Kamis, 24 Maret 2016

Media, yuk lebih sensitif gender dan ramah anak ...



Pernah lihat iklan pompa air Sh*m*zu? yang ada perempuan berdada besar dan berbaju seksi main air dengan body languange yang semua juga tahu arahnya ke mana?, belum lagi gimmick-nya yang mungkin terlalu vulgar dan mengarahkan penonton untuk mengasosiasikannya dengan hal lain?. 

Pernah lihat korban pelecehan seksual yang masih anak-anak yang diajak untuk ikut konferensi pers oleh LSM atau pihak lain meski pun wajahnya ditutupi atau dipakai kan topeng?.

Pernah terpikir, ngga, kalau tulisan di blog kita pernah menyinggung orang, dalam hal ini perempuan lain?, atau mungkin kita pernah posting meme yang tidak ramah anak?, dan seterusnya, dan seterusnya.



Mungkin kelihatannya sepele bagi sebagian orang, namun tidak untuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA). Contoh-contoh di atas hanya sebagian kecil dari apa yang terjadi di media-media Indonesia, di mana secara sadar atau pun tidak sadar, media telah turut mempengaruhi serta menyebarkan tayangan dan tulisan yang tidak sensitif terhadap perempuan serta tidak ramah anak.

Maka untuk kesekian kalinya, KPPPA mengundang beberapa media untuk turut membuat draft PANDUAN PELATIHAN MEDIA YANG SENSITIF GENDER DAN RAMAH ANAK. Panduan tersebut sudah sekitar 80% selesai, dibuat oleh KPPPA bersama konsultan dan KPPPA meminta masukan dari perwakilan media yang diundang untuk memberi masukan.

Menariknya, dalam kesempatan tersebut, KPPPA tidak hanya mengundang media cetak, televisi, serta media online, namun juga mengundang blogger untuk turut memberi masukan terhadap draft yang sudah mereka buat.


Tujuan dari pelatihan yang sedang dirancang tersebut adalah untuk mewujudkan persepsi yang sama antara pemerintah dan para pemangku kepentingan termasuk media. Yang dimaksud media oleh KPPPA adalah media cetak seperti koran, majalah, tabloid, lalu televisi, radio, media online, pembuat iklan, serta blogger dan netizen. Ya, blogger juga berperan sangat penting dalam hal ini. 

Tujuan lainnya adalah untuk meningkatkan sinergitas antara pemerintah dengan media dalam rangka menciptakan media yang sensitif gender dan ramah anak serta memberikan keterampilan teknis kepada para pekerja media untuk menganalisis berbagai fakta, isu dan data dari perspketif gender.

Rencananya, dalam pelatihan tersebut akan disampaikan materi mengenai Hak Asasi Manusia, Perspektif Gender, Hak Perempuan dan Isu-isu Perempuan, Hak Anak dan Isu Anak, serta Etika Reportase dan Program Media yang Sensitif Gender dan Ramah Anak.

Pembahasan-pembahasan tersebut akan sangat membantu para pekerja dan aktivis media dalam mengerti dan ikut menyebarkan hal-hal yang berkaitan dengan isu sensitifitas gender dan ramah anak tersebut.

Panduan pelatihan ini memang masih belum seratus persen selesai, namun saya percaya bahwa KPPPA dan media mampu bekerja sama dalam membantu lancarnya pelatihan media yang sensitif gender dan ramah anak ini nantinya.

***

7 komentar:

Agung Han mengatakan...

Smoga kedepan media semakin selektif menunrunkan berita atau program
sehingga aman di"lahap" anak-anak

Pakde Cholik mengatakan...

Walau dipojok TV suka ada label ciri tontonan misalnya BO(Bimbingan Orangtua) tetapi masih kecolongan ya. Perlu kehati-hatian dalam memproduksi dan menyiarkan acara.
Lagu-lagu juga ada yang liriknya terasa kurang pas bagi anak-anak.
Salam hangat dari Jombang

Okti mengatakan...

ih, kameranya keren Mbak
hahaha, #gagalfokus

Btw, iya semakin banyak perempuan dan anak dijadikan daya tarik karena memang "menjual" ya, smoga aja smakin canggih, konsumen samkin pinter dalam membeli :)

Enny Law mengatakan...

Perempuan memang sering jadi korban pelecehan yah :(

Puput mengatakan...

semoga lekas 100% dan dapat menjadi filter buat media, biar mereka gak sembarangan bikin tontonan.. asal rating naek.. tapi boros akal

zata ligouw mengatakan...

agung han, iya, amiinn..

pakde cholik, setuju pak de, tulisan2 spt BO nggak banyak membantu menurut saya..

Okti, ahahah, keren yah..

Enny Law, betul mbak..

zata ligouw mengatakan...

@puput, iya semoga segera selesai dan bisa segera diaplikasikan yaa..

Poskan Komentar