Adakah Kesehatan Tanpa Kesehatan Jiwa?


KESEHATAN JIWA REMAJA
“Dasar penghianat. Elu ngancem gue? Elu duluan yang mati!.” Wakss!!, saya tercekat membaca pesan di inbox facebook anak perempuan saya yang sedang menjelang remaja.  Pesan itu pun berasal dari teman dekatnya yang sering sekali main ke rumah kami. Saya baca lagi dengan teliti perbincangan di inbox tersebut antara kaka dan temannya yang berusia beberapa tahun lebih tua itu. (Baca cerita lengkapnya di sini)

Lain lagi dengan cerita abang Ken, anak laki-laki pertama saya yang kini sudah duduk di kelas 1 SMK. Ia pernah dipanggil 'cacat' dan 'codet' karena bekas luka memanjang di hidung dan pipinya akibat kecelakaan beberapa tahun silam. Bayangkan jika ia tidak tangguh dan bahagia, tidak punya dukungan dari keluarga, sekolah serta teman lainnya?. Bisa jadi hal tersebut berpengaruh terhadap kesehatan jiwanya.

Kisah di atas hanya sebagian dari beberapa hal yang pernah dialami oleh anak-anak remaja saya. Dan hal tersebut, yaitu bullying, hanya salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kesehatan jiwa selama masa remaja.

Dalam acara Temu Media Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2018 tanggal 2 Oktober lalu yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan, dikatakan bahwa tahun ini World Federation of Mental Health menetapkan fokus perayaan Hari Kesehatan Jiwa adalah GENERASI MUDA dan dampak dari perubahan dunia pada mereka.

Fokusnya sangat pas buat saya sebagai orangtua yang punya tiga anak dan dua diantaranya sudah remaja. Saya berharap informasi yang saya dapatkan lewat acara tersebut berguna buat saya maupun orang lain yang membaca blog ini.

Menurut UU No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan, kesehatan adalah keadaan sehat baik secara FISIK, MENTAL, SPIRITUAL, maupun SOSIAL yang memungkinkan setiap orang untuk hidup lebih produktif secara sosial dan ekonomis. Oleh karena itu, jawaban dari judul artikel blog ini adalah: TIDAK ADA KESEHATAN TANPA KESEHATAN JIWA.

Anak-anak muda di era digital ini menghabiskan banyak waktu di internet sehingga mereka juga lebih rentan terhadap kejahatan cybercyber bullying serta kecanduan video game yang bertema kekerasan.

KONDISI KESEHATAN JIWA PADA REMAJA
Data yang didapat dari Yayasan Kita dan Buah Hati menunjukan fakta yang mengejutkan. Dari 2596 siswa sekolah dasar di Jabodetabek yang menjadi responden, 97% diantaranya mengaku pernah melihat pornografi. Terkait data bullying di sekolah, 84% siswa mengaku pernah mengalami kekerasan di sekolah.

Jika keluarga kurang memahami tantangan di atas, keluarga bisa saja gagal memberikan pendampingan dan arahan yang tepat bagi para remaja tersebut. Hal ini berakibat remaja tersebut sulit menghadapi tantangan zaman dan ada kemungkinan mereka mengalami masalah kesehatan jiwa jika tidak ditangani secara dini.

Gangguan mental emosional adalah masalah yang cukup besar di Indonesia. Masalah pikiran, perasaan dan perilaku yang dapat membuat kesulitan menjalani peran dan kehidupan sehari-hari seperti kesulitan tidur, ketegangan sebagian besar tubuh, kurangnya semangat, berkurangnya energi dan tidak adanya minat pada kesenangan.

Menurut ibu Eka Viora, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Se-Indonesia, ada beberapa fakta kunci menganai kesehatan jiwa remaja Indonesia, antara lain:
  • 1 di antara 6 anak usia 10-19 tahun mengalami masalah kesehatan jiwa
  • 16% global burden disease and injury terjadi pada usia 10-19 tahun
  • Separuh dari kondisi kesehatan jiwa dimulai pada usia 14 tahun namun sebagian besar tidak terdeteksi
  • Secara global depresi adalah satu dari penyebab penyakit dan disabilitas pada remaja 
  • Bunuh diri merupakan penyebab ketiga terbesar kematian pada usia 15-19 tahun
  • Dampak jika kondisi kesehatan jiwa remaja berlanjut hingga dewasa muda dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mentalnya hingga menyebabkan terbatasnya kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik saat usia dewasa
  • Promotif dan preventif kesehatan jiwa merupakan kunci untuk membantu remaja berkembang

Sebenarnya kebanyakan remaja memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik, namun akibat kemiskinan, pelecehan, atau tindak kekerasan menyebabkan remaja rentan terhadap masalah kesehatan jiwa.

Salah satu cara melindungi mereka adalah dengan meningkatkan psychological well-being agar mereka terhindar dari pengalaman buruk dan faktor risiko yang dapat mempengaruhi potensi mereka untuk berkembang dan mendapatkan kesehatan fisik dan mental yang baik saat masa dewasa.
Ibu Eka, bpk Fidiansjah, dan bpk Indra Rizon.

DETERMINAN KESEHATAN JIWA
Masa remaja merupakan masa yang penuh perubahan misalnya harus meninggalkan rumah untuk kuliah atau bekerja. Atau yang tinggal di daerah dan terkena dampak darurat kemanusiaan seperti konflik, bencana alam, dan lain-lain.

Faktor lainnya yang dapat berkontribusi pada kesehatan jiwa selama masa remaja adalah:

  • Keinginan memiliki otonomi yang lebih besar
  • Tekanan untuk menyesuaikan diri dengan teman
  • Eksplorasi identitas seksual
  • Peningkatan akses dan penggunaan teknologi
  • Pengaruh teknologi dan norma-norma gender
  • Kualitas kehidupan dalam keluarga
  • Hubungan dengan teman sebaya
  • Tindak kekerasan seperti pola asuh yang salah, penganiayaan, kekerasan seksual, bullying, dll
  • Stigma, diskriminasi, serta kurangnya akses pada dukungan dan layanan
  • Remaja dengan penyakit kronis, spektrum autism disorder, disabilitas intelektual, kawin paksa dan masih banyak lagi

PERILAKU BERISIKO
Sebagai orangtua kita perlu mengetahui risk-taking behaviours atau perilaku berisiko pada anak remaja serta dewasa muda kita.

Banyak perilaku berisiko seperti penggunaan zat terlarang atau pun perilaku seksual tak lazim yang dimulai saat masa remaja. Dengan perilaku seksual berisiko itu juga meningkatkan risiko infeksi menular seksual, HIV/AIDS dan kehamilan usia dini.

Kehamilan usia dini sendiri merupakan penyebab utama kematian pada remaja putri dan perempuan muda karena melahirkan dan aborsi tak aman.

Pengaruh teman sebaya dan kemiskinan serta paparan pada kekerasan dapat meningkatkan kemungkinan terlibat dalam perilaku berisiko.

Penggunaan zat yang merugikan seperti alkohol dan NAPZA menjadi keprihatinan utama di banyak negara. Data dari 130 negara pada 2016 diperkirakan 5,6% remaja usia 15-16 tahun telah menggunakan ganja setidaknya sekali.

UPAYA PROMOTIF & PREVENTIF
Pencegahan terjadinya gangguan jiwa pada remaja dan dewasa muda perlu diawali dengan pemahaman yang benar serta langkah yang tepat. Peran pemerintah menjadi sangat penting untuk mendorong upaya investasi jangka panjang yang menentukan kokohnya bangsa ini.

Tak hanya itu, partisipasi berbagai sektor, elemen masyarakat, serta kalangan profesional juga sangat dibutuhkan untuk mendukung pemerintah.

Nah, upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan intervensi untuk meningkatkan kesehatan jiwa remaja. Upaya promotif kesehatan jiwa dapat membantu remaja dalam membangun ketahanan sehingga mereka dapat mengatasi masalah dalam situasi sulit dan tertekan.

Bentuk upaya promotif dan preventif misalnya dengan intervensi pada keluarga misalnya caregiver skills training.

Intervensi berbasis sekolah seperti perubahan organisasi lingkungan psikologis yang aman dan positif. Pengajaran tentang kesehatan jiwa dan keterampilan hidup. Pelatihan staff dalam deteksi dan dasar manajemen risiko bunuh diri, dan masih banyak lagi.

Panduan metode tatap muka dan dukungan sendiri, termasuk intervensi kesehatan jiwa elektronik, bisa menjadi alternatif pilihan mengingat pandangan negatif kebanyakan orang tentang kesehatan jiwa sehingga banyak remaja yang pastinya enggan untuk mengakses layanan kesehatan jiwa.

Yuk, kita jadikan generasi muda bangsa ini sebagai generasi yang bahagia, tangguh dan sehat jiwa sehingga mampu menghadapi perubahan dunia dan turut membangun Indonesia di masa depan.

******

BACA JUGA:






Posted By

0 comments