Senin, 14 November 2016

Mari, Perangi Obesitas pada Anak!


CALLING FOR URGENT GOVERNMENT ACTION TO END CHILDHOOD OBESITY
Obesitas. Mendengar kata tersebut rasanya sudah cukup membuat resah orang dewasa bahkan juga anak-anak.  Kekhawatiran akan kelebihan berat badan serta obesitas ini memang sangat beralasan. Setelah dianggap sebagai masalah negara berpenghasilan tinggi, prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas kini justru meningkat juga di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah khususnya di daerah perkotaan.

Belum lama kita melihat dan mendengar di media tentang cerita anak-anak dan remaja obesitas seperti Arya Permana yang berumur 10 tahun dengan berat badan 186 kg, Rizki Rahmat yang berbobot 119 kg, dan alm. Wahid Zeananda yang punya berat 190 kg, yang beritanya begitu membuat kita sedih dan prihatin. Sayangnya, nama-nama di atas hanya beberapa yang tampil dipermukaan, dalam keseharian pasti kita pernah melihat atau bahkan mengalaminya sendiri. 

Angka obesitas memang meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1980 dan dua tahun lalu sudah ada sekitar 41 juta anak mengalami berat badan berlebih dan obesitas. Data riset kesehatan dasar tahun 2013 menunjukan ada 18,8 % anak usi 5 sampai 12 tahun yang mengalami kelebihan berat badan dan 10,8 % menderita obesitas. Nah, ternyata hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa obesitas yang terjadi pada anak berhubungan erat dengan obesitas pada orang tua. Alarm banget, nih, buat kita para orang tua…

Dampak buruk obesitas pada anak terutama pada tumbuh kembang serta aspek organik dan psikososial. Obesitas pada anak beresiko tinggi menjadi obesitas pada masa dewasa dan berpotensi mengalami berbagai penyakit hingga berujung pada kematian. Hal itu bisa terjadi karena penderita obesitas kemungkinan besar menderita peningkatan tekanan darah, penyumbatan jalan napas saat tidur, asma, sindrom polikistik ovarium, diabetes melitus tipe 2, perlemakan hati, abnormalitas kadar lipid darah hingga sindrom metabolik.

Itulah kenapa dalam rangka Hari Obesitas Sedunia yang jatuh pada tanggal 11 Oktober lalu, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Kementrian Kesehatan RI,  mengangkat tema “Calling for Urgent Government Action to End Childhood Obesity.” Targetnya adalah untuk menghentikan kenaikan prevalensi obesitas pada tahun 2025.

Obesitas pada anak berkaitan erat dengan obesitas pada orangtuanya

SEKILAS TENTANG OBESITAS, PENYEBAB DAN PENCEGAHANNYA
Obesitas atau kegemukan didefinisikan sebagai lemak abnormal atau berlebihan akibat ketidakseimbangan asupan energi dengan energi yang digunakan yang terjadi dalam jangka waktu lama.

Penyebab kelebihan berat badan dan obesitas pada anak disebabkan oleh beberapa faktor, namun seringkali diakibatkan dari faktor gaya hidup yang tidak sehat. Jumlah asupan energi berlebih, kebiasaan mengonsumsi jenis makanan dengan kepadatan energi yang tinggi lemak, gula, serta kurang serat, jadwal makan yang tidak teratur, tidak sarapan, kebiasaan ngemil, serta teknik pengolahan makanan yang saat ini banyak menggunakan minyak, gula, dan santan kental, sangat memicu kelebihan dan obesitas yang terjadi pada anak dan orang dewasa.

Tidak hanya itu, kemajuan teknologi serta tersedianya berbagai fasilitas yang memberikan berbagai kemudahan menyebabkan turunnya aktivitas fisik kebanyakan orang. Misalnya ke mana-mana yang harusnya bisa ditempuh dengan jalan kaki, namun karena fasilitas ojek online dan angkutan umum lainnya yang relatif murah dan mudah didapat, orang lebih memilih naik kendaraan. Daripada naik tangga memilih naik lift, dan seterusnya.

Pada kasus alm. Wahid, menurut ibunya, obesitas yang terjadi padanya berkaitan dengan autis yang dialami sejak usia dua tahun sehingga membuat nafsu makan Wahid yang tidak terkendali.

Faktor lain yang menyebabkan obesitas pada anak adalah faktor genetik, yaitu adanya riwayat obesitas pada anggota keluarga yang kemungkinan diwariskan pada keturunannya. Faktor lainnya adalah konsumsi obat-obatan tertentu dan faktor usia. Ketika usia bertambah, maka sistem metabolisme akan menurun sehingga menyebabkan lemak lebih cepat tersimpan di dalam tubuh. Ini reminder juga buat saya yang sudah akan segera masuk ke umur tertentu untuk lebih menjaga makanan dan tetap aktif berkegiatan fisik demi berat badan yang lebih ideal.

all images sources: google image

Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah dan mengurangi obesitas pada anak:

Tidak makan sambil menonton televisi. Saat makan sambil nonton, seringkali kita tidak sadar bahwa kita sudah kenyang, sehingga kita akan makan melebihi porsi biasanya.

Batasi penggunaan gadget. Saat keasikan dengan gadget, biasanya anak-anak akan mengalami ‘posisi pw’ alias posisi wuenak, yang membuat mereka malas untuk bergerak dan beraktivitas fisik lainnya. Jangankan, anak-anak, saya sendiri pun kalau sudah keasikan dengan gadget bisa hampir seharian tidak bergerak aktif, duhhh

Perbanyak aktivitas di luar ruangan. Ini kaitannya sama dengan tip nomor dua di atas. Saya akui hal ini cukup mujarab. Sebagai contoh, anak saya yang masih berusia lima tahun, kalau sudah main gadget sulit sekali untuk disuruh berhenti, namun saat akhirnya berhenti dan diajak main ke luar rumah, misalnya naik sepeda di lapangan, ya ampun, bahkan sulit pula untuk diajak pulang saking asiknya J. Jadi jangan menyerah ya kalau anak awalnya menolak untuk diajak bermain di luar rumah…

Biasakan makan dengan keluarga. Jujur saja, bagi saya ini pun bukan hal mudah karena akibat padatnya aktivitas masing-masing anggota keluarga. Namun saat semua sedang berkumpul di rumah, kami benar-benar mengusahakan untuk makan bersama. Duduk di meja makan sambil ngobrol soal keseharian. Selain makan menjadi terkontrol, benefit emosional juga didapat dengan kegiatan ini.

Biasakan sarapan sehat. Awali hari dengan baik, salah satunya dengan sarapan yang sehat dan cukup mengenyangkan agar anak-anak bisa berkegiatan dengan baik di sekolah dan tidak mudah merasa lapar hingga akhirnya jajan ini itu yang berpengaruh buruk terhadap berat badan mereka. Biasanya saya menyediakan sereal, oatmeal, dan telur rebus sebagai sarapan anak-anak, kadang ditambah roti juga.

Biasakan membawa bekal makanan sehat dan air putih dari rumah. Dengan bekal yang sudah disediakan diharapkan anak-anak tidak lagi memilih jajanan tidak sehat yang dijual di sekitar sekolah. Asupan gizinya juga makin terjamin. Pengalaman saya pribadi, anak kedua yang masih SD makan dari catering sehat sekolah, air putih galon juga tersedia di beberapa tempat di sekolah yang sangat memudahkan ia untuk sering minum air putih. Namun anak pertama saya yang sudah SMP tidak begitu. Ia enggan membawa bekal dari rumah karena sekolahnya cukup jauh dan berangkat sangat pagi. Alasannya jika ia membawa bekal sejak pagi, makanan akan kurang enak jika dikonsumsi saat makan siang. Di sekolahnya pun tak tersedia jasa catering. Solusinya, saya berusaha memaksimalkan makan sehatnya saat sarapan dan saat makan malam (biasanya ia makan malam sebelum jam 6 sore).

Batasi konsumsi makanan siap saji dan pangan olahan, jajanan, dan makanan selingan manis, asin, dan berlemak. Buat saya ini masih pe er karena kebetulan anak-anak saya suka jajan. Sejauh ini saya berusaha untuk membatasinya dengan memilihkan camilan yang tidak terlalu berlemak dan tidak terlalu manis.

Perbanyak konsumsi sayur dan buah. Sepertinya hal ini sudah sering didengung-dengungkan ya dan sebagian besar dari kita pun sudah tahu bahwa kita dan keluarga sangat perlu untuk mengonsumsi lebih banyak buah dan sayur namun kok pada praktiknya sulit, ya?.  Intinya, sih, berusaha, pelan-pelan dan konsisten. Saat ini problema saya sama dengan kebanyakan ibu di dunia, anak-anak yang sulit makan sayur. Solusi saya saat ini adalah membuat jus buah dan sayur yang masih dapat diterima oleh anak-anak. Tidak apa-apa mereka minum sedikit namun sering. Saya berharap lama kelamaan mereka akan mulai suka dan menganggap sayur dan buah sebagai makanan sehari-hari yang wajib dikonsumsi.

Hindari minuman ringan dan bersoda. Seperti kita ketahui, minuman ringan bisa mengandung sekitar 10 sendok gula per botolnya, bayangkan jika dalam sehari anak-anak kita mengonsumsi beberapa gelas/botol minuman ringan dan minuman bersoda?. Saat ini, jika anak saya meminta teh manis kemasan, saya biasanya akan menyarankan ia memesan teh manis biasa yang gulanya bisa ditakar yaitu maksimal dua sendok per gelasnya. Saya sendiri sudah berhenti minum minuman ringan dan bersoda mungkin sejak di bangku kuliah. Sesekali, sih, saya masih mengonsumsinya, tapi dalam sebulan mungkin hanya satu kali itu pun jika tidak ada pilihan lain.

Bagaimana? Sudah terbayang untuk memulai hidup yang lebih aktif dan sehat demi keluarga, anak-anak, dan diri sendiri?. Yuk, kita mulai dari sekarang.

Sebagai informasi, artikel ini saya tulis berdasarkan informasi lengkap yang saya dapatkan saat menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemenkes RI bertajuk “Atur Pola Makan dan Aktif Bergerak, Kendalikan Obesitas.”

Dalam kesempatan tersebut saya mendapat kuliah dari tiga narasumber yang sangat ahli di bidangnya. Kenapa saya bilang kuliah? Karena saya benar-benar merasa mendapat begitu banyak ilmu, masukan, serta manfaat dari mereka bertiga, yaitu Dr. Lily S. Sulistyowati, MM. selaku Direktur Pencegahan & Pengendalian Penyakit Tidak Menular; Rita Ramayulis, DCN, M.Kes selaku Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ahli Gizi (PERSAGI); dan Dr. Michael Triangto, SpKO selaku Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga. Hadir juga Dr. Dwi Yuniarti Daulay M. Kes yang berstatus sebagai Pengurus Himpunan Studi Obesitas Indonesia.

Tunggu postingan saya selanjutnya tentang tiga topik di bawah ini, yaaaa…

  • PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN OBESITAS
  • GIZI SEIMBANG ANAK & DEWASA UNTUK CEGAH OBESITAS
  • AKTIFITAS FISIK PADA DEWASA & ANAK UNTUK CEGAH OBESITAS
**********


15 komentar:

  1. disekolah raffi, semua badane gede2 gemuk2 tapi kebantu susu semua. tadinya aku pengen nyobain susuformula yang mereka pake biar badane gede...cuma kok nanti malah takut susah makan ya. secara raffi aman makannya ga pernah nolak :v... tapi emang iya teman2 raffi pada susah maemnya jadi susu aja terusan.
    pola makan yang kurang bener kan bisa obesitas juga kan?

    BalasHapus
  2. Dari dulu Raya selalu makan makanan rumah & ngga pernah jajan, plus selalu disodorin buah & sayur. Alhamdulillah sekarang anaknya ga doyan jajan, apalagi makan junk food, dan jarang makan cemilan2 dari goodie bag ultah yg kurang sehat. Orangtua wajib ngajarin pola makan sehat pd anak, jangan sampe mau anak sehat tapi pola makan orang tua jg ngga bener :)

    BalasHapus
  3. Orang sering salah kaprah ya anak yang gemuk itulah yang sehat, padahal kegemukan juga bikin anak makin beresiko kena penyakit tertentu. Anakku dulu ndut dan sekarang langsing (klo ngga mau dibilang kurus LOL) tapi anaknya aktif dan sehat, jadi yasudahlah ngga ngoyo lagi pingin dia endutan, hehehe.

    BalasHapus
  4. @suria riza
    Echaaaa, Raffi tuh badannya udah bagus, sekel dan langsing...tinggal dijaga aja asupannya biar seimbang, sama aktifitas fisiknya juga...

    BalasHapus
  5. @Sandra
    waaa Raya hebat bangettt.., ini tiga krucil di rumah cuma dua yang bisa dipaksa makan sayur, yang satu lagi susyaaaahhh :(

    BalasHapus
  6. @Lisna Ardhini
    wahhh keren Lis bisa jadi langsing gitu, bagi2 tipsnya doongg.. :)

    BalasHapus
  7. Banyak aktivitas di luar ruangan dan kurangi penggunaan gadget, Noted Mba :)

    BalasHapus
  8. iya nih..adikku itu lagi kupantau berat badannya...

    BalasHapus
  9. Salam kenal mbak. Dulu aku ada murid private masih SD yang susah kali minum air putih, hobinya Kalo makan nasi harus pake minuman bersoda. Dampaknya sekarang baru keliatan. Nggak gemuk sih, tapi masih muda sudah kena diabetes. Itu penyakit mematikan secara gak langsung. Denger berita ini aku jadi kasihan, padahal dari awal awal sudah tak ingetin. Tapi kadang orang tua kelewat sayang anak jadi salah. Maksudnya mungkin baik tapi nggak tahunya efeknya dibelakang.

    BalasHapus
  10. @Ani Berta
    yes, betul tehhh.. mudah2an kita semua bisa lebih aktif dan sehat yaaa...

    BalasHapus
  11. @Mutia Nurul Rahmah
    iya mba, lbh baik pantau dari sekarang sebelum terlambat..

    BalasHapus
  12. @iyahyuktravelling
    yesss, betul banget, itu nanti ada bahasannya juga dari mba Rita, salah satu narasumber tentang fralse parenting dan sayang yg nggak pada tempatnya malah nyebabin anak jadi gemuk atau penyakitan

    BalasHapus
  13. Padahal kan kalo anak gendut2 gitu lucu yaaa, ternyata ngak sehat ihik ihik

    BalasHapus
  14. Duh, perjalananku masih panjang, akunya baru mau lahiran, huhuhu

    Salam,
    Ara

    BalasHapus