Senin, 22 Agustus 2016

Jadi Konsumen Cerdas, Gunakan Obat Dengan Izin Edar [ODIE]



Sekitar delapan tahun yang lalu papa saya meninggal dunia setelah bertahun-tahun menderita dan keluar masuk rumah sakit. Penyakit jantung adalah salah satu yang dideritanya. Minum obat sudah menjadi keseharian, kadang bisa tujuh macam obat sekali minum, bayangkan berapa banyak obat yang ia minum dalam seminggu, sebulan, bahkan setahun.


Sebelum papa akhirnya dimasukan ke rumah sakit jantung dan meninggal beberapa hari kemudian, ia sempat meminum obat yang dibeli bukan di tempat yang resmi, alasannya karena obat-obatannya sangat mahal dan perlu banyak diminum, jadi ada kenalan yang menawarkan membeli di suatu tempat yang bisa diskon cukup lumayan. Saya tidak tahu tepatnya di mana kenalan papa itu membeli obat tersebut, karena seringkali obat-obatannya sudah tersedia di rumah. Obat yang sama yang diresepkan dokter namun dibeli bukan di apotek rumah sakit.

Saat berita tentang obat palsu dan obat illegal beredar, saya sempat bertanya-tanya, apakah papa saya salah satu korbannya?, apakah ia pernah mengkonsumsi obat palsu sehingga kondisinya bukannya membaik, bahkan memburuk?. Rasa penasaran tersebut cukup mengganggu dan menyakitkan. Pada intinya, saya tidak ingin saya dan keluarga saya, serta orang-orang lainnya tanpa sadar turut mengonsumsi obat illegal.

ibu Penny dan staff BPOM lainnya di Bundaran HI tanggal 21 Agustus kemarin
Oleh karena itu, saat BPOM mengkampanyekan penggunaan Obat Dengan Izin Edar atau #ODIE, saya sangat mendukung hal tersebut. Saya ingin agar keluarga saya serta masyarakat Indonesia teredukasi mengenai pentingnya membeli obat yang benar, jangan sampai kelak muncul tanda tanya dan penyesalan yang tak ada gunanya seperti yang saya ceritakan di atas.

Peredaran obat ilegal kini merupakan masalah yang tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan sudah menjadi masalah global yang hingga kini masih memerlukan langkah pemberantasan yang tepat untuk menuntaskannya. Upaya penanggulangan peredaran obat ilegal tidak mungkin dapat dilakukan oleh hanya satu pihak saja. Mengingat sudah lamanya permasalahan ini terjadi dengan kemungkinan luasnya jaringan pelaku, tentunya dibutuhkan kepedulian semua pihak untuk bersama-sama memerangi peredaran obat ilegal, baik dari sektor pemerintah, pelaku usaha, termasuk masyarakat, ya masyarakat, kita-kita ini..

eh, ada maskot ODIE dari BPOM
Obat ilegal dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu obat tanpa izin edar (TIE) atau obat palsu. Obat TIE merupakan obat yang tidak memiliki izin edar dari Badan POM. Kode izin edar Badan POM untuk obat diawali dengan huruf D untuk obat dengan merek dagang atau G untuk obat generik, lalu diikuti dengan huruf kedua, yaitu B untuk obat bebas, T untuk obat bebas terbatas, K untuk obat keras. Seringkali obat TIE disertai dengan penandaan yang berbeda dengan obat yang telah memiliki izin edar.  Sementara, obat palsu adalah obat yang diproduksi oleh pihak yang tidak berwenang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau produksi obat menggunakan penandaan yang meniru obat dengan izin edar.

Produk obat yang cenderung dipalsukan biasanya merupakan obat-obatan lifestyle, life-saving, dan obat lain yang banyak dicari oleh masyarakat. Berdasarkan data pengawasan Badan POM periode 2013-2015, temuan obat palsu didominasi oleh obat golongan disfungsi ereksi, antibiotika, antipiretik-analgetik, antihipertensi, dan Antihistamin. Jika dilihat dari jenis obat, obat branded dengan harga yang relatif mahal lebih sering dipalsukan dibanding dengan obat jenis generik. Beberapa obat dengan merk dagang yang ditemui dipalsukan berulang kali, misalnya Blopress, Cialis, Viagra, Ponstan, Bloppres, incidal OD, Diazepam, Anti-Tetanus Serum, dan Nizoral. Hingga periode Januari - Juni 2016, Badan POM juga telah mengidentifikasi 17 merek obat palsu yang didominasi oleh golongan vaksin, Anti-Tetanus Serum, serta obat disfungsi ereksi.

Ingat ya pesan cewek2 cantik ini, waspada obat ilegal!
Dalam kampanye Aksi Sosial Peduli Obat Legal di area Car Free Day Jakarta, hari Minggu, 21 Agustus 2016 kemarin, ibu Penny selaku Kepala BPOM menyatakan bahwa modus pemalsuan obat yang dilakukan pelaku, antara lain mengemas ulang produk obat dengan kemasan dan label produk obat lain yang harganya lebih tinggi, mengubah tanggal kedaluwarsa dengan tanggal kedaluwarsa baru, mengganti kandungan zat aktif dengan zat aktif lain yang efek terapinya berbeda atau mengurangi kadar zat aktif obat sehingga tidak sesuai dengan kandungan produk aslinya. Dari sisi jalur distribusi, modus pelanggaran penyebab masuknya obat palsu ke jalur distribusi resmi disebabkan ada fasilitas pelayanan kefarmasian yang melakukan pengadaan obat dari sumber tidak resmi atau dari sumber freelance tanpa disertai dokumentasi yang memadai.

Saat diwawancarai oleh beberapa media kemarin, ibu Penny juga mengatakan bahwa masyarakat sebagai konsumen pengguna produk obat di Indonesia merupakan salah satu kunci utama keberhasilan upaya penanggulangan peredaran obat ilegal. Peran aktif masyarakat sangat diharapkan dalam melakukan pengawasan obat ilegal termasuk palsu, minimal dimulai dari pengawasan peredaran obat yang ada di lingkungan sekitarnya.

Melalui kampanye Aksi Sosial Peduli Obat Legal, Badan POM mengajak masyarakat untuk menjadi konsumen yang kritis dalam memilih atau menggunakan obat.  Masyarakat harus menjadi konsumen yang cerdas. Ingat untuk selalu melakukan Cek KIK  (Cek Kemasan, Cek Izin edar, dan Cek Kedaluwarsa). Pastikan juga untuk selalu membeli obat di sarana resmi. Belilah obat keras sesuai dengan resep dan petunjuk dari dokter. Hindari pembelian obat melalui situs penjualan online. Jangan mudah tergiur dengan harga obat yang lebih murah dari harga pasaran.


"Ingat Cek KIK - Cek Kemasan, Cek Izin edar, dan Cek Kedaluarsa!"


Masyarakat yang kritis diharapkan dapat mempercepat upaya memutuskan mata rantai peredaran obat ilegal di Indonesia. Dengan semakin menurunnya jumlah konsumen yang menggunakannya, maka pelaku juga akan semakin mengurangi aktivitas usahanya dalam mengedarkan produk obat ilegal karena tidak memberikan keuntungan. Ibu Penny menghimbau masyarakat untuk tidak ragu melaporkan kepada Badan POM jika mencurigai adanya aktivitas peredaran obat ilegal.


Nah, sudah saatnya kita sebagai masyarakat Indonesia untuk turut membantu pemerintah dalam mengatasi masalah ini dengan berhenti menggunakan obat yang tidak memiliki izin edar dan tidak membeli obat secara online, setidaknya mulai dari diri kita sendiri dulu lalu sosialisasikan kepada kerabat, kenalan, dan orang-orang lainnya ....

Selesai melihat kampanye #ODIE, kami pun berfoto dulu ;p

****

54 komentar:

damarojat mengatakan...

antibiotik, antipiretik-analgesik. wah, padahal jenis obat itu yang banyak dicari ya. iya juga sih kalo bukan obat laris tentunya tidak akan dipalsu.

gerakan yang positif mbak. semoga banyak yang tergugah.

zata ligouw mengatakan...

@damarojat
iya mba, makanya harus waspada banget ya.. iya amin, semoga masyarakat makin peduli thd hal ini untuk ngurangin peredaran obat palsu dan ilegal..

dani mengatakan...

Waaaah, informasinya bermanfaat banget Mbak Zata. Meskipun saya sendiri sangat jarang minum obat (kecuali emang harus). Jadi tahu kalo BPOM punya line contact sendiri dan bisa ditelepon kapan aja..

zata ligouw mengatakan...

@dani
sama-sama mas Dani, semoga bermanfaat yaaa..

Sandra Buana Sari mengatakan...

Wah ini bener banget nih! Konsumen harus diberikan info agar lebih waspada terhadap obat2 yang dijual bebas. Semoga akan lebih banyak informasi-informasi yang berguna seperti ini utk masyarakat ya :)

zata ligouw mengatakan...

@Sandra Buana Sari
Iya San, peran kita juga sebagai ibu untuk turut mengedukasi keluarga, kerabat, teman2 serta masyarakat luas soal ini ya..

suria riza mengatakan...

pengalamanku sama obat ini emang kudu pantau. jadi sebagai konsumen g dibodohi dokter kudu beli-beli obat macem2 iya-iya aja -___-

zata ligouw mengatakan...

Stuju mba Echa, konsumen perlu cerdas agar nggak kebawa ya...

Santi Dewi mengatakan...

haduuh... ngeri banget ya, kalo hanya dgn pengecekan adanya label BPOM dan MUI aja, cukup gak mba?

Vicky Laurentina mengatakan...

Sulit mengharapkan masyarakat bisa ikut mengawasi peredaran obat yang todak berizin ini.

Mau cek kemasan? Kemasan obat yang asli dengan obat yang palsu itu sama saja. Apakah Zata dapat dokumentasi dari BPOM tentang mana gambar kemasan obat yang mengandung logo K, logo T, logo B, dan sebagainya itu? Saya scroll artikel ini sampai ke bawah, sekilas artikel ini mirip artikel orang jalan-jalan pagi di car free day aja :-D

Mau cek izin edar? Itu bukan kerjaannya konsumen, itu kerjaannya Kementerian Perdagangan. Kalau ada barang dagangan yang bisa merugikan masyarakat dan sampai beredar di toko-toko kecil, Kemenperindag mestinya merazia toko itu. *jadi ingat sebuah toko di jalan besar dekat rumah saya terpaksa disegel Satpol pp gegara menjual barang palsu*

Cek kadaluarsa lebih mudah. Karena tanggal kadaluwarsa ada di dalam kemasan.

Santi Dewi betul. Lebih gampang ngecek label BPOM daripada masyarakat disuruh ngecek izin edar.

Liswanti Pertiwi mengatakan...

Benar sekali mba, kita harus cerdas jadi konsumen. Apalagi dengan obat-obatan ya.

lianny hendrawati mengatakan...

Selama ini aku nggak terlalu perhatian dg obat, mulai sekarang harus hati-hati nih. Thanks for Sharing :)

Keke Naima mengatakan...

selain harus rajin ngecek, saya lebih memilih membeli di tempat yang udah dipercaya, Mbak. abis gak mau sembarangan juga sama obat. Ngeri efeknya, ya

Heni Puspita mengatakan...

Waduh, obat branded dan mahal justru lebih banyak dipalsukan. Selain melakukan pengecekan supaya lebih aman, saya beli obat di tempat terpecaya aja deh.

Desi Namora mengatakan...

jadismakin awas nih dgn metode KIKbuat ceki2 obat

Adriana Dian mengatakan...

Sebagai konsumen memang sepatutnya kita lebih teliti ya mbak, jangan sampe deh kebeli obat-obatan sembarangan. Jaman udah serem banget nih sekarang, apa aja dipalsuin ya.. Huhuuu. Makasi sharingnya ya mbak Zata

Nining mengatakan...

Abis baca postingan yang informatif ini, saya kemudian gagal fokus ngeliat foto mba cantik di bawah hahaha ^^v

April Hamsa mengatakan...

Kdng aku suka bingung knp obat yang berlabel harus dgn resep dokter bisa dibeli bebas di apotek bahkan warung mbak. Moga2 pemerintah makin tegas soal aturan obat ini...

Ratna Dewi mengatakan...

Sejak banyak kampanye soal obat ini, aku juga selektif banget buat milih dan makan obat (dan juga makanan). Apalagi sekarang masih banyak obat dengan label K yang dijual bebas dan dulu aku peminum obat dengan label K tanpa resep dokter, hiks. Akhirnya sekarang sudah sadar kalau obat itu nggak boleh asal minum harus lihat labelnya dan juga izin edarnya.

Jiah mengatakan...

Perlu kampanye ke kampung jg nih

zata ligouw mengatakan...

@Santi Dewi
sebenarnya cukup mba, tapi sayang, kadang ada label yang palsu juga kan :(

zata ligouw mengatakan...

@Vicky Laurentina
setuju mba Vicky, nggak semudah itu memang, tapi bukan berarti nggak bisa. Tanggungjwb utama memang bukan di kita, tapi apa salahnya untuk juga ikut mengecek dan mengawal karena faktanya, kondisinya sudah seperti ini. Saya pribadi berpendapat, daripada sudah ada kejadian yang merugikan keluarga saya lalu saya sibuk menyalahkan sana sini, lebih baik saya turut mengecek.

dan memang ini artikel jalan2 di carfreeday, saya datang ke sana, mendengarkan kampanye #BPOM #ODIE dan berbagi di sini, semoga tidak ada yang salah dengan ini ya mba Vicky :)

Untuk edukasi yang lebih rinci, mialnya soal perbedaan kemasan dan lain2, bisa mengunjungi website BPOM, tapi nanti saya juga ikut cari tahu karena itu juga concern saya.

Sekali lagi, opini saya pribadi, jika saya masih belum bisa mengandalkan pihak lain untuk menjaga keselamatan saya dan keluarga, saya pilih untuk ikut serta daripada menyesal dan menyalahkan orang lain :).

Terima aksih banyak masukannnya ya mba Vicky, semoga pihak2 terkait juga membaca komentar mba Vicky dan menjadi masukan yang berharga buat mereka dan kita semua.

Salam,
Zata

zata ligouw mengatakan...

@Liswanti Pertiwi
iya mba Lis, nggak ada salahnya untuk waspada apalagi memang kenyataannya situasinya sedang tidak baik seperti sekarang ini.

zata ligouw mengatakan...

@lianny hendrawati
iya mba sama, aku pun dulu begitu, sekarang mikir, ngapain unggu kejadian dulu baru waspada, ya kan?

zata ligouw mengatakan...

@Keke Naima
nah setuju banget mba Myr, lebih baik beli di tempat yang udah dijamin aja dari pada ragu2..

zata ligouw mengatakan...

@Heni Puspita
iya, mungkin karena untungnya lebih besar ya mba Hen, makanya kbanyakan yg dipalsukan ya obat2 mahal..

zata ligouw mengatakan...

@Desi Namora
iya, gampang diinget ya metode ini :)

zata ligouw mengatakan...

@Adriana Dian
iya mba Adriana, seremm..

sama-samaa, makasih juga udah mampir..

zata ligouw mengatakan...

@Nining
ahahha mba Nining, kan mumpung di blog sendiri, kapan lagi bisa eksis kalo gak ada foto2 dirinya, hihihi...

zata ligouw mengatakan...

@April Hamsa
yes, bener mba April, sering2 aja sih hal ini kita sampein ke pemerintah agar ke depannya lebih baik lagi..

zata ligouw mengatakan...

@Ratna Dewi
sama mba, aku dulu juga jarang banget ngecek label, tapi sekarang, demi keluarga, ya harus cek dan ricek ya.., gak ada ruginya kok waspada..

zata ligouw mengatakan...

@Jiah
wahh harus disampaikan ke pihak2 yang terkait nih mba..

Ira duniabiza mengatakan...

Nah iya. Setuju banget mba Zata. Apalagi urusan obat ya, kudu hati2. Salah2 malah bukannya jadi obat malah mudarat.

Jadi harus aware 4 cek ya mba. KiK, izin edar, kadaluarsa, dan kemasan. Sip sip.... laksanaken! :-)

zata ligouw mengatakan...

@Ira duniabiza
makasih banyak sudah mampir mba Ira, iya betul sekali tak ada ruginya kok utk ngecek :)

irmasenja mengatakan...

Lelah mba kalo ngebahas obat.... loh ?? Iya xixixi sbgi peminum obat2 dokter yg gak bisa nolak tumpukan obat2n ituh :((

Waspada kudu banget mba, mksh sharingnya ya mba

zata ligouw mengatakan...

Iya mba Irma, sedih kalo bahas soal obat2an palsu dan ilegal inu, tapi ya daripada sedih2 gak jelas mending bantu memberantas peredarannya dng waspada, cek dan ricek serta adukan ya :)

Ani Berta mengatakan...

Obat-obatan yang kita beli sewajarnya kita lihat dan periksa juga. Setidaknya dari tgl kadaluwarsanya, kode-kode yang tertera dll, kalau ragu, bisa konsultasi ke nomor hotline BPOM atau ke dokter terdekat.
Namanya konsumen harus cerdas ya kita harus usaha cari tahu, gak harus mengandalkan pemerintah atau badan2, iya gak Mba Zata?

Kang Nurul Iman mengatakan...

Saya paling tidak suka mbak dengan para produsen yang menjual barang yang tidak memiliki bukti untuk diedarkan karena kebanyakan produk yang tidak memiliki izin edar sudah bisa dipastikan produk tersebut tidak aman dan tidak boleh dikonsumsi kalau misalkan itu makanan atau minuman dan salah satunya obat.

zata ligouw mengatakan...

Iya teh maksudnya spt itu, nggak berarti tiap beli obat harus cek izin edarnya, namun kalau ragu, apa salahnya mengecek.

Yes, setuju banget teh...

zata ligouw mengatakan...

Betul sekali kang, gak ada kode udah jelas gak aman ya...

Uci mengatakan...

Orang tua dulu kan sering beli di warung mba zata, kadang yg penting obat, kurang kesadaran utk cek . Makin lama makin banyak oknum nakal yaa mba, moga kita sehat selalu semua ya. Biar ngga usah minum obat ^^ amin

cloud computing mengatakan...

semoga kegiatan sperti ini semakin sering diadakan biar pengetahuan masyarakat juga bertambah

evylia hardy mengatakan...

Aku pernah minum obat bebas yg ternyata palsu lho mba Zata. Pas sakit maag, biasanya aku konsumsi merek itu langsung sembuh, tapi kali itu udah diminum berkali-kali sakitnya nda reda. Akhirnya obat yg itu kutinggal & aku beli lagi merek yg sama. Sekali diminum langsung reda spt biasa. Ada pemalsuan berarti ya

indah nuria Savitri mengatakan...

paling sereem yah dengan obat2 palsu ini..makin banyak kampanye untuk informasi makin baik niih

zata ligouw mengatakan...

Nah iya mba Uci, aku jg inget nyokap bokap klo beli kdg di warung krn apotek jauh...

zata ligouw mengatakan...

Duh bisa jado tuh mba Evy. Harus hati2 banget...

zata ligouw mengatakan...

Iya mba Indah, serem. Iya, peran kita jg sbg blogger utk turut membantu pihak2 terkait mengkampanyekan hal ini..

Nchie Hanie mengatakan...

waah inpo yang sangat menarik niy mba ..
aku jarang minum obat juga terkecuali jika emang dibutuhkan (jangan sampe lah) hahhha
semoga masyarakat makin bijak ya, jangan mau dibodohin sama obat2 palsu.

zata ligouw mengatakan...

@Nchie Hanie
keren mba Nchie, kalo bisa nggak minum jangan minum yah, hehehe.

Iya aminn semoga semakin banyak orang teredukasi dan berpikir bahwa menjaga keselamatan diri dan keluarga dng memilih obat berijin edar adalah tanggungjawabnya juga, bukan hanya tggjwb pihak2 tertentu :)

Khoirur Rohmah mengatakan...

Eh... baru tahu bngte sma mksud dri lingkaran berwarna warni yg ada tulisan B, G, D, K, hhee
Ada juga mbahnya aku, salah konsumsi obat dri RS smpai skrg masih sakit,
TFS ya mba
Salam KEnal ^_^

zata ligouw mengatakan...

@Khoirur Rohmah
sama-samaaa :)

herva yulyanti mengatakan...

Saya baru paham kode-kodenya mba, mesti lebih aware y mba semoga saya dan yang belum paham jadi aware masalah yang begini :)trimz sharingnya mba

zata ligouw mengatakan...

@herva yulyanti
sama-sama mba Hervaaa..

Ahmad Alfan T mengatakan...

Jadi selama ini salah, -_-
Minum obat asal obat tersebut populer dan blm expired, next time harus lebih detail milih obat

Poskan Komentar