah.  Saya memang bisa survive, tapi saya tidak ingin anak-anak saya mengalami hal tersebut dan tidak mengadukannya pada saya.

2.    Dengarkan. Dengarkan perkataan anak-anak kita. Saya punya contoh yang sampai sekarang rasanya masih sulit saya mengerti. Saat masih di Sekolah Dasar, seorang teman bercerita pada ibunya bahwa dadanya –maaf- diremas oleh seorang oknum  guru hingga terasa sakit, si ibu tak terlalu menggubris dan bilang itu hanya perasaan si teman saja. Duhhh.., saya tidak tahu mau berkomentar apa.  Kerusakan yang terjadi tidak hanya saat si anak masih kecil, bahkan sampai sekarang, saat sudah memiliki anak, teman saya tidak bisa benar-benar memaafkan ‘kecuekan’ ibunya waktu itu.

3.    Kuatkan. Saya mengikutkan anak-anak olahraga beladiri serta kegiatan fisik lainnya, seperti berenang dan sepak bola. Saya berharap, dengan mental yang tegar serta fisik yang kuat, insha Allah mereka bisa membela diri jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. 
olahraga..olahraga..olahraga...
Saya juga ingat sekali pernah menonton salah satu episode Oprah Winfrey di mana salah satu nara sumber mengajari anaknya untuk melawan sekuat tenaga pada saat awal  terjadinya suatu penculikan atau penyergapan.  Anak perempuan si nara sumber yang saat itu sedang naik sepeda dan hendak diculik oleh seorang pemerkosa pun langsung teringat nasehat bapaknya sehingga saat si penculik berusaha menariknya ke dalam mobil, ia meronta, menggigit, berteriak, mencakar, tanpa kenal lelah sehingga si calon pemerkosa yang berbadan besar mengurungkan niatnya (dan akhirnya tertangkap). Menurut sang bapak, jika si anak melawan saat sudah berhasil dibawa oleh penjahat, kemungkinannya sangat kecil untuk dapat melarikan diri.

Tentunya masih banyak cara lain untuk melindungi anak-anak kita, mari berusaha bersama-sama dan selalu ingatkan anak-anak untuk waspada ya..

0 komentar:

Poskan Komentar