Sabtu, 09 Januari 2016

Kiat bagi Pra-remaja Menghadapi Cyberbullying

abang juga pernah mengalami bullying saat bersekolah bola

"Slimenya sih biasanya aja, tapi itu lho, tangan kirinya kayak banci," tulis salah seorang anak pra-remaja di video tentang cara membuat foam slime yang diunggah oleh kakak di youtube. "Ahaha, slime-nya jelek banget!," komentar yang lain lagi. "Ih, sok tau banget pake ngajar-ngajarin."

Itu hanya beberapa contoh komentar yang cukup mengganggu dari beberapa komentar buruk lainnya. Catatan: tapi alhamdulillah komentar yang bagus jauh lebih banyak :). Namun kadang saya tidak habis pikir, kalau para pemberi komentar yang kebanyakan anak-anak pra remaja itu, tidak menyukai video kakak, kenapa juga harus meninggalkan komentar yang menyakitkan? apa untungnya menyakiti perasaan orang yang bahkan mungkin tidak dikenalnya?.

Ah, daripada sedih sendiri, saya akhirnya memilih menasihati si kakak dan justru meminta dia untuk belajar dari hal tersebut. Saya berpesan untuk menjaga hati dan ucapannya. Saya kembali menanamkan padanya bahwa berbuat baik itu akan selalu nikmat dan tentunya mendapat berkah dari Allah.

Dulu hal yang mirip juga pernah terjadi di facebook anak perempuan saya itu. “Dasar penghianat. Elu ngancem gue? Elu duluan yang mati!.” Wakss!!, saya tercekat membaca pesan di inbox facebooknya.  Pesan itu pun berasal dari temannya yang sering sekali main ke rumah kami. Saya baca lagi dengan teliti perbincangan di inbox tersebut antara ia dan temannya yang berusia beberapa tahun lebih tua itu, sebut saja si x.

Terlihat bahwa mereka sedang marahan karena si x melarang anak saya berteman dengan anak-anak lain di mana menurutnya, anak-anak lain itu kampungan, ngga keren, dll. OMG!. Akhirnya saya menemukan jawabannya mengapa sebulan terakhir itu anak perempuan saya yang biasanya sangat ceria menjadi pemurung dan enggan keluar rumah.

Baca kelanjutannya di artikel ini: Say No to Bullying

kedekatan dengan keluarga akan membuat anak merasa tidak sendirian saat mengalami bully

Hal di atas membuat saya tergelitik untuk kembali menulis topik tentang bullying. Sejak dulu saya memang sangat peduli dengan masalah ini dan berusaha sebanyak mungkin untuk berbagi agar semakin banyak anak-anak dan orang tua yang sadar akan bahaya bullying dan tergerak untuk membantu anak-anak yang menjadi korban bullying mau pun pelaku bullying itu sendiri karena menurut saya mereka sama-sama perlu bantuan dan perhatian kita.

Untuk tulisan kali ini, saya juga ingin berbagi mengenai kiat menangani bullying yang terjadi lewat sosial media atau biasa dikenal dengan cyberbullying. Ajarkan anak kita terutama yang sudah beranjak remaja untuk lebih bijaksana menggunakan media sosial dan kalau mereka sampai mengalami bully, lakukan beberapa hal di bawah ini:

Acuhkan
Katakan pada anak kita, jika ia menerima komentar atau apa pun yang bersifat bully di akun sosial media miliknya, minta dia untuk TIDAK merespon komentar tersebut. Saya pun meminta kakak untuk tidak membalas komentar negatif di video youtube tersebut. Seringkali pelaku bully memang menginginkan orang yang dia bully untuk marah dan akhirnya merasa sedih dan rendah diri.

Selain itu, kurangi waktu bermain gadget dan bersosialisasi di media sosial. Lebih baik gunakan waktu untuk berteman dengan teman sekolah dan teman rumah yang sudah jelas kebaikannya.

Adukan
Segera adukan kepada orang tua atau orang dewasa lain yang dipercaya jika mereka menerima perlakuan tidak baik di sosial media. Sebagai contoh, saya minta kakak untuk menceritakan apa pun yang membuatnya tidak nyaman, termasuk soal medsos ini. 

Hapus & Blokir
Hapus komentar-komentar yang tidak menyenangkan dan blok si pelaku bully. Namun, jika bully yang dilakukan sangat berat seperti pelecehan seksual dan ancaman pembunuhan misalnya, justru jangan hapus, namun simpan karena bisa dijadikan sebagai bukti saat kita ingin melaporkan kejadian tersebut kepada pihak yang berwenang seperti pihak sekolah bahkan polisi.

Jangan ikut-ikutan
Saat kita juga ikut menyebarkan suatu berita tidak benar dan berita yang menyakiti orang lain lewat media sosial artinya kita pun telah menjadi salah satu pelaku bully. Saya selalu mengingatkan anak-anak saya untuk tidak ikut-ikutan menjadi pelaku dan justru berani menasehati dan melaporkan jika ada hal yang mereka anggap tidak pantas.

Lebih dekat dengan Allah
Saat merasa dekat dengan Allah, biasanya kita juga akan dekat dengan ayah, ibu, serta adik, kakak dan saudara lainnya. Sayangi mereka serta jangan sungkan menceritakan hal-hal yang tidak nyaman dan mengganggu. Keluarga terutama orang tua adalah orang yang akan pertama kali berusaha membantu jika anaknya dalam kesulitan. Rasa tenang karena dekat dengan Allah, dekat dengan keluarga, akan membuat korban bullying merasa lebih kuat dan bisa melewati hal tersebut dengan baik.

Satu hal lagi, carilah kegiatan-kegiatan yang positif serta hobi yang bisa mengalihkan kita dari pikiran-pikiran negatif. 

Semoga kita, anak-anak kita terhindar dari bully dan tidak menjadi salah satu pelakunya. Amiinnn...

***

23 komentar:

Tatit mengatakan...

Makasih sharingnya Mbak.
Anakku kebetulan juga ABG, aku selalu mengingatkan abaikan komentar yang kasar.Nggak usah ikutan terpancing.

「Satria」 の お母さん mengatakan...

Yes Mbak Zata... Say No untuk Bullying. Makasih Mbak Zata sudah berbagi, bekal ayu untuk nuntun satria nanti. Thank you Mbak Zata^^

zata ligouw mengatakan...

sama-samaaa Tatit.., Ayu...

yup betul, jangan terpancing...

ratna dewi mengatakan...

Mbak Zata, aku nggak nyangka kalo mbak anaknya udah gede2 lho. Aku kirain masih mamah muda yg anaknya balita soalnya mukanya masih muda. Btw soal bullying anak sekarang emang parah-parah ya. Kalo nggak dipantau terus sama orangtuanya justru makin bahaya ya.

zata ligouw mengatakan...

aww makasih ratna dewi, jadi ge er, hehehe..

yap, bener banget, ortu memang harus rajin2 memantau anak2nya soal bullying ini..

bunda rizma mengatakan...

aamiiin...
makasih tipsnya ta. makin gede makin banyak aja yah 'gangguan' dari luar

Ophi Ziadah mengatakan...

Krucils terutama anak pertama blom masuk usia remaja, namun bullying sebetulnya bahkan sdh terjadi sejak mrk dini ya mak.
cm mmg klo cyberbelly banyak di usia remaja. Itulah kenapa kayaknya sy gak bakal mudah membiarkan mereka punya osc med dulu spy mrk siap.
pun tips2 tadi perlu banget jadi catatan saat tiba waktunya sy bilang Iya buat bikin akun sosmed.
remaja skarang "mulut/kata2' nya agak memperihatinkan

Liswanti Pertiwi mengatakan...

Tipsnya perlu banget dibaca sama adik adik saya neh yang sudah remaja.

Acuhkan dan dekat sama Tuhan adalah paling penting ya mba.

zata ligouw mengatakan...

@bunda rizma, iya stuju, anak makin gede nggak berarti kita makin santai yaa ;p

@Ophi Ziadah: kalau ciberbully memang seringnya kalau anak sudah bisa pakai internet ya mba.. pas masih lebih kecil, beda lagi bentuk bully-nya, orangtua harus hati2 dan harus sering bertukar pikiran sama anak biar bisa mencegah hal tsb terjadi atau berlanjut..

zata mengatakan...

@Liswanti Pertiwi: iya mba setuju. Makasih ya sudah mampir :)

Ruth Nina mengatakan...

Wah, tips ini berguna banget. Dudu masi sebatas kena bullying di sekolah sih, dan dia termasuk yang tidak perduli dengan sosmed apapun kecuali Youtube. Tapi artikel ini bisa juga untuk bullying offline lho. Terutama bagian acuhkan dan adukan. Thanks for sharing ya.

Jiah Al Jafara mengatakan...

Aku jg ngrasain sakitnya dibully

suria riza mengatakan...

duhhh...ini kalau dah remaja gini ya mbak anaknya...saya jadi ngerasa bersalah kadang..dulu sering ngebully temen pas sekolah :v

Riski ReeNgan mengatakan...

Saya pernah tidak sengaja membaca pesan di salah satu sosmed topnya remaja, isinya wow.. kata-kata yang saya enggak ngerti mereka bisa dg mudah mengucapkannya padahal itu menyakitkan banget & enggak sopan.
Sebagai orang tua yg bukan saudara, saya hanya bisa menasihati anak itu untuk menghapus pesan2 tersebut & tidak berhubungan lagi dg orang itu, trus ikut ekskul. Sama kyk tipsnya Mba Zata..

zata ligouw mengatakan...

@Jiah - aku pun pernah, waktu kecil dan pas udah gede :(

@suria - echaaaaa.... *melotot*

zata mengatakan...

@Riski - iya, sedih ya karena sepertinya sekarang anak2 dan remaja makin berani ngebully yang lainnya secara terang2an... sama-samaa...

zata ligouw mengatakan...

@Ruth Nina - iya bener Ruth... sama-samaa...

Sari Novita mengatakan...

cyber bullying termasuk verbal bullying..kemarin sy datang pas kampanye calling name bullying..cukup mengusik perhatian sy tentang kedua ini

zata ligouw mengatakan...

iya mba Sari Novita, sangat mengusik memang hal2 spt itu :(

Ani Berta mengatakan...

Mba, anakku suka bikin Slime juga lho dan suka lihat2 yutubnya, nama akun si kk apa? Jangan2 anakku suka nonton yutubnya juga nih :D
Tips cyberbullying nya bisa saya terapkan, makasih sharenya Mba

kaitlynnamberly mengatakan...

Kesel banget memang kadang liat komentar-komentar di dunia maya yang makin lama makin nyeremin dan kayak gak berpendidikan, dilihat profile nya rata-rata yang ninggalik komentar kayak gitu itu usia sekolah SD/SMP. Kadang bingung ya kok bisa kata-kata kayak gitu keluar dari mulut anak-anak umur segitu. Kita aja kesel bacanya, gimana org yang punya akun yg ditinggalin komentar kaya gitu ya? Emang bener sih kita nya harus lebih cuek ya, masa bodoh deh dengan orang-orang kaya gitu. Lihat yang positif aja. Thanks sharing nya mba zata..

zata ligouw mengatakan...

iyaaa mba kaitlyn, serem banget yaa :(

zata ligouw mengatakan...

@ani berta: akunnya sementara ditutup teh, jadi beberapa video dia diupload di channel youtube aku. Sila lihat2, ada tutorial bikin slime juga :)

Poskan Komentar