Sabtu, 21 Januari 2017

Kisah Molly dan Laksa




Dua Kucing Betina, Dua Kehamilan, Waktu yang Bersamaan
Sejak kecil saya sangat menyukai kucing dan beberapa kali punya piaraan. Suami apalagi, saat kecil ia punya banyak kucing dan sangat mengenal karakter binatang peliharaan tersebut.

Anak-anak saya pun begitu, namun saat mereka meminta untuk diijinkan memelihara kucing di rumah, saya belum menyetujuinya mengingat mereka belum bisa bertanggungjawab dalam merawat kucing-kucing tersebut.

Setahun terakhir akhirnya mereka saya ijinkan memiliki dua kucing, kebetulan kucing itu adalah anak dari kucing yang mereka temukan sebelumnya. Dua kucing itu adalah Molly dan Laksa, dua-duanya berjenis kelamin betina.

Sekitar tiga bulan lalu, keduanya sama-sama bunting, eh..ngga enak pakai kata itu meski pun ditujukan untuk binatang. Saya pakai kata hamil aja, ya. Saat tahu kedua kucing betina saya hamil, saya langsung bingung, membayangkan akan ada berapa anak dari dua kucing tersebut. Meski suka kucing, namun jika ada lebih dari dua kucing di rumah, saya merasa tidak nyaman dan kurang mampu merawatnya. Alasan saya, sih, rumah kami yang tidak memiliki halaman luas kurang cocok untuk memelihara banyak kucing.

Lalu, tibalah saat yang dinantikan oleh abang, kaka, dan si bungsu aka KenCaBil, yaitu saat melahirkan. Yang pertama kali melahirkan adalah Laksa, kucing kami yang berwarna abu-abu.

Meet Laksa, kucing kampung favorit anak-anak

Ada kejadian menarik dari proses melahirkan kedua kucing ini. Suami saya yang menurut saya seorang 'ahli' kucing karena pengalamannya dari kecil memelihara kucing, mengatakan bahwa biasanya kucing akan mencari tempat tersembunyi untuk melahirkan, tempat yang dirasa paling aman dari kucing lain dan manusia, meski pun dari pemiliknya.

Nah, beberapa hari sebelumnya, seperti kucing-kucing kami sebelumnya, Molly dan Laksa, dengan perut gendutnya, sudah mondar-mandir, dari mulai mengecek kolong tempat tidur, membongkar-bongkar lemari pakaian, sampai memeriksa loteng rumah kami. KenCaBil yang sudah tak sabar menunggu dua kucing mereka melahirkan, sudah menyiapkan dua buah wadah/kotak bekas parcel yang dilapisi banyak kain-kain lembut untuk tempat Molly dan Laksa melahirkan, atau minimal menaruh anak-anaknya setelah melahirkan nanti.

Laksa Melahirkan di Tempat Tak Terduga
Tunggu punya tunggu, keduanya belum melahirkan juga. Sampai suatu hari, saat saya sedang bekerja di home office, saya mendengar Laksa memanggil-manggil (yes, saya tahu itu adalah panggilan karena ia mengeong-ngeong dengan cara yang berbeda dari biasanya). Ia terus mengeong sambil menatap saya dengan wajah memelas dan saat ia berjalan terlihat darah menetes-netes. Saya pun yakin bahwa Laksa akan segera melahirkan. Saya mengelus-elus dia sambil menenangkan, memindahkannya ke kotak yang sudah disediakan oleh KenCaBil dan mengajak Laksa ngobrol.

Setelah Laksa agak tenang, saya meninggalkannya sendirian, dia butuh privasi pastinya. Saat sedang asik duduk di sofa di dekat meja kerja, Laksa tiba-tiba muncul lagi sambil mengeong-ngeong panik. Ia meloncat ke pangkuan saya, menatap saya terus menerus sambil mengeong. Saya ikutan panik dan bingung karena sebelumnya tidak pernah menghadapi hal seperti ini.

Belum sempat saya berbuat apa-apa, Laksa duduk di sofa, bersandar di paha saya, dan......melahirkan. O em ji.., ini akibat diperlakukan seperti manusia kali, ya? saat melahirkan pun ternyata ia memilih untuk ditemani, hihihi. Suami yang kebetulan belum berangkat kerja pun terheran-heran menyaksikan adegan Laksa melahirkan empat anaknya tepat di samping saya.

Laksa melahirkan lima ekor bayi kucing, yang satu tidak selamat. Dan kalian tahu, kan, apa yang dilakukan kucing saat bayinya mati?. Yup, dimakan. Untung suami sudah mewanti-wanti saya agar tidak kaget saat hal itu terjadi. Saya tidak berani beranjak karena posisi Laksa setengah bersandar di paha saya. Saya hanya buang muka saat si kucing memakan bangkai anaknya.

Suami saya sempat mengabadikannya dengan kamera hp, tapi sayang ngga bisa saya share di sini karena hp-nya rusak, makanya lagi ngecek harga hp iphone 5, nih. Eh, kok malah ngomongin hp, hehe... Kembali ke topik soal kucing, setelah Laksa selesai melahirkan, suami pun memindahkan Laksa dan anak-anaknya ke kotak yang sudah disediakan, kotak yang memang hanya pas untuk satu kucing dewasa dan empat anaknya. Dan saya harus langsung mandi karena celana pendek saya basah oleh darah dan cairan lainnya, eeuuhhhh...

Molly

Molly masih belum melahirkan. Sekilas tentang Molly. Kucing betina belang tiga ini adalah kucing yang jutek, sering tidak akur dengan saudarinya, Laksa, dan nggak suka kucing kecil. Beberapa kali ada kucing kecil tetangga mampir ke rumah dan Molly terkaget-kaget, meloncat jijik dan menjauh. Kejadian yang sama pernah terjadi pada anak Laksa sebelumnya (Laksa pernah punya anak, namun mati karena suatu sebab). Setiap anak-anak Laksa mendekati Molly, Molly akan mengeram marah. KenCaBil pun sempat kesal pada Molly yang tidak mau dekat dengan keponakan-keponakannya itu 😁

Nah, uniknya, Molly yang biasanya jutek pada Laksa mulai berubah. Biasanya saat Laksa mendekat atau mengajaknya bermain, Molly terkadang marah, mengeram atau bahkan mencakarnya. Ada masa-masa di mana mereka akur, sih, tapi lebih sering nggak akurnya. Setelah Laksa melahirkan dan memiliki anak, Molly kelihatan lebih sayang pada kakaknya ini. Lebih sayang?. Iya, lebih sayang. Saking sayangnya, ia bahkan bergabung untuk tidur dengan Laksa dan anak-anaknya di dalam wadah sempit itu. Laksa, sih, asik-asik aja, dia bahkan memeluk Molly saat tidur. Whoaaa..., antara lucu, terharu, dan sebel, karena dengan perut gendutnya Molly benar-benar makan tempat dan membuat anak-anak Laksa kesulitan untuk bergerak.

Saya pun memindahkan Molly ke kotak satunya lagi yang saya letakan bersebelahan dengan wadah tempat Laksa dan anak-anaknya. Ehhh, Molly pindah lagi dan pindah lagi, duhhh...

Tidak hanya itu, saat Laksa keluar dari kotaknya untuk sekedar makan atau 'me time', Molly ternyata sering mencuri-curi masuk, menjilat-jilat anak-anak Laksa dan menyusuinya!. Wah, pasti insting keibuannya sudah sangat kuat sehingga ia mengganggap keponakan-keponakannya sebagai anak sendiri. Laksa pun ternyata tak keberatan saat Molly mengurusi anaknya. Owhh.., dua kakak adik yang manissss πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

Molly 'maksa' untuk tidur di kotaknya Laksa dan anak2nya. Tapi Laksa asik2 aja, bahkan meluk Molly ;p

Coba lihat gambar di atas. Kira-kira Laksa melet-melet gitu lidahnya karena kesempitan atau, apa, ya?. Hihihi... Dan itu anak-anaknya Laksa 4 ekor yang kelihatan cuma dua, yang dua lagi ketiban Molly yang masih hamil gede. Duhh.., Molly.., Molly...

Molly pun Melahirkan
Selang beberapa hari setelah Laksa melahirkan, Molly pun melahirkan. Kejadiannya mirip dengan saat Laksa akan melahirkan, mengeong-ngeong panik seperti minta bantuan. Saya pun menaruhnya di kotak satunya lagi yang sudah diberi tumpukan kain agar ia nyaman. Akhirnya Molly melahirkan lima bayi kucing, dan sama dengan Laksa, salah satunya tidak hidup.

Saya pikir Molly akan langsung memakan si bayi kucing, ternyata tidak. Ia sibuk mengurus ke empat anak-anaknya yang hidup. Selang beberapa jam, anak Molly yang mati masih ada di tempatnya. Saya minta tolong suami untuk membuangnya namun kata suami harusnya Molly akan segera 'membereskannya' sendiri, jadi tunggu saja. Oke, saya menunggu.

Malamnya, setelah berjam-jam mengurus anak-anaknya, Molly keluar kotak dan saya masih melihat anak kucing yang mati masih berada di situ. Akhirnya kami berkesimpulan mungkin Molly tidak tega, sedangkan Laksa kan sudah pengalaman satu kali melahirkan.

Saat Molly sedang tak ada di kotaknya, Laksa datang lalu mengendus-endus kotak di samping wadah miliknya. Lalu ia masuk ke kotak milik Molly dan menjilati empat anak Molly yang hidup, bahkan menyusuinya!. Wow, saya amazed, sampai memanggil seluruh keluarga untuk menonton adegan mengharukan itu.

Selesai menyusui anak-anak Molly, Laksa mengendus-endus anak Molly yang mati, dan sudah bisa ditebak apa yang dia lakukan? Yes, Laksa memakannya. Saya pun kabur, jijik, eh, lebih ke nggak tega, sih, melihatnya.

Molly dan tiga anaknya, yang paling kiri anak Laksa.

Drama I - Anak Molly Hilang Satu
Tengah malam, saat terbangun, saya iseng memeriksa para kucing. Laksa terlihat sedang tidur nyenyak dengan anak-anaknya, bertumpukan. Molly tidak tampak di kotaknya hingga saya bisa melihat dengan jelas kalau bayinya hanya ada tiga.

Whoaaa, jangan-jangan anak Molly dimakan Laksa???. Saya membangunkan suami dan dia mengatakan bahwa tidak mungkin Laksa memakan anak kucing yang hidup. Sudah insting kucing untuk memakan anaknya yang mati dan tidak yang hidup.

Suami pun menyalakan lampu lalu mengajak saya mendekat ke kotak Laksa. "Sini, deh," ujarnya sambil tersenyum. Saya mendekat. "Coba hitung ada berapa anak Laksa?." Saya pun menghitung, satu, dua, tiga, empat, ....lima??. Whahahaha.., saya dan suami pun sama-sama tertawa. Suami mengambil anak Molly dan mengembalikannya lagi ke kotaknya. Laksa hanya membuka mata sebentar lalu kembali tidur.

Laksa sedang menyusui tiga anaknya dan satu anak Molly (yang putih hitam)

Drama II - Penculikan
Pagi-pagi sekali KenCaBil sudah bangun, mereka tidak sabar ingin melihat kembali Molly dan Laksa serta delapan anak kucing yang menggemaskan itu. Tiba-tiba si bungsu berteriak, "Mamaaaa, anak Molly hilang semuaaa!!!." Saya menjawab dari kamar, "coba cek kotak Laksa, mungkin ada di sana." Benar saja, Laksa sedang tidur bertumpukan dengan delapan bayi kucing. Duhhh, gemas-gemas kesal, deh, lihatnya 😼😹

"Ma, kasihan anaknya ada yang ketindihan karena sempit," ujar kaka sambil memindahkan anak-anak Molly kembali ke tempatnya. Oh ya, fyi, Molly memang hobi kelayapan, saat belum hamil dan punya anak, ia sering menghilang tengah malam dan kembali pagi-pagi. Saya dan anak-anak pun menerka-nerka, mungkin tengah malam bayi-bayi Molly menangis kehausan dan Laksa tak tega mendengarnya lalu ia pun mengangkut semua anak Molly ke kotaknya. Duh, Laksa keibuan banget, siyyy..#cubit2pipiLaksa

Akhirnya anak-anak memindahkan keempat anak Molly kembali ke kotak mereka. Lalu apa reaksi Laksa?, diambil lagi, dong, sama dia πŸ˜†πŸ˜†. Setelah keempat anak Molly berpindah tempat, Laksa keluar dari kotaknya dan masuk ke kotak Molly lalu kembali memindahkan anak-anak Molly satu per satu ke kotak miliknya. Jadilah saya seperti orang gila, ngajak Laksa ngomong baik-baik, "Laksa, ini bukan anak-anak kamu, ini anak Molly. Nih, anak-anak kamu yang ini," ujar saya sambil mengangkat tubuh Laksa dan membaringkannya di dekat anak-anaknya. Entah mengerti entah tidak, yang jelas Laksa pun berhenti mengambil anak Molly, at least that day...

Esoknya, kejadian yang lebih aneh terjadi, anak masing-masing kucing lengkap, sama-sama empat, tapi saat dilihat lebih lama, ada yang aneh. Ternyata ada anak Molly yang berada di kotak Laksa begitu pun sebaliknya. Ini asli saya, suami, dan anak-anak nggak habis-habisnya tertawa.

Kalau menurut saya, sih, bukan karena masing-masing kucing tidak mengenali anak-anaknya, tapi karena mereka memang sayang dengan kucing-kucing kecil itu. Terbukti kalau memindahkan anaknya ke mana-mana, yang dipindahkan lebih dulu pasti anak aslinya.

Meski pun ada Molly, Laksa tetap berani 'menculik' anak Molly dan memindahkan ke tempatnya.
Drama penculikan ini terjadi berhari-hari dan Molly membiarkannya. Bukan karena ia tak sayang anak-anaknya, tapi sepertinya ia sangat percaya pada kakaknya. Yang akhirnya sering mengembalikan anak-anak Molly dari tempat Laksa adalah saya atau KenCaBil. Kadang jika kami belum sempat memindahkan anak-anak Molly dari tempat Laksa, Molly akan masuk ke sana dan menyusui anak-anaknya dan anak-anak Laksa juga, tergantung mana yang berhasil fight untuk mendapat puting.

Seiring dengan waktu, Laksa mulai menyerah, entah karena capek anak-anak yang dibawanya selalu diambil kembali atau karena sudah sadar bahwa anaknya hanya empat dan ia tak boleh mengambil anak-anak Molly terus-terusan.

Sebenarnya bukan kami tidak membolehkan Laksa turut merawat anak-anak Molly, tapi pertimbangannya, kami takut anak-anak kucing itu tidak cukup mendapat susu karena harus berebutan dengan yang lainnya. Yang saya perhatikan menyusui maksimal empat anak adalah yang paling ideal bagi seekor kucing.

Parahnya lagi, karena Laksa lebih sering menyusui anak-anaknya plus anak-anak Molly, kucing ini jadi super rakus, hampir tiap saat mengeong-ngeong minta makan. Sudah diberi makan, masih mencari-cari di tong sampah rumah, tak jarang naik ke atas meja dan mencuri makanan yang ada. Rasanya tiap jam kucing ini minta makan, tapi mungkin wajar karena ia menyusui delapan anak, hehehe. Akibatnya, pengeluaran membeli makanan kucing bukan hanya dobel, tapi triple. Bagaimana nanti kalau kedelapan kucing kecil itu sudah bisa makan, ya? #kekepdompet

Molly dan Laksa di kotaknya masing-masing, setelah sempat bertukar kotak.

Delapan Kucing, Dua Ibu
Sekarang, saat anak-anak mereka sudah bisa berjalan dan kotak sudah terlalu sempit buat mereka, kami menaruh kucing-kucing itu di teras tingkat atas. Di sana mereka bebas bermain tanpa gangguan dan tetap terlindungi dari hujan dan panas.

Tempat Molly dan Laksa pun sudah tidak terpisah. Mereka tinggal di satu pojokan teras yang luas. Jika Laksa naik ke atas, kedelapan anak kucing pasti akan langsung mengerubunginya, meminta disusui. Karena terlalu banyak, tidak semuanya mendapat bagian. Lalu saat Molly naik ke atas, anak-anak kucing yang sudah kenyang diam saja dan anak-anak kucing yang belum kebagian menyusu akan menghampiri Molly dan menyusu.

Santai di teras atas. Susu Laksa sudah habis, anak-anak kucing pun mengerubungi Molly. Laksa leyeh-leyeh menikmati 'time off-nya' ;p

Molly dan Laksa menyusui sambil santai di dalam rumah.

anak-anak kucing yang kekenyangan dan ketiduran setelah disusui.

Fakta tentang Molly:
  • Jutek, sering marah kalau diajak main dan bercanda sama Laksa.
  • Setelah punya anak jadi manis dan deket banget sama Laksa. Apa-apa barengan.
  • Suka tidur dan bersantai di kamar mandi πŸ˜… 
  • Takut kucing kecil sebelum punya anak. Sering loncat ketakutan saat bertemu kucing kecil.
  • Saat sudah punya anak jadi penyayang juga.

Fakta tentang Laksa:
  • Keibuan banget (tapi lama-lama, Molly malah yang lebih keibuan).
  • Rakus, udah dikasih makan masih suka nyolong di meja makan (namanya juga lagi menyusui, yah..)
  • Sayang banget sama 'keponakan-keponakannya', sering mandiin dan nyusuin bahkan beberapa kali 'ngambil' anaknya Molly untuk dibawa ke kandangnya

Molly bersantai di kamar mandi yang jarang dipakai (tapi dia cuek meski lantai kamar mandi setengah basah).

28 komentar:

  1. Punya binatang peliharaan kitanya kudu telaten banget ya ka. Kalau ngga bisa repot deh. Makanya aku masih belum ngizinin anak-anak buat pelihara binatang. Belum bisa tanggungjawab. Kalo udh gedee kaya kenan mungkin udah busa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Ci, ini akhirnya dibolehin ya karena udah pada gede :)

      Hapus
  2. Enak barengan jadi bisa nyusu banyakkkk
    Kucingku mba huhuhu semenjak pindah sini satu2 ilang :(
    Dari belasan sisa dua biji :((((( *numpang curhat
    G tau itu siapa huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaaa kok pada ilang, huhuhu... kasiannn...

      Hapus
  3. Di rumah saya ada sepasang kucing liar mbak, jantan & betina. Sebenarnya gak dipelihara sih, cuma karena sering dikasih tulang ikan/ayam, jadi sering mampir ke rumah~ :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. dulu juga saya biasanya gitu mas, tapi lama2 jadi kucing rumah, hehehe..

      Hapus
  4. Aaaah itu lucu banget.. Moly kok baek banget sama anak2nya laksa hihihi :D gemes deh liat anak2 kucing ituu apalagi barengan pengen uwel2.. semoga semuanya sehat2 & semoga ada yg mau adopsi jadi ada yg ngerawat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulilah ini ada yang adopsi, tetangga nyokap dan bagusnya dia mau adopsi sekeluarga, jadi Laksa dan anak2nya.., jadi gak kepisah..

      Hapus
  5. Aku suka kucing. Tapi gak boleh peliharaaa. Hiksss

    Lucu ya kadang tingkah binatang suka mirip-mirip kayak manusia.

    Kalo kucing makan anaknya itu maksudnya sekali telen gitu ya, Mbak? Hii.. Serem. Aku baru tau. Yang aku tau anak kucing gak boleh dipegang. Nanti bau orang, induknya makan anaknya. Bener ga ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayak makan ayam gitu Li, hiii...

      Hapus
  6. Waaah bisa barengan begitu ya mba, jadi berasa kelauarga besar. Seru banget punya kucing ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya tiba-tiba di rumah jadi ada sepuluh kucing hehehe...

      Hapus
  7. Foto-foto kucingnya bagus, Mbak. Mbak Zata motret sendiri kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mba Vicky, iya ganti2an ini motretnya, ada yg fotoan aku, suami, dan anakku :)

      Hapus
  8. hamilnya samaan, bapaknya samaan juga gak mba? hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahah..., jangan-jangan sama yahhh ;p

      Hapus
  9. Aku jd terharuuu baca cerita Molly n Laksa mba.. Bisa ya Molly berubah gitu pas punya ponakan dan anak sndiri.. Molly keren.. Jadi pingin elus2 kucing2nya Mba Zata.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya mba Dit, si Molly ini emang bikin terharu, aku malah brasa blajar banyak dari dia, hihihi...

      Hapus
  10. Eh busyet ... siapa jantan yg menghamili mereka ???? apakah jantan yang sama ??? mereka 3some kah ????

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa jadiii mas Cumi, kayaknya bapaknya sama, soalnya kucing laki yang sering nongkrong depan rumah ya itu2 aja, hihihi...

      Hapus
  11. Seruuu ya mba punya kucing banyak begitu.. dan dramanya juga banyaaaak :). Love the photos.. so cute!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Insav, seru2 cuapek, hehehe, untung anak2 komitmen utk ngurusin..

      Hapus
  12. enak kalau punya hewan peliharaan di rumah

    BalasHapus
  13. Mbak skrg sudah punya kucing berapa?

    BalasHapus
  14. haduh kucing, bintang paling aku sayangi nomor satu mba Zata, dari kecil hidup sama kucing.
    Dan di kostan kemarin ada emak kucing teriak melulu, tengah malem aku sampe bangun bantuin dia cari anaknya. Sampai pagi pun tetep ga ketemu. Kasian banget dia, ada suara ank kucing tapi aku cari ga ada.
    Paginya si ibu kost manggil emak kucing, ternyata diumpetin di rumahnya. Pantes aku muter2 nyari di sekitar kost ga ada. Alhamdulillah emak ketemu anak. Ayem liatnya

    BalasHapus